Negerikami.id – Ada alasan mengapa jajanan sederhana ini masih dicari ketika makanan modern terus bermunculan. Serabi Solo bukan hanya soal tepung beras dan santan yang dimasak di atas tungku, tetapi juga tentang resep yang bertahan melewati pergantian generasi. Bahkan, Serabi Notosuman resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2021 melalui SK Nomor 372/M/2021. (Referensi Data Kemendikdasmen)
Yang membuat kisahnya menarik, sejarah Serabi Notosuman bermula pada 1923 dari pasangan Hoo Geng Hok dan Tan Giok Lan. Awalnya mereka menerima pesanan apem dari tetangga, sebelum kemudian mengembangkan bentuk dan resep yang akhirnya dikenal sebagai serabi. Dari sebuah usaha rumahan, jajanan tersebut berkembang menjadi salah satu ikon kuliner Solo. (Referensi Data Kemendikdasmen)
1. Umurnya Sudah Lebih dari 100 Tahun
Kalau menghitung dari 1923 hingga 2026, tradisi Serabi Notosuman telah melewati lebih dari satu abad. Angka ini menjadi salah satu alasan mengapa kisahnya tidak bisa dipandang sebagai tren kuliner sesaat.
Menurut dokumentasi resmi Warisan Budaya, resep tersebut terus diwariskan hingga generasi keempat. Yang dipertahankan bukan sekadar nama, tetapi juga perhatian terhadap bahan, rasa, bentuk, dan proses pembuatannya. (Referensi Data Kemendikdasmen)
Menariknya, kelahiran serabi ini justru berawal dari sesuatu yang sederhana. Pesanan apem dari tetangga berkembang menjadi eksperimen membuat bentuk yang lebih pipih. Respons masyarakat ternyata positif, sehingga serabi kemudian menjadi fokus usaha keluarga tersebut. (Budaya Kemdikbud)
2. Bahannya Sederhana, tetapi Resepnya Tidak Sembarangan
Sekilas, bahan Serabi Notosuman terdengar biasa saja. Dokumentasi pemerintah mencatat bahan yang digunakan antara lain tepung beras, pandan, gula, santan, garam, dan vanila. Kesederhanaan tersebut justru menjadi bagian dari karakter makanan ini. (Referensi Data Kemendikdasmen)
Salah satu hal yang menarik adalah penggunaan beras Cendani yang kemudian ditumbuk sendiri untuk menghasilkan tepung. Proses tersebut menunjukkan bahwa kualitas makanan tradisional tidak selalu ditentukan oleh banyaknya bahan, melainkan bagaimana bahan sederhana diperlakukan. (Referensi Data Kemendikdasmen)
Proses memasaknya juga memiliki karakter tersendiri. Dokumentasi Warisan Budaya mencatat serabi dimasak menggunakan wajan kecil dari tanah liat di atas tungku dengan arang. Cara tersebut menjadi bagian dari keterampilan tradisional yang membentuk cita rasanya. (Referensi Data Kemendikdasmen)
3. Tidak Banyak Varian, Justru Itu Rahasianya
Di tengah tren makanan yang berlomba menghadirkan berbagai topping, Serabi Notosuman mengambil jalan berbeda. Dokumentasi resmi mencatat bahwa produk ini mempertahankan dua varian utama, yaitu original dan cokelat. (Referensi Data Kemendikdasmen)
Keputusan tersebut cukup menarik. Secara bisnis, menambah banyak rasa mungkin terlihat seperti cara mudah mengikuti selera zaman. Namun, bagi pengelola Serabi Notosuman, terlalu banyak variasi justru berpotensi menghilangkan karakter rasa yang sudah diwariskan.
Pernah ada percobaan menambahkan nangka. Namun, rasa nangka dianggap terlalu dominan sehingga menutupi karakter serabi. Akhirnya, varian tersebut tidak diteruskan. (Kemdikbud Data Reference)
Di sinilah letak “kontroversinya”: tidak semua makanan tradisional harus dibuat kekinian agar tetap relevan. Kadang-kadang, mempertahankan resep lama justru menjadi strategi paling kuat.
