Ritual Belian Sentiu Dayak Benuaq, Tradisi Penyembuhan Spiritual yang Masih Bertahan hingga Kini

Ritual Belian Sentiu Dayak Benuaq, Tradisi Penyembuhan Spiritual yang Masih Bertahan hingga Kini

Last Updated: 17 June 2026, 07:00

Bagikan:

Ritual Belian Sentiu Dayak
Ritual Belian Sentiu menghadirkan kearifan leluhur Dayak Benuaq yang menjadikan penyembuhan bukan sekadar ikhtiar fisik, melainkan juga ruang menjaga harmoni antara manusia, alam, dan dunia spiritual. Sumber gambar: 1001 Indonesia.

Ritual Belian Sentiu merupakan upacara penyembuhan tradisional masyarakat Dayak Benuaq di Kutai Barat, Kalimantan Timur, yang memadukan doa, mantra, musik kelentangan, dan peran pemeliatn sebagai pemimpin ritual. Selain berfungsi sebagai sarana penyembuhan, tradisi tersebut menjadi simbol identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat adat.

Ritual Belian Sentiu Berasal dari Masyarakat Dayak Benuaq Kutai Barat

Masyarakat Dayak Benuaq melestarikan Ritual Belian Sentiu sebagai bagian dari sistem kepercayaan adat yang telah hidup sejak lama. Praktik tersebut berkembang di berbagai wilayah Kutai Barat, termasuk Kampung Ponak dan Tanjung Isuy.

Ritual dilaksanakan ketika seseorang mengalami sakit yang diyakini berkaitan dengan gangguan nonmedis atau ketidakseimbangan spiritual.

Fungsi Ritual Belian Sentiu meliputi:

  • Sarana penyembuhan tradisional.
  • Media komunikasi spiritual.
  • Penguat solidaritas masyarakat.
  • Wujud penghormatan kepada leluhur.
  • Bentuk pelestarian identitas budaya Dayak Benuaq.

Keberadaan tradisi tersebut tetap bertahan meskipun masyarakat modern telah mengenal layanan kesehatan formal. (Greget: Jurnal Kreativitas dan Studi Tari, 2020).

Pemeliatn Menjadi Tokoh Utama dalam Ritual Belian Sentiu

Pemeliatn memimpin seluruh tahapan Ritual Belian Sentiu sebagai tokoh yang dipercaya mampu menjembatani hubungan antara manusia dan dunia spiritual. Melalui doa serta mantra, pemeliatn memohon pertolongan demi kesembuhan pasien.

Peran pemeliatn meliputi:

  • Memimpin doa adat.
  • Membacakan mantra ritual.
  • Mengatur tahapan prosesi.
  • Menyampaikan permohonan kepada roh leluhur.
  • Menjaga kekhidmatan upacara.

Posisi pemeliatn mencerminkan pentingnya peran tokoh adat dalam kehidupan masyarakat Dayak Benuaq. (Jurnal Kajian Seni, 2014).

Musik Kelentangan Menjadi Jantung Ritual Belian Sentiu

Kelentangan memiliki kedudukan penting dalam pelaksanaan Belian Sentiu. Instrumen tersebut mengiringi setiap tahapan ritual yang dijalankan masyarakat Dayak Benuaq.

Irama kelentangan dipercaya membantu membangun suasana sakral selama proses penyembuhan berlangsung.

Fungsi kelentangan dalam ritual meliputi:

  • Mengiringi jalannya upacara.
  • Menandai perpindahan prosesi.
  • Menguatkan nuansa spiritual.
  • Menjadi simbol hubungan dengan leluhur.
  • Mendukung proses ngawat atau penyembuhan.

Makna simbolik kelentangan menunjukkan adanya hubungan erat antara manusia, alam, dan roh leluhur dalam kehidupan masyarakat Dayak Benuaq. (Jurnal Kajian Seni, 2014).

Ritual Belian Sentiu Dilaksanakan pada Malam Hari

Masyarakat Dayak Benuaq melaksanakan Belian Sentiu pada malam hari sebelum tengah malam. Waktu tersebut dipercaya memberikan kemudahan bagi pemeliatn untuk berkomunikasi dengan roh leluhur.

Pelaksanaan ritual berlangsung melalui beberapa tahapan yang dijalankan secara tertib sesuai ketentuan adat.

Tahapan umum ritual meliputi:

  • Persiapan perlengkapan adat.
  • Pemanggilan roh leluhur.
  • Pembacaan mantra.
  • Tarian ritual.
  • Prosesi ngawat atau penyembuhan.
  • Penutupan upacara.

Pelaksanaan sebelum tengah malam diyakini memperkuat konsentrasi spiritual selama ritual berlangsung. (Greget: Jurnal Kreativitas dan Studi Tari, 2020).

Kepercayaan Lahtala dan Uwokng Mewarnai Ritual Belian Sentiu

Ritual Belian Sentiu berkaitan erat dengan kosmologi masyarakat Dayak Benuaq. Sistem kepercayaan tersebut mengenal adanya penguasa atas dan penguasa bawah.

Dalam keyakinan tersebut, Lahtala dilambangkan sebagai penguasa atas, sedangkan Uwokng dilambangkan sebagai penguasa bawah. Masyarakat juga meyakini keberadaan roh leluhur sebagai pelindung kehidupan.

Konsep spiritual tersebut mencakup:

  • Lahtala sebagai penguasa atas.
  • Uwokng sebagai penguasa bawah.
  • Roh leluhur sebagai pelindung.
  • Keharmonisan manusia dengan alam.
  • Keseimbangan kehidupan spiritual.

Fondasi kepercayaan tersebut terus diwariskan dari generasi ke generasi. (Jurnal Kajian Seni, 2014).

Ritual Belian Sentiu Menjadi Warisan Budaya yang Harus Dijaga

Ritual Belian Sentiu tidak hanya berfungsi sebagai penyembuhan tradisional. Tradisi tersebut juga memperkuat hubungan sosial dalam masyarakat Dayak Benuaq.

Bagi masyarakat adat, ritual menjadi ruang kebersamaan untuk menjaga nilai leluhur di tengah perubahan zaman.

Nilai budaya yang terkandung meliputi:

  • Gotong royong.
  • Solidaritas sosial.
  • Penghormatan terhadap leluhur.
  • Ketaatan terhadap adat.
  • Pelestarian pengetahuan tradisional.

Keberlangsungan Ritual Belian Sentiu menunjukkan bahwa budaya lokal memiliki daya tahan kuat di tengah arus modernisasi. (Greget: Jurnal Kreativitas dan Studi Tari, 2020).

Ritual Belian Sentiu memperlihatkan bagaimana masyarakat Dayak Benuaq memadukan unsur spiritual, musik tradisional, dan nilai sosial dalam satu rangkaian upacara adat. Warisan budaya tersebut menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki kekayaan tradisi yang sarat makna dan patut dijaga bersama.

Jangan lewatkan artikel budaya lainnya di Negeri Kami untuk mengenal lebih dekat tradisi Nusantara yang masih lestari hingga sekarang. Ikuti terus Negeri Kami agar Anda tidak ketinggalan kisah menarik tentang budaya Indonesia yang patut dijaga bersama.

Referensi

Search

Video

Budaya Detail

Kalimantan Timur

Acara Sakral

Kalimantan Timur

Budaya

Budaya Lainnya