Angeun Lada Khas Pandeglang Banten, Kuliner Pedas Legendaris Beraroma Daun Walang yang Jadi Warisan Budaya

Angeun Lada Khas Pandeglang Banten, Kuliner Pedas Legendaris Beraroma Daun Walang yang Jadi Warisan Budaya

Last Updated: 1 June 2026, 06:20

Bagikan:

Angeun Lada Pandeglang Banten
Angeun Lada tidak hanya menghadirkan cita rasa pedas yang khas, tetapi juga merepresentasikan warisan kuliner masyarakat Pandeglang yang tetap lestari di tengah perkembangan zaman. Sumber gambar: Wikipedia

Angeun Lada merupakan kuliner khas Kabupaten Pandeglang, Banten, yang dikenal karena cita rasa pedas, rempah yang kuat, serta aroma khas daun walang. Hidangan tradisional ini masih sering disajikan dalam berbagai acara keluarga, perayaan keagamaan, hingga kegiatan adat masyarakat karena memiliki nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun (Pemerintah Provinsi Banten, 2024).

Angeun Lada Menjadi Kuliner Khas Pandeglang yang Tetap Bertahan di Tengah Modernisasi

Angeun Lada berasal dari bahasa Sunda, yaitu kata angeun yang berarti sayur atau masakan berkuah dan kata lada yang berarti pedas. Nama tersebut menggambarkan karakter utama hidangan yang memiliki kuah pedas dengan aroma rempah yang khas (Pemerintah Provinsi Banten, 2024).

Masyarakat Pandeglang menjadikan Angeun Lada sebagai salah satu identitas kuliner daerah yang masih dipertahankan hingga saat ini. Keberadaan makanan tersebut menunjukkan bahwa kuliner tradisional tetap memiliki tempat di tengah perkembangan makanan modern yang semakin beragam (Banten Hay, 2025).

Beberapa faktor yang membuat Angeun Lada tetap dikenal hingga sekarang antara lain:

  • Resep diwariskan dari generasi ke generasi.
  • Hidangan sering disajikan dalam acara keluarga dan tradisi masyarakat.
  • Kuliner khas daerah terus diperkenalkan kepada generasi muda.
  • Promosi wisata dan budaya turut mendukung pelestarian makanan tradisional.

Keberlanjutan Angeun Lada menjadi bukti bahwa warisan kuliner lokal masih memiliki nilai penting dalam kehidupan masyarakat Banten (Banten Hay, 2025).

Sejarah Angeun Lada Berkaitan Erat dengan Tradisi Masyarakat Banten

Angeun Lada telah dikenal sejak lama sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Pandeglang. Hidangan tersebut berkembang di lingkungan masyarakat pedesaan dan sering hadir dalam berbagai kegiatan bersama yang melibatkan keluarga maupun warga sekitar (Banten Hay, 2025).

Tradisi memasak Angeun Lada biasanya dilakukan secara gotong royong ketika masyarakat menyelenggarakan hajatan, syukuran, atau perayaan tertentu. Aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa makanan tidak hanya berfungsi sebagai kebutuhan konsumsi, tetapi juga sebagai sarana untuk mempererat hubungan sosial antarwarga (Banten Hay, 2025).

Nilai budaya yang melekat pada Angeun Lada membuat kuliner tersebut mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2016. Pengakuan tersebut memperkuat posisi Angeun Lada sebagai bagian penting dari identitas budaya masyarakat Pandeglang dan Banten secara umum (iNews Pandeglang, 2025).

Cita Rasa Angeun Lada Berasal dari Rempah Tradisional dan Daun Walang

Angeun Lada memiliki cita rasa yang khas karena memadukan berbagai rempah Nusantara dengan bahan utama berupa daging maupun jeroan. Perpaduan tersebut menghasilkan kuah yang gurih, pedas, dan kaya aroma sehingga mudah dikenali oleh masyarakat Banten (Pemerintah Provinsi Banten, 2024).

Bahan yang umum digunakan dalam pembuatan Angeun Lada meliputi:

  • Daging sapi atau kerbau.
  • Jeroan sapi atau kerbau.
  • Cabai merah.
  • Cabai rawit.
  • Bawang merah.
  • Bawang putih.
  • Lengkuas.
  • Jahe.
  • Kencur.
  • Serai.
  • Daun salam.
  • Daun walang.

Daun walang menjadi salah satu bahan yang paling membedakan Angeun Lada dari kuliner berkuah lainnya. Kehadiran daun tersebut menghasilkan aroma khas yang memperkaya rasa dan menjadi ciri utama hidangan khas Pandeglang ini (Pemerintah Provinsi Banten, 2024).

