Negerikami.id – Sepiring nasi putih mungkin terlihat sederhana. Namun di Solo, beras yang dimasak menjadi nasi liwet bisa berubah menjadi hidangan yang memiliki karakter rasa begitu kuat: gurih, lembut, sedikit manis, lalu semakin nikmat ketika bercampur dengan kuah labu siam dan suwiran ayam. Tidak mengherankan jika Pemerintah Kota Surakarta menyebut nasi liwet sebagai salah satu ikon kuliner Kota Solo.
Yang membuatnya menarik, rahasia nasi liwet Solo ternyata bukan sekadar satu bumbu yang ditambahkan ke dalam beras. Karakternya justru lahir dari perpaduan nasi gurih, santan, kuah sayur, lauk dan cara penyajian. Bahkan, versi Solo memiliki ciri yang berbeda dari nasi liwet Jawa Barat maupun daerah lainnya. Lalu, apa saja yang membuat sepiring nasi liwet begitu sulit dilupakan?
1. Santan Membuat Nasinya Gurih
Rahasia pertama ada pada santan. Pemerintah Kota Surakarta menjelaskan bahwa nasi liwet Solo merupakan nasi gurih yang diolah menggunakan air santan. Santan inilah yang memberikan rasa gurih dan tekstur rasa yang lebih kaya dibandingkan nasi putih biasa.
Namun, santan bukan satu-satunya pemain. Dalam kajian kuliner Kota Surakarta, nasi liwet juga dijelaskan sebagai nasi yang memiliki cita rasa gurih dan aroma yang khas. Karena itu, kualitas beras, takaran cairan, serta proses memasaknya ikut menentukan hasil akhir. Sederhana di tampilan, tetapi tidak sesederhana proses menghasilkan rasa yang pas.
2. Bumbu Gurih Menjadi Identitas Utamanya
Rahasia kedua adalah karakter bumbu gurih yang menjadi dasar nasi liwet. Berbeda dari nasi putih biasa, nasi liwet dibuat agar nasi itu sendiri sudah memiliki rasa sebelum bercampur dengan lauk. Inilah yang membuat setiap suapan tetap terasa meskipun hanya dimakan bersama sedikit lauk.
Karakter gurih tersebut kemudian bertemu dengan rasa dari lauk dan kuah. Kombinasi ini membuat nasi liwet terasa lebih lengkap tanpa membutuhkan sambal atau bumbu yang terlalu agresif. Bagi penikmat kuliner tradisional, justru keseimbangan rasa inilah yang membuat hidangan sederhana tersebut tetap bertahan.
3. Kuah Labu Siam Justru Jadi Pembeda
Ini bagian yang sering luput ketika orang membicarakan nasi liwet. Kuah sayur labu siam bukan sekadar tambahan. Pemerintah Kota Surakarta menyebut nasi dengan bumbu gurih yang disiram kuah sayur labu siam sebagai salah satu ciri khas nasi liwet Solo.
Kuah tersebut membuat tekstur nasi menjadi lebih lembut sekaligus memberikan rasa yang berbeda pada setiap suapan. Ketika kuah bercampur dengan nasi gurih dan lauk, muncul perpaduan rasa yang menjadi identitas hidangan ini. Karena itu, nasi liwet Solo tidak tepat disamakan begitu saja dengan nasi liwet dari daerah lain.
4. Ayam Suwir dan Telur Melengkapi Rasa
Rahasia keempat datang dari lauk pendamping. Nasi liwet Solo lazim disajikan bersama ayam suwir dan telur rebus, selain komponen lain sesuai penjual dan variasinya. Pemerintah Kota Surakarta mencatat keduanya sebagai pendamping nasi liwet yang umum.
Ayam memberikan rasa gurih dan tekstur yang berbeda dari nasi, sedangkan telur membuat hidangan terasa semakin lengkap. Ketika keduanya bertemu dengan kuah labu siam, nasi gurih yang menjadi dasar hidangan berubah menjadi satu paket kuliner yang sulit dipisahkan. Inilah alasan nasi liwet tidak hanya mengandalkan “bumbu rahasia”, tetapi juga komposisi lauk.
5. Daun Pandan Bukan Satu-Satunya Rahasia
Aroma harum sering membuat orang langsung mengaitkan nasi liwet dengan daun pandan. Namun, menjadikan pandan sebagai “bumbu rahasia wajib” justru terlalu menyederhanakan nasi liwet Solo. Sumber resmi Pemkot Surakarta menekankan karakter utama hidangan ini pada nasi gurih berbahan santan, kuah labu siam dan lauk pendamping.
Ada pula detail penyajian yang tidak kalah menarik. Nasi liwet Solo secara khas dapat disajikan menggunakan daun pisang yang dipincuk, sehingga pengalaman menyantapnya tidak hanya berbicara soal rasa. Aroma daun, bentuk penyajian dan suasana makan turut membangun karakter kuliner tradisional Solo.
Bukan Cuma Makanan, Nasi Liwet Sudah Jadi Identitas Solo
Popularitas nasi liwet bukan sekadar cerita dari warung ke warung. Pada 19 Juni 2022, Pemerintah Kota Surakarta mencatat nasi liwet dikukuhkan sebagai salah satu ikon kuliner Kota Solo. Banyaknya penjual menjadi salah satu alasan hidangan ini dianggap penting dalam identitas kuliner kota.
Lebih jauh lagi, Nasi Liwet Sukoharjo telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui SK Nomor 315/M/2023. Penetapan tersebut menunjukkan bahwa tradisi kuliner nasi liwet telah memperoleh pengakuan dalam pemajuan kebudayaan Indonesia.
Penutup
Rahasia Nasi Liwet Solo ternyata bukan terletak pada satu bumbu ajaib. Kekuatan hidangan ini justru muncul dari pertemuan nasi gurih berbahan santan, karakter bumbu, kuah labu siam, ayam suwir, telur dan cara penyajiannya.
Jadi, jika selama ini nasi liwet dianggap hanya sebagai nasi gurih dengan lauk sederhana, anggapan itu terlalu dangkal. Di balik sepiring nasi liwet terdapat perjalanan kuliner yang membuat makanan sederhana berubah menjadi salah satu identitas Solo, bahkan sampai mendapat pengakuan sebagai warisan budaya.
Sumber Referensi
- Pemerintah Kota Surakarta – Nasi Liwet: Ikon Kuliner Solo https://surakarta.go.id/detail-berita/nasi_liwet%3A_ikon_kuliner_solo_7818
- Pemerintah Kota Surakarta – Kajian Dampak Wisata Kuliner dan Belanja terhadap PAD Kota Surakarta https://ekonomi.surakarta.go.id/assets_frontend/images/file_kajian/9faf9e1f53d6c9fb45b9b445cede7011.pdf
- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi – Warisan Budaya: Nasi Liwet Sukoharjo https://budaya.data.kemdikbud.go.id/wbtb/objek/AA001853

