Negerikami.id – Kalau mendengar kata bubur, sebagian orang mungkin langsung membayangkan bubur nasi dengan suwiran ayam, kecap, kerupuk dan taburan bawang goreng. Namun, bayangan itu akan berubah ketika semangkuk Bubur Manado atau tinutuan datang ke meja. Warnanya lebih ramai karena dipenuhi sayuran, sementara rasanya justru terasa ringan dan segar.
Di sinilah letak keunikan Tinutuan. Makanan yang berasal dari Sulawesi Utara ini secara resmi tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2017 dengan nomor SK 260/M/2017. Data kebudayaan pemerintah juga mencatat Tinutuan sebagai makanan berbentuk bubur yang dominan menggunakan sayuran dan dikenal di wilayah Minahasa.
1. Rahasianya Justru Ada pada Banyaknya Sayuran
Hal pertama yang membuat Bubur Manado berbeda adalah komposisinya. Tinutuan dikenal sebagai bubur yang dominan menggunakan bahan sayuran, bukan bubur yang menjadikan daging sebagai pusat hidangan. Berbagai sayuran dan bahan pangan lokal dimasak bersama hingga menghasilkan tekstur bubur yang lembut. Karena itu, tampilannya biasanya jauh lebih berwarna dibandingkan bubur nasi pada umumnya.
Komposisi tersebut membuat Tinutuan memiliki karakter yang sangat berbeda dari bubur ayam. Labu kuning, jagung dan berbagai sayuran yang digunakan dalam banyak versi Tinutuan membuat rasa dan teksturnya lebih beragam. Namun, resep dapat berbeda menurut keluarga, daerah dan penjual, sehingga tidak tepat menganggap hanya ada satu komposisi Tinutuan yang benar.
2. Nama “Tinutuan” Punya Jejak Budaya Minahasa
Rahasia kedua bukan berada di dapur, melainkan pada identitasnya. Pemerintah mencatat Tinutuan sebagai warisan budaya dari Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, dengan nama lain yang juga dikenal di sejumlah komunitas, termasuk pedal di kalangan Tontemboan dan winiran di kalangan Tondano. Ini menunjukkan bahwa Tinutuan bukan sekadar makanan populer di Kota Manado.
Dalam perkembangannya, nama Bubur Manado menjadi lebih dikenal masyarakat luas karena hidangan tersebut sangat lekat dengan kuliner Manado. Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara juga memasukkan tinutuan sebagai salah satu makanan khas daerah dalam materi pariwisatanya. Jadi, istilah “Bubur Manado” lebih mudah dikenali secara nasional, sedangkan Tinutuan membawa jejak identitas budaya yang lebih panjang.
3. Bubur yang Sederhana Justru Diakui sebagai Warisan Budaya
Ini mungkin bagian yang paling mengejutkan. Tinutuan bukan hanya makanan rumahan atau menu sarapan yang populer, tetapi sudah masuk daftar Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2017. Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa nilai sebuah makanan tradisional tidak hanya ditentukan oleh harga atau popularitasnya, tetapi juga oleh pengetahuan dan praktik budaya yang diwariskan masyarakat.
Menariknya, karakter Tinutuan justru terletak pada kesederhanaannya. Tidak membutuhkan tampilan mewah untuk menjadi bagian dari identitas daerah. Semangkuk bubur dengan sayuran dapat membawa cerita tentang pangan lokal, kebiasaan makan dan pengetahuan kuliner masyarakat Sulawesi Utara dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kenapa Bubur Manado Disebut Sarapan Sehat?
Sebutan “sarapan sehat” memang populer karena Tinutuan banyak menggunakan sayuran. Namun, secara lebih tepat, nilai gizinya bergantung pada bahan, jumlah dan lauk pendamping yang digunakan. Karena itu, Tinutuan sebaiknya dipahami sebagai makanan tradisional berbahan dominan sayuran, bukan otomatis makanan yang selalu memenuhi seluruh kebutuhan gizi seseorang.
Biasanya Tinutuan juga disantap bersama pelengkap tertentu, seperti ikan asin, sambal dan lauk lainnya. Kombinasi tersebut membuat rasa yang awalnya lembut menjadi lebih kompleks. Inilah salah satu daya tariknya: satu hidangan sederhana dapat menghadirkan rasa gurih, pedas, manis alami dan tekstur sayuran dalam satu mangkuk.
Penutup
Bubur Manado ternyata jauh lebih menarik daripada sekadar menu sarapan. Tinutuan memiliki karakter dominan sayuran, jejak budaya Minahasa dan pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2017.
Di tengah tren makanan modern, hidangan seperti Tinutuan mengingatkan bahwa kuliner tradisional tidak harus rumit untuk memiliki cerita. Justru dari semangkuk bubur sederhana, identitas budaya Sulawesi Utara tetap hidup dan terus dikenal hingga sekarang.
Sumber Referensi
- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi – Warisan Budaya: Tinutuan https://budaya.data.kemdikbud.go.id/wbtb/objek/AA000718
- Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan – Malam Perayaan & Penetapan Warisan Tak Benda Indonesia 2017 https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/malam-perayaan-dan-penetapan-warisan-tak-benda-indonesia-2017/

