Ondel-ondel: Warisan Budaya Betawi yang Penuh Makna

Ondel-ondel: Warisan Budaya Betawi yang Penuh Makna

Last Updated: 4 December 2025, 03:00

Bagikan:

ondel-ondel - warisan budaya betawi yang penuh makna
Foto: Pinterest

Ondel-ondel – Bentuk pertunjukan seni khas Betawi yang sering ditampilkan dalam pesta rakyat. Pertunjukan ini tampaknya memerankan leluhur atau nenek moyang yang senantiasa menjaga anak cucunya atau penduduk suatu desa, sehingga memiliki makna spiritual selain hiburan.

Ondel-ondel bukan sekadar hiburan, tetapi juga simbol identitas budaya Betawi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Menurut Wikipedia, bentuknya yang besar dan unik, serta diiringi musik tradisional, menjadikannya ikon budaya Jakarta yang tetap relevan hingga sekarang.

Sejarah Ondel-ondel

Ondel-ondel atau barongan raksasa awalnya muncul dalam sendratari Reog versi Wengker dari Ponorogo sebagai tokoh sepasang makhluk halus dengan tubuh raksasa. Karena mengganggu perjalanan Singo Barong, mereka dikutuk menjadi burung gagak dan burung merak berbentuk raksasa. Pada pemerintahan Bathara Katong, tokoh-tokoh yang tidak penting dihilangkan.

Ondel-ondel masuk ke Batavia (Jakarta) pada abad ke-17 ketika terjadi penyerangan Mataram terhadap VOC. Prajurit Ponorogo membuat barongan raksasa berwajah seram untuk menakut-nakuti musuh, yang kemudian dipercaya dapat mengusir berbagai hal buruk dan wabah penyakit. Sejak itu, masyarakat Betawi menggunakan ondel-ondel dalam upacara ritual sebagai pengusir malapetaka.

Pada zaman dahulu, ondel-ondel digunakan sebagai penolak bala dan penjaga kampung, diarak saat pagebluk, selametan, hajatan besar seperti Cap Go Meh, atau sedekah bumi setelah panen. Bentuk laki-laki lebih seram dengan mata melotot dan gigi taring, sedangkan perempuan tampil lebih lembut. Nama “ondel-ondel” semakin populer setelah Benyamin Sueb membawakan lagu berjudul sama pada 1971 dengan irama gambang kromong.

Bentuk dan Karakter Ondel-ondel

Ondel-ondel berupa boneka besar setinggi sekitar 2,5 meter dengan garis tengah ± 80 cm, dibuat dari anyaman bambu yang mudah dipikul. Bagian wajah berupa topeng atau kedok dengan rambut ijuk. Wajah laki-laki dicat merah, sedangkan perempuan putih, masing-masing memiliki makna simbolik yang berbeda. Bentuk pertunjukan ini memiliki persamaan dengan beberapa daerah lain di Indonesia.

Ondel-ondel di Daerah Lain

Versi serupa ondel-ondel bisa ditemukan di berbagai daerah. Di Jathilan dikenal sebagai Genderuwo Gede, di Pasundan disebut Badawang, di Bali disebut Barong Landung, dan di Sidoarjo ada versi kecil yang hanya menggunakan topeng oleh penari tanpa kerangka raksasa, disebut Reog Cemandi. Pertunjukan ini telah ada sejak sebelum penyebaran Islam di Pulau Jawa dan dibawa melalui berbagai jalur budaya dari kerajaan-kerajaan sebelumnya.

Musik Pengiring

Musik pengiring ondel-ondel bervariasi, tetapi biasanya menggunakan irama gambang kromong dan tanjidor. Beberapa pertunjukan juga diiringi pencak silat Betawi, marawis, hadroh, atau rebana ketimpring.

Instrumen yang umum digunakan:

  • 2 buah gendang dimainkan oleh 2 orang
  • 1 buah rebana/kecrekan dimainkan oleh 1 orang
  • 1 buah gong dimainkan oleh 1 orang
  • 1 buah kong’ahyan/tehyan dimainkan oleh 1 orang
  • 1 orang melakukan pencak silat yaitu Pencak Bunga Kembang

Penutup

Ondel-ondel adalah warisan budaya Betawi yang sarat makna, mencerminkan sejarah, spiritualitas, estetika, dan kreativitas seni masyarakat Jakarta. Pertunjukan ini tetap relevan sebagai simbol identitas budaya yang dinamis, kreatif, dan membumi, sekaligus menjadi media edukasi dan hiburan tradisional bagi generasi muda.

Jangan lewatkan berbagai cerita budaya dan pertunjukan tradisional Betawi, termasuk tarian dan seni rakyat lainnya, di Negeri Kami. Dukung pelestarian warisan budaya Indonesia dengan mengenal, memahami, dan membagikan kekayaan tradisi ini.

Search

Video

Budaya Detail

DKI Jakarta

Tarian

Kota Jakarta

Budaya

Budaya Lainnya