Kuah Angeun Lada biasanya berwarna kemerahan karena penggunaan cabai dan rempah dalam jumlah yang cukup banyak. Kombinasi rasa pedas dan gurih tersebut membuat hidangan ini cocok disantap bersama nasi hangat dalam berbagai suasana (iNews Pandeglang, 2025).

Angeun Lada Selalu Hadir dalam Berbagai Acara Penting Masyarakat

Angeun Lada tidak hanya disajikan sebagai makanan sehari-hari. Hidangan tersebut juga sering hadir dalam berbagai acara yang melibatkan keluarga besar maupun masyarakat setempat.

Beberapa kegiatan yang identik dengan penyajian Angeun Lada meliputi:

  • Perayaan Idulfitri.
  • Acara syukuran keluarga.
  • Pernikahan.
  • Khitanan.
  • Hajatan masyarakat.
  • Tradisi makan bersama warga desa.

Kehadiran Angeun Lada dalam berbagai acara menunjukkan bahwa makanan tradisional memiliki fungsi sosial yang kuat dalam kehidupan masyarakat. Hidangan tersebut menjadi simbol kebersamaan sekaligus sarana untuk mempererat hubungan antaranggota keluarga dan warga sekitar (Pemerintah Provinsi Banten, 2024).

Tradisi menyajikan Angeun Lada juga memperlihatkan bahwa kuliner dapat menjadi media pelestarian budaya yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya (Banten Hay, 2025).

Pelestarian Angeun Lada Menjadi Tantangan di Era Kuliner Modern

Perkembangan industri makanan modern menghadirkan tantangan bagi keberlangsungan kuliner tradisional daerah. Banyaknya pilihan makanan membuat sebagian generasi muda semakin jarang mengenal hidangan khas yang berasal dari daerahnya sendiri.

Meski demikian, berbagai upaya pelestarian terus dilakukan agar Angeun Lada tetap dikenal masyarakat luas. Promosi melalui media digital, pengembangan wisata kuliner, serta pengenalan makanan tradisional dalam berbagai kegiatan budaya menjadi langkah yang dilakukan untuk menjaga eksistensi hidangan tersebut (iNews Pandeglang, 2025).

Beberapa upaya pelestarian yang terus dilakukan antara lain:

  • Mengenalkan kuliner tradisional kepada generasi muda.
  • Memanfaatkan media digital untuk promosi budaya.
  • Mengembangkan wisata kuliner daerah.
  • Mendukung pelaku usaha makanan tradisional.
  • Memperkuat edukasi mengenai warisan budaya lokal.

Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga keberadaan Angeun Lada sebagai salah satu kekayaan kuliner khas Banten yang memiliki nilai sejarah dan budaya tinggi (Pemerintah Provinsi Banten, 2024).

Angeun Lada Menjadi Simbol Kekayaan Kuliner dan Budaya Banten

Angeun Lada menunjukkan bahwa kuliner tradisional tidak hanya menawarkan cita rasa yang unik, tetapi juga menyimpan sejarah dan identitas budaya masyarakat setempat. Perpaduan rempah, kuah pedas, serta aroma khas daun walang menjadikan hidangan ini memiliki karakter yang berbeda dibandingkan makanan berkuah lainnya di Indonesia (Pemerintah Provinsi Banten, 2024).

Pelestarian Angeun Lada menjadi bagian penting dalam menjaga warisan budaya yang telah hidup selama bertahun-tahun di tengah masyarakat Pandeglang. Keberadaan kuliner tersebut membuktikan bahwa makanan tradisional dapat menjadi simbol identitas daerah sekaligus penghubung antara generasi masa lalu dan masa kini (iNews Pandeglang, 2025).

Baca juga berbagai artikel budaya, tradisi, dan kuliner Nusantara lainnya di Negeri Kami untuk menemukan kisah menarik dari berbagai daerah di Indonesia. Informasi yang beragam dapat membantu meningkatkan apresiasi terhadap warisan budaya yang masih lestari hingga saat ini.

Jangan lewatkan artikel terbaru di Negeri Kami yang membahas kuliner tradisional, destinasi wisata budaya, serta tradisi masyarakat lokal dari berbagai penjuru Nusantara. Dukungan pembaca turut membantu menjaga eksistensi informasi budaya agar tetap dikenal oleh generasi mendatang.

Referensi

Search

Video

Budaya Detail

Banten

Kuliner

Banten

Budaya

Budaya Lainnya