Sekaten Yogyakarta: 3 Fakta yang Masih Bertahan hingga Kini

Sekaten Yogyakarta: 3 Fakta yang Masih Bertahan hingga Kini

Last Updated: 30 June 2026, 01:42

Bagikan:

Sekaten Yogyakarta: 3 Fakta yang Masih Bertahan hingga Kini

negerikami.id– Di saat banyak tradisi perlahan ditinggalkan, Sekaten Yogyakarta justru terus bertahan dan menjadi salah satu agenda budaya paling dinanti setiap tahun. Ribuan warga hingga wisatawan memadati kawasan Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta untuk menyaksikan rangkaian acara yang telah diwariskan selama berabad-abad. Bagi sebagian orang, Sekaten identik dengan pasar malam dan keramaian. Namun di balik kemeriahannya, tradisi ini menyimpan sejarah panjang yang berkaitan erat dengan penyebaran Islam, budaya Jawa, dan perjalanan Keraton Yogyakarta.

Keberadaan Sekaten bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan bukti bahwa budaya lokal mampu bertahan di tengah derasnya arus modernisasi. Nilai-nilai spiritual, filosofi kehidupan, hingga simbol kebersamaan masih dipertahankan tanpa kehilangan identitasnya. Tidak heran jika tradisi ini selalu menjadi perhatian masyarakat sekaligus daya tarik wisata budaya yang memperkuat citra Yogyakarta sebagai Kota Budaya.

Asal-usul Sekaten yang Berawal dari Dakwah Islam

Sejarah mencatat bahwa Sekaten berkembang sejak masa Kesultanan Demak pada abad ke-15 sebagai media dakwah yang dipelopori para Wali Songo. Nama “Sekaten” dipercaya berasal dari kata Syahadatain, yaitu dua kalimat syahadat sebagai inti ajaran Islam. Pada masa itu, masyarakat diajak berkumpul melalui alunan gamelan kerajaan sebelum mendengarkan dakwah mengenai ajaran Islam. Pendekatan tersebut dianggap efektif karena memadukan budaya lokal dengan penyebaran agama tanpa menghilangkan tradisi yang telah hidup di tengah masyarakat Jawa.

Tradisi itu kemudian diwariskan ke Keraton Yogyakarta setelah berdirinya Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada 1755. Hingga kini, Sekaten masih dilaksanakan setiap bulan Maulud dalam kalender Jawa untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Prosesi yang tetap dipertahankan menjadi bukti bahwa nilai sejarah dan budaya dapat berjalan berdampingan dengan perkembangan zaman.

3 Fakta Sekaten Yogyakarta yang Masih Bertahan

Fakta pertama adalah keberadaan gamelan pusaka Kyai Nogowilogo dan Kyai Guntur Madu yang hanya ditabuh saat perayaan Sekaten. Kedua gamelan tersebut menjadi simbol penting dalam tradisi ini dan tidak dimainkan pada acara biasa. Proses membawa, menempatkan, hingga memainkannya dilakukan melalui tata cara adat yang masih dijaga oleh abdi dalem Keraton. Bagi masyarakat Jawa, suara gamelan bukan hanya hiburan, tetapi juga lambang ajakan berkumpul, penghormatan kepada Tuhan, serta pengingat akan sejarah panjang Kesultanan.

Fakta kedua adalah prosesi Grebeg Maulud yang menjadi puncak acara Sekaten. Dalam prosesi ini, gunungan berisi hasil bumi seperti cabai, kacang panjang, sayuran, ketan, dan berbagai makanan tradisional diarak dari Keraton menuju Masjid Gedhe Kauman. Setelah didoakan, masyarakat berebut isi gunungan karena dipercaya membawa keberkahan, rezeki, dan keselamatan. Meski terlihat seperti tradisi rebutan biasa, makna sesungguhnya adalah simbol rasa syukur sekaligus hubungan harmonis antara pemimpin dan rakyat.

Fakta ketiga, Sekaten tetap mampu menarik perhatian generasi muda meski hidup di era digital. Kehadiran media sosial justru membuat tradisi ini semakin dikenal luas. Foto-foto gamelan pusaka, Grebeg Maulud, hingga suasana pasar malam banyak dibagikan oleh pengunjung sehingga memperluas promosi budaya secara alami. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi lama tidak selalu kalah oleh perkembangan teknologi, bahkan dapat berkembang melalui platform digital tanpa kehilangan nilai aslinya.

Mengapa Sekaten Masih Bertahan?

Bertahannya Sekaten tidak lepas dari peran Keraton Yogyakarta yang konsisten menjaga seluruh rangkaian prosesi sesuai pakem budaya. Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta juga aktif mendukung pelestarian melalui kegiatan kebudayaan, promosi wisata, serta edukasi kepada masyarakat. Kolaborasi tersebut membuat Sekaten bukan hanya menjadi acara seremonial tahunan, tetapi juga bagian penting dari identitas budaya Yogyakarta yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Selain memiliki nilai sejarah, Sekaten juga memberikan dampak ekonomi yang besar. Ribuan pelaku usaha kecil memanfaatkan momentum pasar malam Sekaten untuk menjual makanan, kerajinan, mainan, hingga produk lokal. Kehadiran wisatawan dari berbagai daerah bahkan mancanegara ikut menggerakkan sektor pariwisata, transportasi, perhotelan, dan ekonomi kreatif. Inilah yang membuat Sekaten memiliki nilai budaya sekaligus manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Penutup

Sekaten Yogyakarta bukan hanya festival tahunan, melainkan simbol bagaimana tradisi kerajaan, dakwah Islam, seni budaya, dan kehidupan masyarakat dapat menyatu dalam satu perayaan yang terus bertahan hingga sekarang. Dari gamelan pusaka yang hanya dimainkan setahun sekali, Grebeg Maulud yang penuh filosofi, hingga kemampuannya beradaptasi di era digital, Sekaten membuktikan bahwa warisan budaya akan tetap hidup selama terus dijaga dan diwariskan. Di tengah perubahan zaman, tradisi ini menjadi pengingat bahwa identitas budaya Indonesia merupakan kekayaan yang tidak ternilai dan layak dilestarikan oleh setiap generasi.

Sumber Referensi:

Search

Video

Budaya Detail

DI Yogyakarta

Acara SakralAdat Istiadat

DI Yogyakarta

Budaya

Budaya Lainnya