4. Namanya Berasal dari Tempat, Bukan Sekadar Merek
Nama “Notosuman” juga memiliki cerita geografis. Serabi tersebut dahulu dibuat dan dijual di kawasan Notosuman, nama yang kemudian berubah menjadi Jalan Mohammad Yamin di Solo. Nama kawasan lama itu kemudian melekat menjadi identitas produk. (Referensi Data Kemendikdasmen)
Hal tersebut memperlihatkan hubungan erat antara makanan dan ruang kota. Nama sebuah kawasan dapat bertahan dalam ingatan masyarakat melalui makanan, bahkan ketika nama jalannya sendiri sudah berubah.
Pemerintah Kota Surakarta juga memasukkan Serabi Solo dalam daftar kuliner khas kota tersebut bersama makanan tradisional lain seperti nasi liwet, timlo, cabuk rambak, dan selat Solo. (DPRD Surakarta)
5. Bukan Sekadar Jajanan, tetapi Warisan Budaya
Status Warisan Budaya Takbenda menjadi bukti bahwa nilai serabi tidak berhenti pada rasa. Pemerintah mencatat Serabi Notosuman ditetapkan sebagai WBTb pada 2021 dalam domain kemahiran dan kerajinan tradisional. (Referensi Data Kemendikdasmen)
Warisan tersebut mencakup pengetahuan dan keterampilan yang diwariskan. Dalam kasus serabi, proses pembuatan, resep, pemilihan bahan, hingga kesinambungan antargenerasi menjadi bagian penting dari cerita budaya.
Menariknya, Serabi Notosuman juga dikenal sebagai oleh-oleh khas Solo. Produk tersebut dikemas dengan cara digulung dan dibungkus daun pisang, sebuah pilihan sederhana yang sekaligus membantu menjaga karakter penyajiannya. (Budaya Kemdikbud)
Kenapa Serabi Solo Masih Dicari?
Jawabannya bukan karena makanan ini mengikuti semua tren. Justru sebaliknya.
Serabi Solo bertahan karena memiliki identitas yang jelas. Rasanya konsisten, prosesnya memiliki karakter, sejarahnya panjang, dan ceritanya diwariskan bersama produk tersebut.
Di tengah maraknya makanan viral yang bisa berganti dalam hitungan minggu, keberadaan jajanan yang mampu bertahan selama lebih dari 100 tahun menjadi sesuatu yang menarik. Popularitasnya tidak hanya dibangun oleh media sosial, tetapi juga oleh kebiasaan masyarakat yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Itulah perbedaan antara makanan yang sekadar viral dan makanan yang memiliki akar budaya.
Penutup
Serabi Solo membuktikan bahwa makanan sederhana tidak selalu berarti biasa. Sejak dirintis pada 1923, tradisi pembuatannya berkembang dari usaha keluarga menjadi bagian dari identitas kuliner Surakarta.
Lima alasan tersebut menunjukkan mengapa jajanan ini tetap menarik: sejarahnya panjang, bahannya sederhana, resepnya dijaga, namanya melekat pada ruang kota, dan statusnya kini diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda.
Mungkin justru di tengah dunia kuliner yang semakin cepat berubah, kekuatan Serabi Solo terletak pada satu hal yang semakin langka: kemampuan untuk tetap menjadi dirinya sendiri.
Sumber Referensi
- Warisan Budaya – Serabi Notosuman, Kemendikdasmen
https://referensi.data.kemendikdasmen.go.id/budayakita/wbtb/objek/AA001265 - Data Warisan Budaya Kemendikbud – Serabi Notosuman
https://budaya.data.kemdikbud.go.id/wbtb/objek/AA001265 - DPRD Kota Surakarta – Selayang Pandang Kota Surakarta
https://dprd.surakarta.go.id/about/ - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta – Profil 2024
https://pariwisatasolo.surakarta.go.id/wp-content/uploads/2025/07/Buku-Profil-2024_compressed.pdf - Rekap Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2013–2024
https://dev.danaindonesiana.id/backend/storage/files/2025/ando/rekap_penetapan_wbtb_2013_2024.pdf

