Fauzi Bowo: Ali Sadikin Letakkan Dasar Pembangunan Kebudayaan Jakarta

Fauzi Bowo: Ali Sadikin Letakkan Dasar Pembangunan Kebudayaan Jakarta

Rizky Ananda

Last Updated: 21 July 2026, 01:00

Bagikan:

ali sadikin
Foto: Antara News
Table of Contents

Gubernur DKI Jakarta periode 2007-2012 Fauzi Bowo menilai Gubernur DKI Jakarta periode 1966-1977 Ali Sadikin telah meletakkan dasar-dasar pembangunan kebudayaan ibu kota. Hal tersebut menjadi fondasi kemajuan Jakarta sebagai kota metropolitan, seperti diberitakan Antara News.

“Kebudayaan sebagai fondasi pembangunan bukan hanya sekedar pelengkap,” kata Fauzi Bowo saat Peringatan 100 tahun kelahiran Ali Sadikin di Jakarta.

Pemikiran Ali Sadikin tentang Ruang Kreativitas Seniman

Pria yang akrab disapa Foke itu menilai sejumlah pemikiran pokok Ali Sadikin kembali ditegaskan sebagai rujukan dalam membaca arah pembangunan kebudayaan Jakarta. Hal tersebut termasuk dalam menghadapi tantangan era digital.

Pemikiran itu, kata dia, bermula dari sebuah pertanyaan sederhana pada awal 1968, yakni “ke mana perginya para seniman yang dahulu biasa berkumpul di kawasan Senen?”. Foke menilai mereka berhenti berkumpul karena tempat berkumpul itu sudah tidak ada.

“Dari situlah lahir keyakinan bahwa pemerintah wajib menyediakan ruang bagi seniman untuk berkreasi, sebab kemajuan kota tidak cukup diukur dari gedung tinggi atau pertumbuhan ekonomi, melainkan juga dari kehidupan seni dan budaya masyarakatnya,” kata dia.

Kebijakan Kebudayaan Ali Sadikin melalui Dewan Kesenian Jakarta

Ia mengatakan kebudayaan membangun karakter, memperkuat identitas kota, dan menjadi ruang dialog antarkelompok masyarakat. Karena itu, pemerintah tidak boleh pasif terhadap pertumbuhan kebudayaan meski kegiatan tersebut tidak selalu menguntungkan secara fiskal. Bang Ali, kata Foke, berpandangan bahwa kesenian mesti hidup dan berkembang sesuai denyut yang diinginkan Jakarta sendiri.

“Prinsip ini diwujudkan lewat pembentukan Dewan Kesenian Jakarta pada Juni 1968 yang bertugas memberi nasihat kepada Gubernur dalam membina kebudayaan Jakarta, diminta maupun tidak,” kata dia.

Pola serupa terlihat pada pendirian Lembaga Kebudayaan Betawi tahun 1977. Pengelolaannya diserahkan kepada masyarakat, sedangkan Pemerintah DKI Jakarta hanya memberi bimbingan dan bantuan seperlunya.

Taman Ismail Marzuki sebagai Simbol Visi Kebudayaan Ali Sadikin

Fauzi Bowo juga mengenang bahwa tidak ada simbol yang lebih kuat bagi visi kebudayaan Ali Sadikin selain Taman Ismail Marzuki (TIM). Lokasi monumen yang diresmikan pada 10 November 1968 itu sengaja dipilih di sentral Jakarta agar mudah dijangkau.

Menurut dia, TIM bukan sekadar hunian kompleks gedung pertunjukan, melainkan manifestasi tanggung jawab negara menyediakan ruang bagi tumbuhnya kreativitas. Dari titik inilah, seniman lintas disiplin mulai berkarya, berdiskusi, dan bertemu dengan intelektual, mahasiswa, serta masyarakat umum. Bidang yang berkembang mencakup teater, musik, tari, sastra, seni rupa, hingga perfilman, sehingga tercipta iklim budaya yang dinamis yang menjadikan Jakarta sebagai pusat perkembangan seni kontemporer Indonesia.

Penutup

Pemikiran Ali Sadikin mengenai pentingnya kebudayaan dalam pembangunan kota dinilai masih relevan hingga saat ini. Menurut Fauzi Bowo, penyediaan ruang bagi seniman dan pelestarian budaya menjadi bagian penting dalam membangun identitas Jakarta. Warisan tersebut terus dikenang sebagai salah satu fondasi perkembangan kebudayaan di ibu kota.

Jangan lewatkan berita lainnya seputar budaya, cerita & identitas, kolaborasi & ruang budaya, kreativitas lokal, seni & ekspresi, serta warisan & tradisi dari berbagai daerah di Indonesia hanya di Negeri Kami.

/ Search /

/ Artikel Lainnya /