Kue Pinyaram merupakan kue tradisional khas Minangkabau yang masih bertahan di tengah perkembangan kuliner modern Indonesia. Masyarakat Sumatera Barat menjadikan Kue Pinyaram sebagai sajian penting dalam acara adat, perayaan keagamaan, hingga oleh-oleh khas daerah. Kue ini memiliki bentuk bulat dengan bagian tengah tebal dan pinggiran renyah sehingga banyak wisatawan mengenali tampilannya dengan mudah. Pinyaram berasal dari budaya Minangkabau dan masyarakat biasanya menyajikan kue ini dalam pesta pernikahan, Ramadan, serta Idulfitri (Liputan6, 2020).

Kue Pinyaram Menjadi Warisan Kuliner Minangkabau

Masyarakat Minangkabau mempertahankan Kue Pinyaram sebagai bagian penting dari identitas budaya daerah. Pedagang tradisional di Sumatera Barat masih memproduksi kue ini menggunakan teknik memasak turun-temurun. Kue Pinyaram termasuk jajanan tradisional yang tetap eksis dan tidak lekang oleh zaman di lingkungan masyarakat Minang (detikSumut, 2023).

Kue Pinyaram menggunakan bahan utama berupa:

Masyarakat Minangkabau mengolah adonan tersebut dengan teknik penggorengan khusus agar bagian tengah kue menggembung sempurna. Masyarakat Kayu Tanam menjadikan Pinyaram sebagai simbol kebersamaan dalam berbagai perayaan tradisional (Liputan6, 2025).

Ciri Khas Kue Pinyaram yang Membuat Wisatawan Tertarik

Kue Pinyaram memiliki tekstur yang berbeda dibandingkan kue tradisional lain di Indonesia. Bagian pinggir kue menghasilkan tekstur renyah, sedangkan bagian tengah menghasilkan tekstur lembut dan empuk. Bentuk Kue Pinyaram menyerupai kue cucur, tetapi bagian tengahnya lebih menggembung dan dominan manis gurih (detikSumut, 2023).

Masyarakat biasanya mengenal dua jenis utama Kue Pinyaram, yaitu:

Pinyaram hitam banyak ditemukan di daerah Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat (IDN Times, 2024).

Kue Pinyaram juga memiliki aroma khas karena penggunaan santan kelapa dalam proses pembuatan adonan. Aroma tersebut membuat banyak wisatawan tertarik membeli kue ini sebagai camilan khas Minangkabau.

Tradisi Minangkabau Menjadikan Kue Pinyaram Sebagai Sajian Adat

Masyarakat Minangkabau menggunakan Kue Pinyaram dalam berbagai kegiatan adat dan keagamaan. Kehadiran kue ini menunjukkan nilai kebersamaan, penghormatan tamu, dan rasa syukur masyarakat terhadap tradisi lokal. Masyarakat Minang menyajikan Pinyaram dalam acara pernikahan, pesta datuak, hingga doa kematian (IDN Times, 2024).

Kue Pinyaram hadir dalam berbagai kegiatan budaya seperti:

Masyarakat Minangkabau telah mengenal Pinyaram sejak zaman nenek moyang dan terus menjaga keberadaannya hingga sekarang (Liputan6, 2020).

Baca Juga: Tumis Kapah Khas Kalimantan Utara yang Gurih dan Kaya Protein, Kuliner Laut Favorit Warga Pesisir

Kue Pinyaram Menjadi Oleh-Oleh Khas Sumatera Barat

Pelaku UMKM di Sumatera Barat mulai mengembangkan Kue Pinyaram sebagai produk oleh-oleh khas daerah. Pedagang tradisional menjual kue ini di pasar, toko makanan khas, hingga jalur wisata Sumatera Barat. Daerah Kayu Tanam di Sumatera Barat menjadi salah satu wilayah yang terkenal dengan produksi Kue Pinyaram tradisional yang masih bertahan hingga sekarang (Liputan6, 2025).

Pelaku usaha kuliner menghadirkan inovasi baru pada Kue Pinyaram agar produk tetap menarik bagi generasi muda. Inovasi tersebut meliputi:

Variasi modern seperti rasa pandan, pisang, dan durian mulai muncul untuk menarik minat generasi muda terhadap Kue Pinyaram (detikSumut, 2023).

Kehadiran media sosial juga membantu promosi Kue Pinyaram kepada wisatawan luar daerah. Banyak konten kreator kuliner memperkenalkan kue ini melalui video pendek dan ulasan makanan tradisional.

Proses Pembuatan Kue Pinyaram Memerlukan Teknik Khusus

Pembuat Kue Pinyaram harus memahami teknik penggorengan agar bentuk kue tetap sempurna. Adonan kue memerlukan konsistensi tertentu supaya bagian tengah dapat mengembang tanpa membuat pinggiran terlalu keras. Proses pembuatan Kue Pinyaram menggunakan campuran tepung beras, gula merah, santan, dan minyak goreng (Liputan6, 2025).

Tahapan pembuatan Kue Pinyaram meliputi:

  1. Pembuat kue mencampur tepung beras dengan santan dan gula.
  2. Pembuat kue mendiamkan adonan agar tekstur lebih stabil.
  3. Pembuat kue menuangkan adonan ke minyak panas.
  4. Pembuat kue menggoyangkan minyak agar bagian tengah mengembang.
  5. Pembuat kue membalik kue hingga warna berubah kecokelatan.

Teknik penggorengan tersebut membuat Kue Pinyaram memiliki bentuk khas menyerupai mangkuk kecil dengan bagian tengah menonjol.

Kue Pinyaram Menjadi Simbol Ketahanan Kuliner Tradisional

Kue Pinyaram menunjukkan bahwa kuliner tradisional Indonesia masih mampu bertahan di tengah dominasi makanan modern. Generasi muda Minangkabau mulai kembali mengenal makanan tradisional melalui festival budaya dan promosi digital. Pinyaram saat ini juga digunakan sebagai oleh-oleh khas Minangkabau bagi wisatawan yang datang ke Sumatera Barat (Liputan6, 2025).

Pelestarian Kue Pinyaram memberikan beberapa manfaat budaya, yaitu:

Kue Pinyaram memiliki nilai simbolis karena masyarakat Minangkabau mengaitkan kue tersebut dengan rasa syukur dan kebersamaan (Liputan6, 2025).

Kue Pinyaram juga memperlihatkan hubungan kuat antara makanan tradisional dan identitas budaya daerah. Kehadiran kue ini membuktikan bahwa makanan sederhana tetap memiliki nilai sejarah yang tinggi bagi masyarakat lokal.

Kue Pinyaram tetap menjadi bagian penting dari budaya kuliner Minangkabau karena masyarakat terus menjaga resep, tradisi, dan teknik pembuatannya. Kue ini menghadirkan perpaduan rasa manis, tekstur unik, dan nilai budaya yang membuat banyak wisatawan tertarik mengenal lebih jauh kuliner khas Sumatera Barat.

Pembaca dapat menemukan informasi menarik lainnya tentang kuliner tradisional, budaya daerah, dan wisata Nusantara di Negeri Kami. Artikel lain di Negeri Kami juga membahas berbagai makanan khas Indonesia yang memiliki sejarah dan nilai budaya kuat seperti Kue Pinyaram.

Referensi