Beluluh Sultan, Ritual Penyucian Sakral Sultan Kutai yang Menandai Dimulainya Erau Adat Pelas Benua

Beluluh Sultan, Ritual Penyucian Sakral Sultan Kutai yang Menandai Dimulainya Erau Adat Pelas Benua

Last Updated: 5 June 2026, 05:10

Bagikan:

Beluluh Sultan Ritual Penyucian
Ritual Beluluh Sultan menjadi simbol kuat bagaimana Kesultanan Kutai Kartanegara menjaga warisan budaya leluhur. Sumber gambar: Kutaikartanegaranews.com.

Beluluh Sultan merupakan ritual penyucian sakral yang dijalani Sultan Kutai Kartanegara menjelang pelaksanaan Erau Adat Pelas Benua. Kesultanan Kutai Kartanegara melaksanakan tradisi tersebut untuk membersihkan Sultan dari unsur negatif yang diyakini dapat memengaruhi jalannya kepemimpinan maupun rangkaian upacara adat yang akan dilaksanakan (Suara Kaltim, 2024a).

Tradisi tersebut menjadi salah satu prosesi penting dalam budaya masyarakat Kutai. Hingga saat ini, Kesultanan Kutai Kartanegara masih mempertahankan Beluluh Sultan sebagai bagian dari warisan budaya yang terus dilestarikan dari generasi ke generasi (Media Kaltim, 2024).

Beluluh Sultan Menjadi Penanda Dimulainya Erau Adat Pelas Benua

Kesultanan Kutai Kartanegara menjadikan Beluluh Sultan sebagai salah satu prosesi awal sebelum Erau Adat Pelas Benua dimulai. Ritual tersebut menandai dimulainya rangkaian pesta adat terbesar masyarakat Kutai yang setiap tahun diselenggarakan di Tenggarong.

Media Kaltim melaporkan bahwa Sultan Kutai Kartanegara menjalani upacara Beluluh menjelang pelaksanaan Erau sebagai bagian dari tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun (Media Kaltim, 2024).

Beluluh Sultan memiliki beberapa fungsi penting dalam tradisi Kesultanan Kutai, yaitu:

  • Menjadi simbol penyucian Sultan.
  • Menandai dimulainya Erau Adat Pelas Benua.
  • Menjaga kelestarian adat Kesultanan Kutai.
  • Menghormati warisan budaya leluhur.
  • Memperkuat identitas budaya masyarakat Kutai.

Masyarakat Kutai memandang ritual tersebut sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan Erau Adat Pelas Benua.

Asal Usul Nama Beluluh Sultan dalam Tradisi Kesultanan Kutai

Nama Beluluh memiliki makna yang berkaitan dengan proses penyucian yang dijalankan Sultan. Menurut penjelasan yang dikutip Suara Kaltim, istilah “Beluluh” berasal dari kata “buluh” yang berarti bambu dan “luluh” yang berarti hilang atau musnah (Suara Kaltim, 2024a).

Makna tersebut menggambarkan harapan agar segala pengaruh buruk atau unsur negatif dapat hilang dari diri Sultan setelah prosesi adat selesai dilaksanakan.

Filosofi Beluluh Sultan mencerminkan beberapa nilai penting, antara lain:

  • Penyucian lahir dan batin.
  • Penguatan tanggung jawab pemimpin.
  • Penghormatan terhadap adat istiadat.
  • Pelestarian tradisi Kesultanan Kutai.
  • Penguatan hubungan dengan warisan leluhur.

Nilai-nilai tersebut menjadi alasan mengapa Beluluh Sultan tetap dipertahankan hingga sekarang.

Prosesi Beluluh Sultan dari Doa Leluhur hingga Tepong Tawar

Beluluh Sultan terdiri atas sejumlah tahapan yang memiliki makna simbolis dalam tradisi Kesultanan Kutai. Setiap tahapan dilaksanakan sesuai aturan adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Suara Kaltim menjelaskan bahwa prosesi diawali dengan kegiatan keagamaan dan doa untuk para leluhur. Sultan kemudian menjalani beberapa tahapan adat yang menjadi inti dari ritual penyucian tersebut (Suara Kaltim, 2024b).

Tahapan yang disebutkan dalam prosesi Beluluh Sultan meliputi:

  • Pembacaan doa dan khataman Al-Qur’an.
  • Doa untuk leluhur Kesultanan Kutai.
  • Sultan menginjak batu khusus dalam prosesi adat.
  • Sultan menaiki balai bambu yang telah dipersiapkan.
  • Pelaksanaan tepong tawar.
  • Pembacaan doa keselamatan.
  • Penutupan ritual oleh pemangku adat.

Setiap tahapan memiliki makna spiritual yang berkaitan dengan pembersihan diri dan persiapan Sultan sebelum memasuki Erau Adat Pelas Benua.

Pantangan Sultan Setelah Menjalani Ritual Beluluh Sultan

Beluluh Sultan tidak hanya mencakup prosesi penyucian, tetapi juga disertai sejumlah ketentuan adat yang harus dipatuhi Sultan selama pelaksanaan Erau berlangsung.

Koran Kaltim melaporkan bahwa Sultan memiliki pantangan untuk tidak menginjak tanah secara langsung hingga rangkaian Erau Adat Pelas Benua berakhir. Ketentuan tersebut menjadi bagian dari tradisi yang masih dijaga oleh Kesultanan Kutai Kartanegara (Koran Kaltim, 2024).

Pantangan tersebut memiliki tujuan sebagai berikut:

  • Menjaga kesucian hasil ritual.
  • Menghormati ketentuan adat leluhur.
  • Menjalankan prosesi sesuai tradisi Kesultanan.
  • Menjaga nilai spiritual selama Erau berlangsung.

Keberadaan pantangan tersebut menunjukkan bahwa Beluluh Sultan tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga memiliki makna spiritual yang mendalam bagi masyarakat Kutai.

Beluluh Sultan Menjadi Warisan Budaya yang Terus Dilestarikan

Beluluh Sultan menunjukkan kuatnya komitmen masyarakat Kutai dalam menjaga tradisi leluhur. Kesultanan Kutai Kartanegara terus melaksanakan ritual tersebut sebagai bagian penting dari Erau Adat Pelas Benua yang menjadi identitas budaya daerah.

Tradisi tersebut juga memperlihatkan bagaimana masyarakat lokal masih mempertahankan nilai adat di tengah perkembangan zaman. Melalui pelaksanaan Beluluh Sultan, masyarakat Kutai tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga mewariskan pengetahuan budaya kepada generasi berikutnya.

Ingin mengenal lebih banyak tradisi unik dari berbagai daerah di Indonesia? Baca artikel budaya menarik lainnya di Negeri Kami untuk menemukan kisah inspiratif tentang warisan budaya Nusantara yang masih lestari hingga sekarang.

Negeri Kami akan terus menghadirkan informasi seputar budaya, tradisi, sejarah, dan kearifan lokal dari berbagai penjuru Indonesia. Ikuti artikel terbaru kami untuk memperluas wawasan tentang kekayaan budaya bangsa.

Referensi

Search

Video

Budaya Detail

Kalimantan Timur

Adat Istiadat

Kalimantan Timur

Budaya

Budaya Lainnya