Negerikami.id – Di tengah meningkatnya wisata modern di kawasan Gunung Bromo, ada satu tradisi yang tetap bertahan dan selalu menarik perhatian ribuan orang setiap tahun, yaitu Kasada Bromo. Ritual ini bukan sekadar atraksi wisata atau agenda budaya, melainkan upacara sakral masyarakat Suku Tengger yang telah diwariskan selama ratusan tahun. Bahkan, di saat sebagian tradisi lokal mulai memudar, Kasada justru terus hidup dan menjadi simbol kuat hubungan manusia dengan alam serta leluhur.
Pemandangan warga berjalan menuju kawah Gunung Bromo sambil membawa hasil bumi, ternak, hingga sesaji kerap membuat wisatawan bertanya-tanya. Mengapa persembahan itu harus dilempar ke kawah gunung api yang masih aktif? Jawabannya tidak sesederhana yang terlihat. Di balik ritual tersebut tersimpan sejarah panjang, kepercayaan turun-temurun, dan filosofi yang masih dijaga hingga sekarang.
Asal-usul Kasada Bromo dan Legenda Roro Anteng
Kasada berasal dari kisah legenda Roro Anteng dan Joko Seger, pasangan yang dipercaya sebagai leluhur masyarakat Tengger. Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, keduanya memohon keturunan kepada Sang Hyang Widhi dengan syarat anak bungsu harus dipersembahkan ke kawah Gunung Bromo. Setelah memperoleh 25 anak, mereka tidak tega memenuhi janji tersebut hingga akhirnya terjadi letusan gunung. Anak bungsu mereka, Kusuma, kemudian rela mengorbankan diri demi keselamatan keluarganya. Sejak saat itu, masyarakat Tengger menggelar Yadnya Kasada sebagai bentuk rasa syukur sekaligus penghormatan kepada leluhur.
Ritual ini dilaksanakan setiap bulan Kasada dalam penanggalan Hindu Tengger dan dipusatkan di kawasan Pura Luhur Poten, yang berada di lautan pasir Taman Nasional Bromo Tengger Semeru sebelum dilanjutkan ke kawah Gunung Bromo.
7 Fakta Kasada Bromo yang Masih Bertahan Hingga Kini
- Ritual Kasada bukan tradisi baru. Sejumlah catatan sejarah menyebutkan upacara ini telah berlangsung selama ratusan tahun dan tetap dipertahankan oleh masyarakat Tengger meski zaman terus berubah. Tradisi tersebut menjadi salah satu identitas budaya paling kuat di Jawa Timur.
- Persembahan yang dilempar ke kawah bukanlah bentuk pemborosan. Masyarakat membawa hasil panen seperti sayuran, buah-buahan, padi, hingga ternak sebagai simbol rasa syukur atas rezeki yang diterima sepanjang tahun. Nilai utamanya bukan pada benda yang dipersembahkan, melainkan keikhlasan masyarakat dalam menjalankan tradisi leluhur.
- Ritual diawali dengan doa bersama di Pura Luhur Poten. Pura yang berdiri di tengah hamparan pasir Bromo ini menjadi pusat kegiatan keagamaan umat Hindu Tengger. Setelah doa selesai, rombongan berjalan menuju bibir kawah untuk melanjutkan prosesi persembahan.
- Ada tradisi unik yang selalu memancing perhatian wisatawan, yakni warga yang menangkap sesaji di lereng kawah menggunakan jaring atau bambu. Meski terlihat berbahaya, masyarakat setempat meyakini hasil tangkapan tersebut membawa keberkahan. Tradisi ini sudah berlangsung lama dan menjadi bagian dari dinamika Kasada.
- Kasada menjadi magnet wisata budaya internasional. Setiap penyelenggaraan ritual, ribuan wisatawan domestik maupun mancanegara datang ke kawasan Bromo untuk menyaksikan langsung prosesi yang hanya digelar setahun sekali. Momentum ini juga memberikan dampak ekonomi bagi pelaku usaha lokal, mulai dari penginapan, transportasi, hingga penjualan kerajinan dan kuliner.
- Masyarakat Tengger tetap mempertahankan nilai gotong royong dalam setiap pelaksanaan Kasada. Persiapan ritual dilakukan bersama-sama, mulai dari penyusunan sesaji, kegiatan keagamaan, hingga pengamanan jalannya upacara. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi bukan hanya soal ritual, tetapi juga memperkuat ikatan sosial antarwarga.
- Fakta ketujuh, Kasada menjadi bukti harmoni antara manusia, budaya, dan alam. Meski dilaksanakan di kawasan gunung api aktif, masyarakat Tengger memandang Gunung Bromo sebagai bagian dari kehidupan yang harus dihormati. Filosofi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa tradisi ini tetap bertahan di tengah perkembangan zaman.
Mengapa Kasada Tetap Bertahan?
Keberlangsungan Kasada tidak lepas dari komitmen masyarakat Tengger dalam menjaga warisan leluhur. Pemerintah bersama Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru juga terus mendukung pelestarian tradisi melalui pengelolaan kawasan wisata, edukasi budaya, dan promosi pariwisata berbasis kearifan lokal. Kolaborasi tersebut membuat Kasada tidak hanya dikenal sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai aset budaya Indonesia yang memiliki nilai sejarah, spiritual, dan ekonomi.
Di era media sosial, popularitas Kasada semakin meningkat. Foto dan video prosesi di kawah Bromo sering menjadi viral karena menghadirkan pemandangan yang unik dan berbeda dari tradisi lain di Indonesia. Namun, masyarakat Tengger terus mengingatkan bahwa ritual ini bukan sekadar tontonan, melainkan bagian dari keyakinan yang harus dihormati oleh setiap pengunjung.
Penutup
Kasada Bromo bukan sekadar tradisi melempar sesaji ke kawah gunung api. Ritual ini merupakan warisan budaya yang menyatukan legenda leluhur, nilai spiritual, rasa syukur, serta hubungan harmonis antara manusia dan alam. Tujuh fakta tersebut menunjukkan bahwa di balik kemegahan Gunung Bromo tersimpan tradisi yang masih hidup dan terus diwariskan dari generasi ke generasi. Di tengah perubahan zaman, Kasada menjadi bukti bahwa budaya lokal Indonesia tetap memiliki tempat penting dan mampu menarik perhatian dunia tanpa kehilangan makna aslinya.
Sumber Referensi:
- Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru: https://bromotenggersemeru.org/
- Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/
- Indonesia.go.id: https://indonesia.go.id/
- Pemerintah Provinsi Jawa Timur: https://jatimprov.go.id/
- UNESCO – Intangible Cultural Heritage: https://ich.unesco.org/
