Tekwan – Salah satu kuliner khas Palembang yang bukan hanya terkenal karena kelezatannya, tetapi juga karena kisah budaya yang melekat di baliknya. Hidangan berbahan dasar campuran daging ikan dan tapioka ini dibentuk menjadi bulatan kecil dan disajikan dengan kuah udang yang gurih. Pelengkap seperti sohun, irisan bengkuang, jamur, daun bawang, seledri, dan bawang goreng menjadikan tekwan memiliki cita rasa segar dan kompleks.
Sebagai hidangan yang telah diwariskan lintas generasi, tekwan memiliki makna budaya yang kuat dalam kehidupan masyarakat Palembang. Bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal kebiasaan berkumpul, berbincang, dan menikmati makanan bersama teman atau keluarga. Inilah yang membuat tekwan tidak sekadar makanan, tetapi juga simbol kedekatan dan kebersamaan.
Sejarah dan Perpaduan Budaya dalam Tekwan Palembang
Berdasarkan Wikipedia, tekwan adalah hasil akulturasi budaya Palembang dan Tionghoa. Sejak lama banyak masyarakat Tionghoa menetap di Palembang dan menjual makanan berbahan dasar ikan dan tepung. Dari sinilah cikal bakal tekwan muncul. Masyarakat Palembang kemudian memodifikasi hidangan tersebut agar sesuai dengan cita rasa lokal, termasuk menambahkan kuah kaldu udang dan bumbu khas daerah.
Hidangan ini kemudian berkembang menjadi kuliner yang sangat populer dan mencerminkan percampuran budaya yang harmonis. Perkembangan tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat Palembang terbuka terhadap pengaruh luar, namun tetap mempertahankan identitas rasa daerahnya.
Asal-usul Nama Tekwan Palembang
RRI menjelaskan bahwa nama “tekwan” memiliki beberapa versi yang berkembang di masyarakat:
1. Berkotek Samo Kawan
Versi yang paling populer menyebutkan bahwa kata tekwan berasal dari ungkapan Palembang “berkotek samo kawan” yang berarti mengobrol bersama kawan. Ini merujuk pada kebiasaan masyarakat Palembang yang senang makan sambil berbincang, menjadikan tekwan sebagai simbol kebersamaan.
2. Tâi-oân (Hokkien)
Versi lain menyebutkan bahwa tekwan berasal dari pengucapan bahasa Hokkien tâi-oân yang secara homofon mirip dengan kata “Taiwan”. Ini menunjukkan jejak historis interaksi masyarakat Tionghoa di Palembang.
3. Take One
Ada pula yang meyakini bahwa tekwan merupakan akronim dari frasa bahasa Inggris take one, merujuk pada cara memakan tekwan yang disantap satu per satu seperti bakso. Meskipun tidak sepopuler dua versi lainnya, pandangan ini turut mewarnai keberagaman cerita asal-usul tekwan.
Tekwan sebagai Ikon Kuliner Palembang
RRI dan Wikipedia menyebutkan bahwa tekwan telah menjadi bagian penting dari identitas kuliner Palembang. Kelezatannya tidak hanya diakui masyarakat lokal, tetapi juga para wisatawan yang datang ke kota ini. Kuah udang yang bening namun gurih, dipadu dengan bakso ikan kecil yang kenyal, menjadikan tekwan sebagai hidangan yang menyegarkan dan cocok dinikmati kapan saja.
Pelengkap seperti sohun, bengkuang, jamur kuping, dan taburan bawang goreng membuat setiap suapan semakin kaya rasa. Keunikan inilah yang membuat tekwan berbeda dari hidangan berkuah lainnya di Nusantara.
Lebih dari itu, tekwan merepresentasikan keramahan masyarakat Palembang. Dalam tradisi setempat, makanan ini sering disajikan dalam momen kebersamaan, menjadi medium mempererat hubungan antarindividu.
Penutup
Tekwan bukan hanya lezat, tetapi juga menjadi cerminan perpaduan budaya dan tradisi masyarakat setempat. Dari bahan-bahannya hingga asal-usul namanya, tekwan menggambarkan harmoni antara budaya lokal dan pengaruh Tionghoa yang telah lama hidup berdampingan di Palembang.
Simak berita menarik lainnya tentang kuliner, budaya, dan kreativitas generasi muda di Negeri Kami. Temukan inspirasi baru dan kisah seru yang memperkaya wawasan serta semangat kreatifmu.



