Panada – Kue khas Manado yang populer dan menjadi salah satu warisan kuliner Sulawesi Utara. Camilan ini kerap disandingkan dengan klappertaart sebagai ikon daerah, dengan ciri khas roti goreng berisi ikan cakalang berbumbu pampis. Menurut Indonesia Kaya dan Wikipedia, meski bentuknya mirip pastel dan sering dianggap berpengaruh Belanda, sejarah dan kemiripannya dengan empanada justru menunjuk pada asal Portugis-Spanyol.
Perkembangannya di Minahasa berawal dari masuknya budaya Iberia melalui para saudagar dan pasukan beberapa abad lalu. Pengaruh tersebut kemudian berbaur dengan bahan dan selera lokal, melahirkan panada versi Manado yang mengutamakan ikan cakalang dan bumbu rica pedas aromatik sebagai ciri khasnya.
Asal Usul dan Jejak Iberia dalam Panada
Kue panada secara historis bukanlah warisan Belanda, melainkan berasal dari Portugis dan Spanyol yang singgah dan menetap di kawasan Minahasa. Dalam bahasa Iberia, panada berasal dari kata empanada, istilah untuk makanan berisi daging atau ikan yang dibungkus adonan roti. Kata kerjanya, empanar, bermakna membungkus atau membedung, seperti membungkus bayi dalam kain.
Empanada sendiri memiliki banyak varian di Spanyol dan Amerika Latin. Versi Galicia berbentuk persegi dan berisi ikan tuna berbumbu tomat, sedangkan empanada Argentina mirip bentuknya dengan panada Indonesia namun biasanya diisi daging sapi cincang. Definisi empanada sebagai roti berisi daging atau ikan yang dipanggang atau digoreng sangat mendekati deskripsi panada Manado.
Tidak ada catatan resmi mengenai siapa yang pertama membawa empanada ke Sulawesi Utara, tetapi dugaan terkuat menyebutkan bahwa camilan ini dibawa oleh pasukan Portugis yang berlabuh di Minahasa. Karena daerah ini kaya hasil laut, masyarakat setempat kemudian menyesuaikan isian empanada menjadi ikan cakalang berbumbu khas Manado, hingga terciptalah panada seperti yang dikenal saat ini.
Camilan Khas Portugis yang Bertransformasi di Manado
Secara etimologis, panada merupakan adaptasi langsung dari kuliner Portugis dan Spanyol. Kedua bahasa tersebut memiliki kata empanar dengan makna yang hampir sama: membungkus. Adaptasi ini kemudian berkembang di Indonesia, khususnya Manado, menjadi kue dengan identitas baru. Kue ini tidak hanya disesuaikan dengan bahan lokal, tetapi juga filosofi cita rasa setempat yang cenderung kuat dan pedas.
Panada tradisional menggunakan ikan cakalang yang dimasak bersama bawang merah, daun jeruk, kemangi, daun bawang, dan cabai merah. Isian ini disebut pampis, yaitu tumisan ikan suwir bercita rasa pedas dan aromatik. Kombinasi rasa pedas dari pampis dan manis-gurih dari roti menjadikan camilan ini begitu khas di lidah masyarakat Sulawesi Utara.
Perbedaan Panada dan Pastel
Meski sering disamakan, panada dan pastel memiliki perbedaan mendasar. Pastel biasanya berisi sayuran atau daging cincang dan dibungkus adonan tipis yang digoreng hingga renyah. Sementara panada menggunakan adonan roti yang lebih tebal dan lembut, sehingga teksturnya menyerupai roti goreng atau donat. Isian khasnya pun berupa pampis ikan cakalang, bukan campuran sayur seperti pada pastel.
Dalam prosesnya, panada memakai santan sebagai pengganti air sehingga menghasilkan roti yang lebih empuk dan harum. Ciri inilah yang membuat panada memiliki karakter unik dan berbeda dari berbagai roti isi di Nusantara.
Proses Pembuatan Panada
Pembuatan panada terdiri atas dua komponen, adonan dan isian. Adonan dibuat dari tepung terigu yang dicampur kuning telur dan santan hingga mengembang, sedangkan isiannya menggunakan ikan cakalang suwir yang ditumis bersama bumbu segar. Setelah diisi dan dibentuk, adonan digoreng dalam minyak bersuhu stabil hingga berwarna keemasan.
Hasil akhirnya adalah roti lembut dengan cita rasa pedas, gurih, dan harum rempah khas Manado, biasanya dinikmati sebagai camilan sore bersama kopi atau teh, serta kerap hadir dalam acara keluarga, perayaan gereja, dan hantaran.
Penutup
Panada menjadi bukti nyata akulturasi antara kuliner Iberia dan kekayaan rasa Nusantara. Berawal dari empanada yang dibawa Portugis–Spanyol, masyarakat Manado mengolahnya kembali hingga tercipta roti isi yang lebih pedas, lembut, dan sesuai selera lokal. Kini, camilan ini tidak hanya menjadi kebanggaan kuliner Manado, tetapi juga salah satu oleh-oleh yang paling diburu wisatawan.
Simak berita menarik lainnya tentang kuliner, budaya, dan kreativitas generasi muda di Negeri Kami. Temukan juga inspirasi baru dan kisah seru yang memperkaya wawasan serta semangat kreatifmu.



