Poteng Jaje Tujak merupakan kuliner tradisional khas Lombok yang memadukan tape ketan dengan ketan tumbuk bercita rasa gurih. Masyarakat Sasak menjadikan Poteng Jaje Tujak sebagai sajian penting dalam perayaan Lebaran, acara adat, dan kegiatan keluarga karena makanan tersebut menyimpan nilai budaya sekaligus identitas kuliner daerah. Hidangan tersebut menghadirkan perpaduan rasa manis, sedikit asam, dan tekstur legit yang terus dipertahankan oleh masyarakat Lombok hingga sekarang.
Poteng Jaje Tujak Menjadi Identitas Kuliner Suku Sasak
Masyarakat Lombok mengenal Poteng Jaje Tujak sebagai makanan tradisional berbahan dasar beras ketan. Nama “poteng” merujuk pada tape ketan hasil fermentasi, sedangkan “jaje tujak” merujuk pada ketan tumbuk yang memiliki tekstur kenyal dan lembut. Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat menjelaskan bahwa hidangan tersebut sering hadir dalam acara keagamaan dan tradisi masyarakat Lombok (Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTB, 2026).
Masyarakat Sasak mempertahankan Poteng Jaje Tujak sebagai simbol kebersamaan keluarga saat Hari Raya Idul Fitri dan Lebaran Ketupat. Tradisi tersebut membuat Poteng Jaje Tujak tidak sekadar menjadi makanan ringan, tetapi juga bagian dari warisan budaya daerah.
Beberapa ciri khas Poteng Jaje Tujak meliputi:
- Poteng menggunakan tape ketan putih yang difermentasi selama beberapa hari.
- Jaje tujak menggunakan campuran ketan dan kelapa parut yang ditumbuk.
- Masyarakat menyajikan makanan menggunakan daun pisang agar aroma lebih harum.
- Hidangan menghadirkan perpaduan rasa manis, gurih, dan sedikit asam.
- Tradisi Sasak menjadikan makanan sebagai suguhan tamu saat perayaan besar.
Masyarakat Lombok juga mengaitkan proses pembuatan poteng dengan nilai kesucian dan tradisi turun-temurun. (Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTB, 2026)
Proses Pembuatan Poteng Jaje Tujak Khas Lombok
Masyarakat Lombok membuat Poteng Jaje Tujak melalui dua tahapan utama, yaitu proses fermentasi poteng dan proses penumbukan jaje tujak. Proses tersebut membutuhkan ketelitian agar rasa dan tekstur tetap autentik.
Poteng Menghasilkan Rasa Manis dan Aroma Fermentasi
Pembuat makanan menggunakan beras ketan putih sebagai bahan utama poteng. Proses fermentasi menghasilkan rasa manis sekaligus sedikit asam yang menjadi ciri khas hidangan. Masyarakat biasanya menggunakan ragi tape dan daun saga atau daun suji untuk memberikan warna serta aroma alami pada poteng. (detikBali, 2023)
Tahapan pembuatan poteng meliputi:
- Beras ketan direndam semalaman sebelum dikukus.
- Pembuat makanan menambahkan ragi tape setelah ketan dingin.
- Proses fermentasi berlangsung selama dua hingga tiga hari.
- Poteng menghasilkan cairan manis dengan aroma khas tape.
Masyarakat Lombok menjaga kebersihan alat dan bahan selama fermentasi agar kualitas poteng tetap baik.
Jaje Tujak Menghadirkan Tekstur Legit dan Gurih
Pembuat makanan mencampurkan beras ketan dengan kelapa parut untuk membuat jaje tujak. Setelah proses pengukusan selesai, masyarakat menumbuk ketan menggunakan lumpang kayu hingga tekstur menjadi lembut dan lengket.
Kata “tujak” dalam bahasa Sasak berarti menumbuk dalam tradisi masyarakat Lombok. (Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTB, 2026) Proses tersebut menciptakan tekstur khas yang membedakan jaje tujak dari olahan ketan lain di Indonesia.
Beberapa bahan utama jaje tujak meliputi:
- Beras ketan putih.
