Binte biluhuta merupakan sup jagung khas Gorontalo yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Hidangan ini dikenal dengan cita rasa gurih dan segar yang berasal dari perpaduan jagung pipil, ikan, kelapa parut, serta bumbu sederhana namun khas (Gorontalo Post, 2024).
Keunikan binte biluhuta tidak hanya terletak pada rasanya, tetapi juga pada nilai budaya yang melekat di dalamnya. Kuliner tradisional ini bahkan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2016 (Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, 2016).
Sejarah dan Asal Usul Binte Biluhuta
Nama binte biluhuta berasal dari bahasa Gorontalo, di mana kata binte berarti jagung dan biluhuta berarti disiram. Penamaan tersebut merujuk pada cara penyajian jagung pipil yang disiram dengan kuah panas berbumbu khas (Validnews.id, 2025).
Menurut catatan budaya, binte biluhuta telah dikenal sejak lama dan berkembang seiring kebiasaan masyarakat Gorontalo dalam memanfaatkan hasil pertanian dan laut secara bersamaan. Jagung sebagai hasil bumi utama dipadukan dengan ikan sebagai sumber protein dari laut (Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, 2016).
Binte Biluhuta sebagai Identitas Budaya Gorontalo
Bagi masyarakat Gorontalo, binte biluhuta bukan sekadar makanan sehari-hari. Hidangan ini kerap disajikan dalam berbagai kegiatan sosial dan budaya, mulai dari acara keluarga hingga pertemuan adat, sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur (kumparan.com, 2025).
Selain itu, binte biluhuta juga dikenal luas melalui lagu daerah Gorontalo yang mengangkat nama hidangan ini, sehingga semakin memperkuat posisinya sebagai identitas budaya lokal (Validnews.id, 2025).
Komposisi dan Cita Rasa Binte Biluhuta
Binte biluhuta umumnya dibuat dari jagung pipil, ikan cakalang atau tuna, udang, kelapa parut, daun kemangi, serta perasan jeruk nipis. Seluruh bahan tersebut disiram dengan kuah kaldu ikan yang panas dan kaya aroma (Gorontalo Post, 2024).
Perpaduan rasa manis dari jagung, gurih dari ikan dan kelapa, serta segar dari jeruk nipis menciptakan karakter rasa yang khas. Inilah yang membuat binte biluhuta berbeda dari sajian sup jagung pada umumnya.
Cara Penyajian dan Perkembangannya
Secara tradisional, binte biluhuta disajikan dalam keadaan panas. Jagung dan ikan diletakkan dalam mangkuk, kemudian disiram kuah sebelum diberi taburan kelapa parut, bawang goreng, dan daun kemangi (Gorontalo Post, 2024).
Dalam perkembangannya, beberapa rumah makan menghadirkan variasi rasa dengan tingkat kepedasan berbeda. Namun, esensi dan cita rasa asli binte biluhuta tetap dipertahankan agar tidak kehilangan nilai tradisionalnya.
Pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda
Binte biluhuta secara resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2016. Penetapan ini dilakukan untuk melindungi dan melestarikan kuliner tradisional Gorontalo agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya (Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, 2016).
Upaya pelestarian budaya juga terus dilakukan melalui berbagai kegiatan, seperti seminar dan program Bangga Budaya Indonesia yang diselenggarakan di Gorontalo (ANTARA News Gorontalo, 2023).
Nilai Gizi dan Daya Tarik Kuliner
Selain memiliki nilai budaya, binte biluhuta juga dikenal sebagai hidangan yang cukup bergizi. Jagung sebagai sumber karbohidrat dan serat dipadukan dengan ikan atau udang yang kaya protein, menjadikan makanan ini mengenyangkan sekaligus menyehatkan (Gorontalo Post, 2024).
Kombinasi bahan segar dan kuah hangat membuat binte biluhuta digemari berbagai kalangan, baik masyarakat lokal maupun wisatawan yang berkunjung ke Gorontalo.
Binte biluhuta adalah bukti bahwa kuliner tradisional Indonesia tidak hanya menyuguhkan rasa, tetapi juga menyimpan sejarah dan identitas budaya yang kuat. Sup jagung khas Gorontalo ini terus bertahan sebagai warisan kuliner yang relevan hingga kini.
Untuk membaca berita menarik lainnya seputar kuliner Nusantara dan budaya lokal, jangan lewatkan artikel-artikel terbaru di Negeri Kami.
Referensi

