Negerikami.id – Bagi pencinta makanan pedas, Ayam Taliwang mungkin terlihat seperti hidangan yang sengaja dibuat untuk menguji keberanian. Ayam kampung muda dibakar, kemudian dilumuri bumbu merah yang kaya cabai, bawang, terasi dan rempah. Namun di balik rasa pedasnya, tersimpan cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar resep keluarga atau menu rumah makan.
Yang menarik, nama Ayam Taliwang juga menyimpan perdebatan soal asal-usulnya. Hidangan ini sangat lekat dengan Lombok, tetapi jejak sejarahnya berkaitan dengan masyarakat Taliwang dari Sumbawa Barat dan kawasan Karang Taliwang di Mataram. Penelitian akademik bahkan mencatat bahwa sejarah dan perkembangan Ayam Taliwang memiliki lebih dari satu versi.
1. Kisahnya Berkaitan dengan Perang Kerajaan
Salah satu kisah yang paling sering dicatat menyebut Ayam Taliwang berkaitan dengan konflik antara Kerajaan Selaparang di Lombok dan Kerajaan Karangasem Bali. Pasukan dari Taliwang kemudian datang ke Lombok untuk membantu Selaparang. Mereka tidak hanya membawa prajurit, tetapi juga pemuka agama, juru kuda dan juru masak.
Dari sinilah muncul cerita menarik tentang makanan yang disiapkan para juru masak untuk pasukan. Ayam diolah menggunakan bahan yang tersedia di sekitar mereka, termasuk cabai, bawang dan terasi. Seiring waktu, makanan tersebut berkembang dan berbaur dengan lingkungan masyarakat Lombok. Kisah inilah yang kemudian membuat Ayam Taliwang sering disebut memiliki jejak sejarah yang berkaitan dengan hubungan antara Taliwang, Selaparang dan Karang Taliwang.
2. Nama “Taliwang” Ternyata Punya Jejak Sumbawa
Ini bagian yang sering membuat orang keliru. Meski sekarang Ayam Taliwang dikenal luas sebagai kuliner khas Lombok, komunitas Karang Taliwang di Mataram memiliki leluhur yang berasal dari wilayah Taliwang, Sumbawa Barat. Pemerintah NTB juga mencatat Ayam Taliwang sebagai makanan khas Taliwang, Sumbawa Barat, yang kemudian populer di Kota Mataram dan Lombok.
Karena itu, menyebut Ayam Taliwang hanya sebagai makanan “milik satu daerah” tidak sepenuhnya menggambarkan perjalanan sejarahnya. Kuliner ini justru menunjukkan bagaimana perpindahan masyarakat dapat membawa resep, teknik memasak dan identitas baru. Lombok kemudian menjadi tempat penting bagi perkembangan Ayam Taliwang hingga dikenal luas seperti sekarang.
3. Pedasnya Datang dari Bumbu yang Tidak Main-Main
Rahasia karakter Ayam Taliwang berada pada bumbunya. Sumber ANTARA mencatat penggunaan cabai merah kering, bawang merah, bawang putih, tomat, terasi goreng, kencur, gula merah dan garam dalam olahannya. Bahan-bahan tersebut menghasilkan kombinasi rasa pedas, gurih, sedikit manis dan aroma rempah yang kuat.
Karena itu, istilah “pedas ekstrem” memang menarik untuk menggambarkan pengalaman sebagian penikmat, tetapi tingkat kepedasan sebenarnya dapat berbeda antara satu penjual dan lainnya. Pemerintah NTB bahkan mencatat pengunjung dari luar daerah yang menyukai Ayam Taliwang karena rasa khas dan pedasnya.
4. Ayam Taliwang Mulai Berkembang sebagai Kuliner Kota
Cerita Ayam Taliwang tidak berhenti pada masa kerajaan. Penelitian mengenai sejarah kuliner ini mencatat perkembangannya di Karang Taliwang dan Mataram, termasuk kemunculan penjual pada sekitar dekade 1960-an. Salah satu nama yang kerap muncul dalam sejarah perkembangan kuliner tersebut adalah Nini Manawiyah.
Dari makanan yang berkembang di lingkungan masyarakat, Ayam Taliwang kemudian masuk ke warung, rumah makan dan industri kuliner. Pemerintah NTB bahkan pernah mendorong pengembangan Ayam Taliwang dalam bentuk kemasan steril agar dapat bertahan lebih lama dan dipasarkan lebih luas. Pada 2021, salah satu produk Ayam Taliwang kemasan disebut mampu memiliki masa simpan sekitar 6–7 bulan setelah melalui proses sterilisasi.
5. Ayam Taliwang Bukan Cuma Soal Rasa Pedas
Hal paling menarik justru ada pada perjalanan budayanya. Ayam Taliwang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui SK No. 186/M/2015, dengan provinsi pencatatan Nusa Tenggara Barat. Artinya, makanan ini bukan hanya dipandang sebagai menu komersial, tetapi juga bagian dari pengetahuan dan warisan budaya yang perlu dijaga.
Di meja makan, Ayam Taliwang biasanya ditemani pelengkap khas seperti plecing kangkung dan beberuk terong. Perpaduan ayam berbumbu kuat dengan sayuran dan sambal membuat pengalaman makannya semakin lengkap. Dari sebuah makanan yang memiliki cerita panjang, Ayam Taliwang akhirnya berubah menjadi salah satu simbol kuliner NTB yang dikenal jauh melampaui Lombok.
Penutup
Ayam Taliwang ternyata menyimpan cerita yang jauh lebih kompleks daripada sekadar ayam bakar bercita rasa pedas. Ada perpindahan masyarakat Taliwang, sejarah Karang Taliwang, percampuran budaya, perkembangan kuliner sejak sekitar 1960-an hingga pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda.
Jadi, ketika sepiring Ayam Taliwang hadir dengan warna merah dan aroma terasi yang kuat, yang sedang disantap bukan hanya rasa pedas. Ada perjalanan sejarah panjang yang ikut membentuk identitas kuliner Lombok dan NTB hingga hari ini.
Sumber Referensi
- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi — Warisan Budaya: Ayam Taliwang https://budaya.data.kemdikbud.go.id/wbtb/objek/AA000636
- Kemendikbud – Inventarisasi Perlindungan Karya Budaya Kuliner Ayam Taliwang Provinsi Nusa Tenggara Barat https://repositori.kemendikdasmen.go.id/27258/2/Inventarisasi%20Perlindungan%20Karya%20Budaya%20Kuliner%20Ayam%20Taliwang%20Propinsi%20NTB.pdf
- Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat – Geliat Industrialisasi, Gubernur NTB Resmikan Rumah Produksi Ayam Taliwang Kemasan https://ntbprov.go.id/index.php/post/geliat-industrialiasi-gubernur-ntb-resmikan-rumah-produksi-ayam-taliwang-kemasan