- Beras ketan hitam.
- Kelapa parut.
- Garam secukupnya.
- Daun pisang sebagai pembungkus.
Tradisi Lebaran Membuat Poteng Jaje Tujak Tetap Populer
Poteng Jaje Tujak memiliki hubungan kuat dengan tradisi Lebaran masyarakat Lombok. Banyak keluarga Sasak membuat hidangan tersebut menjelang Hari Raya Idul Fitri dan Lebaran Ketupat. Masyarakat Lombok menganggap perayaan Lebaran terasa kurang lengkap tanpa kehadiran Poteng Jaje Tujak. (detikBali, 2023)
Tradisi tersebut memperlihatkan bahwa makanan tradisional dapat menjadi simbol identitas budaya daerah. Poteng Jaje Tujak juga menjadi media silaturahmi karena masyarakat sering menyuguhkan hidangan kepada tamu yang datang berkunjung.
Nilai Budaya Poteng Jaje Tujak dalam Kehidupan Masyarakat Sasak
Masyarakat Sasak memandang proses pembuatan poteng sebagai kegiatan yang sarat nilai budaya. Beberapa kepercayaan lokal mengharuskan pembuat makanan menjaga kesucian selama proses fermentasi agar hasil poteng tetap baik. Tradisi tersebut masih dipercaya oleh sebagian masyarakat Lombok hingga sekarang. (Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTB, 2026)
Tradisi tersebut menunjukkan bahwa makanan tradisional memiliki hubungan erat dengan nilai sosial dan budaya masyarakat setempat.
Poteng Jaje Tujak Mendukung Wisata Kuliner Lombok
Poteng Jaje Tujak membantu memperkuat citra Lombok sebagai destinasi wisata kuliner Nusantara. Wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara sering mencari makanan tradisional untuk memahami budaya daerah secara langsung.
Poteng Jaje Tujak menjadi salah satu kuliner khas yang sering dipromosikan dalam sektor ekonomi kreatif daerah Lombok. (Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTB, 2026)
Poteng Jaje Tujak memiliki beberapa daya tarik wisata kuliner, antara lain:
- Rasa autentik khas Lombok.
- Proses fermentasi tradisional.
- Penggunaan bahan alami lokal.
- Penyajian menggunakan daun pisang.
- Nilai budaya yang melekat pada tradisi masyarakat Sasak.
Wisata kuliner berbasis budaya memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat lokal karena makanan tradisional mampu menarik minat wisatawan.
Poteng Jaje Tujak Menjadi Warisan Kuliner Nusantara
Poteng Jaje Tujak menunjukkan bahwa kuliner tradisional Indonesia memiliki keberagaman rasa dan filosofi budaya. Hidangan tersebut menghadirkan kombinasi antara teknik fermentasi, penggunaan bahan lokal, dan tradisi masyarakat Sasak yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Masyarakat Lombok mempertahankan Poteng Jaje Tujak melalui tradisi keluarga, kegiatan adat, dan perayaan keagamaan. Upaya tersebut membantu menjaga identitas budaya daerah di tengah perkembangan makanan modern.
Generasi muda juga mulai mengenalkan Poteng Jaje Tujak melalui media sosial dan promosi wisata kuliner daerah. Langkah tersebut membantu memperluas popularitas kuliner khas Lombok kepada masyarakat Indonesia maupun wisatawan asing.
Poteng Jaje Tujak tidak hanya menghadirkan rasa manis dan gurih, tetapi juga menyimpan cerita budaya masyarakat Sasak yang kaya tradisi. Kehadiran makanan tersebut membuktikan bahwa kuliner tradisional dapat menjadi bagian penting dari identitas daerah sekaligus daya tarik wisata budaya.
Pembaca dapat menemukan informasi menarik lainnya mengenai budaya, kuliner, dan tradisi Nusantara di Negeri Kami. Artikel lain di Negeri Kami juga menghadirkan pembahasan lengkap tentang makanan khas daerah Indonesia yang kaya sejarah dan nilai budaya.
Referensi

