Puri Kauhan Ubud Kembali Menggelar Sastra Saraswati Sewana ke-6

Puri Kauhan Ubud Kembali Menggelar Sastra Saraswati Sewana ke-6

Rizky Ananda

Last Updated: 2 July 2026, 03:00

Bagikan:

sastra saraswati sewana
Foto: Antara News
Table of Contents

Yayasan Puri Kauhan Ubud kembali menggelar Sastra Saraswati Sewana yang ke-6 di Wantilan Pura Tirta Empul Tampaksiring, Gianyar, Bali. Kegiatan ini bertepatan pada hari Soma Paing Langkir, Purnama Kasa, Senin (29/6), seperti diberitakan Antara News.

Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud Anak Agung Ngurah Ari Dwipayana menyampaikan bahwa kegiatan ini mengangkat tema “Cakrawala Mandala Dwipantara”. Tema tersebut dipilih untuk menghadirkan kembali warisan pemikiran Nusantara sebagai sumber inspirasi. Hal ini diharapkan dapat menjawab tantangan masa kini dan masa depan.

“Konsep Mandala memiliki akar panjang pada sejarah Asia yang bersumber pada nilai-nilai ajaran Hindu dan Buddha,” katanya.

Tema Cakrawala Mandala Dwipantara dan Gagasan Geopolitik Nusantara

Gung Ari, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa pada sekitar abad ke-4 Sebelum Masehi (SM) Kautilya pada masa pemerintahan Chandragupta Maurya menulis teori Raja Mandala yang tertuang pada kitab Artha Sastra. Teori Raja Mandala dari Kautilya sering dianggap sebagai salah satu teori geopolitik dan hubungan internasional paling awal di dunia.

Berabad-abad kemudian, lanjut dia, Sri Maharaja Kertanegara, Raja terakhir Kerajaan Singashari mengembangkan gagasan Mandala dalam konteks negara kepulauan. Dalam pemikiran Kertanegara, Mandala tidak hanya dipahami sebagai ruang spiritual, tetapi juga sebagai visi geopolitik yang memandang kepulauan Nusantara sebagai satu kesatuan peradaban.

“Laut bukanlah pemisah, melainkan penghubung. Pulau-pulau bukanlah fragmen yang tercerai, tetapi simpul-simpul yang membentuk satu cakrawala kebudayaan. Konsep Mandala dari Sri Maharaja Kertanegara adalah gagasan otentik Nusantara. Melalui konsep Cakrawala Mandala Dwipantara, kepulauan yang terpisah-pisah dipandang sebagai satu kesatuan maritim, kebudayaan, dan peradaban,” ujarnya.

Gung Ari menegaskan bahwa dalam konteks Indonesia hari ini, gagasan Sri Kertanegara tersebut tetap relevan. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, masyarakat memerlukan cara pandang yang mampu mempersatukan keragaman dan membangun solidaritas antarpulau. Cara pandang tersebut juga diperlukan untuk memperkuat identitas kebangsaan yang berakar pada nilai-nilai luhur Nusantara.

Rangkaian Acara Pembukaan dan Penghargaan Sastra Saraswati Sewana

Pada acara Pembukaan Sastra Saraswati Sewana juga dipentaskan napak pertiwi tarian topeng Sri Aji Dalem Jawi. Sosok Sri Aji Dalem Jawi merupakan simbol personifikasi semangat Raja Jawa yang sepanjang sejarah memiliki visi besar membangun persatuan Nusantara.

Selain itu, sebagai bagian dari rangkaian acara hari ini, Yayasan Puri Kauhan Ubud menganugerahkan Sastra Saraswati Sewana Nugraha kepada dua tokoh. Keduanya adalah Sang Sampun Lepas I Gusti Bagus Sugriwa dan Ida Wayan Oka Granoka, yang telah mendedikasikan hidupnya bagi ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan pengabdian kepada masyarakat Bali.

Pada puncak acara pembukaan Sastra Saraswati Sewana 2026, Yayasan Puri Kauhan Ubud menyelenggarakan Dharma Panuntun. Kegiatan ini mengundang Para Wiku dan Para Wikan untuk mendiskusikan topik “Bhuwana Sarira Mandala”.

Penutup

Penyelenggaraan Sastra Saraswati Sewana ke-6 menegaskan kembali pentingnya ruang dialog kebudayaan dalam merawat pemikiran Nusantara. Melalui kegiatan ini, nilai-nilai tradisi dan gagasan kebangsaan terus dihidupkan dalam konteks yang lebih relevan dengan perkembangan zaman.

Jangan lewatkan berita lainnya seputar budaya, cerita & identitas, kolaborasi & ruang budaya, kreativitas lokal, seni & ekspresi, serta warisan & tradisi hanya di Negeri Kami.

/ Search /

/ Artikel Lainnya /