Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan bahwa Indonesia dan Malaysia memperkuat kerja sama keilmuan, kebudayaan dan keagamaan melalui gelaran forum “Madani Malaysia-Indonesia” (Malindo), seperti diberitakan Antara News.
“Bagi Kementerian Kebudayaan ini adalah bagian dari upaya untuk promosi kerja sama dan diplomasi budaya antara dua negara yang memang banyak memiliki ikatan budaya dan peradaban yang sangat panjang kita berharap para cendekiawan bisa terus membangun budaya dan peradaban secara bersama-sama,” ujar Menteri Kebudayaan dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis.
Kedua negara memiliki kedekatan dari sisi akar budaya, sejarah, dan rumpun bahasa yang sama. Hal tersebut diharapkan dapat mendorong kedua negara untuk bersama-sama memajukan kebudayaan.
Madani Malindo Bahas Strategi Kebudayaan Umat Islam Asia Tenggara
Pada kesempatan yang sama, Ketua The Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC) Din Syamsuddin mengatakan bahwa kolaborasi Indonesia dan Malaysia melalui “Madani Malindo” ini diharapkan mampu menjadi pemantik kebangkitan dunia Islam di kawasan Asia Tenggara.
“Madani Malindo ini selain secara khusus memperbincangkan tentang Kawasan negara Madani yang digagas oleh Perdana Menteri Malaysia Dato Sri Anwar Ibrahim juga akan meluas nantinya untuk memperbincangkan strategi kebudayaan umat Islam Asia Tenggara termasuk Indonesia-Malaysia dalam rangka menyongsong bahwa pusat dan akar dari kebangkitan Malaysia dalam Kawasan kita ini,” katanya.
Indonesia-Malaysia Ajukan Kebaya dan Mak Yong ke UNESCO
Dari sisi kebudayaan, Indonesia dan Malaysia telah menjalin kerja sama dalam pemajuan dan pelindungan kebudayaan. Kerja sama tersebut dilakukan melalui pengajuan bersama (joint nomination) untuk mendaftarkan kebaya sebagai warisan budaya takbenda (intangible cultural heritage) ke UNESCO.
Kemudian pada tahun ini, kedua negara mengajukan teater tradisional Mak Yong ke UNESCO melalui mekanisme extended nomination atau nominasi ekstensi. Mekanisme tersebut sebelumnya telah dilakukan Malaysia, dengan Mak Yong lebih dahulu terdaftar pada 2008.
“Karena di Kepulauan Riau itu Mak Yong juga berkembang di Malaysia sudah dicatatkan juga lebih awal dan juga saya kira banyak persamaan-persamaan intangible cultural heritage kita dengan Malaysia dan juga tentu saja soal bahasa saya melihat potensi mengembangkan bahasa Indonesia Melayu itu luar biasa,” pungkas Fadli Zon.
Gelaran Madani Malindo yang kedua ini menjadi forum lintas negara untuk memperkuat kerja sama di bidang keilmuan dan kebudayaan. Forum tersebut dihadiri puluhan cendekiawan dari Indonesia dan Malaysia untuk memperkuat peradaban Melayu Islam.
Penutup
Madani Malindo menjadi forum lintas negara yang memperkuat kerja sama Indonesia dan Malaysia di bidang keilmuan dan kebudayaan. Forum ini membahas strategi kebudayaan umat Islam Asia Tenggara serta penguatan peradaban Melayu Islam. Kerja sama kebudayaan kedua negara juga dilakukan melalui pengajuan kebaya dan Mak Yong sebagai warisan budaya takbenda ke UNESCO.
Jangan lewatkan berita lainnya seputar budaya, cerita & identitas, kolaborasi & ruang budaya, kreativitas lokal, seni & ekspresi, serta warisan & tradisi dari berbagai daerah di Indonesia hanya di Negeri Kami.