Nujuh Jerami merupakan tradisi adat masyarakat Suku Lom di Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yang dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen padi sekaligus penghormatan terhadap warisan leluhur. Tradisi tersebut masih bertahan hingga sekarang dan terus dilestarikan masyarakat adat karena dianggap sebagai bagian penting dari identitas budaya lokal (ANTARA Babel, 2025).

Nujuh Jerami Menjadi Tradisi Syukur Panen yang Masih Bertahan di Bangka

Masyarakat Suku Lom melaksanakan Nujuh Jerami setiap tahun setelah musim panen padi selesai. Tradisi tersebut berlangsung di Dusun Air Abik, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka yang dikenal sebagai salah satu wilayah masyarakat adat Suku Lom yang masih mempertahankan adat istiadat leluhur hingga saat ini (Koran Jakarta, 2025).

Tradisi tersebut memiliki fungsi penting dalam kehidupan masyarakat karena menjadi simbol rasa syukur atas hasil pertanian yang diperoleh selama satu musim tanam. Masyarakat adat juga menjadikan ritual tersebut sebagai sarana mempererat hubungan sosial antarwarga dan memperkuat identitas budaya daerah (Koran Jakarta, 2025).

Beberapa tujuan utama pelaksanaan Nujuh Jerami meliputi:

Kehadiran masyarakat dari berbagai daerah setiap tahun menunjukkan bahwa tradisi tersebut masih memiliki nilai penting dalam kehidupan sosial masyarakat Bangka hingga sekarang (Koran Jakarta, 2025).

Tradisi Nujuh Jerami Menjadi Simbol Identitas Budaya Suku Lom

Nujuh Jerami tidak hanya berfungsi sebagai ritual panen, tetapi juga menjadi simbol keberlanjutan budaya masyarakat adat. Masyarakat Suku Lom meyakini bahwa tradisi tersebut mengandung nilai penghormatan terhadap alam, leluhur, dan sumber kehidupan yang menopang kehidupan mereka sehari-hari (Koran Jakarta, 2025).

Pelaksanaan ritual melibatkan tokoh adat, keluarga besar, serta masyarakat sekitar yang hadir untuk mengikuti rangkaian kegiatan budaya. Prosesi tersebut mencerminkan kuatnya hubungan masyarakat adat dengan nilai gotong royong dan kebersamaan yang diwariskan secara turun-temurun (Koran Jakarta, 2025).

Beberapa nilai budaya yang terkandung dalam Nujuh Jerami antara lain:

Nilai-nilai tersebut membuat Nujuh Jerami tetap relevan meskipun masyarakat menghadapi perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang semakin cepat (Koran Jakarta, 2025).

Baca Juga: Lotek Bandung Legendaris yang Selalu Diburu Wisatawan karena Bumbu Kacangnya yang Gurih dan Autentik

Nujuh Jerami Resmi Tercatat sebagai Kekayaan Intelektual Komunal

Tradisi Nujuh Jerami memperoleh pengakuan penting setelah tercatat sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) oleh Kementerian Hukum Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pencatatan tersebut bertujuan memberikan perlindungan terhadap warisan budaya masyarakat adat agar tetap terjaga dan tidak mudah diklaim pihak lain (ANTARA Babel, 2025).

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum Bangka Belitung menyatakan bahwa pencatatan KIK menjadi langkah penting untuk melindungi budaya lokal yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat adat Bangka Belitung (ANTARA Babel, 2025).

Media lokal Bangka Belitung juga melaporkan bahwa pencatatan tersebut menjadi bentuk pengakuan negara terhadap nilai budaya yang dimiliki masyarakat Suku Lom selama bertahun-tahun (Kilas Babel, 2025).

Pencatatan KIK memberikan sejumlah manfaat bagi pelestarian budaya, yaitu:

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan budaya lokal agar tetap dikenal generasi mendatang (Kilas Babel, 2025).

Nujuh Jerami Mendukung Pelestarian Wisata Budaya Bangka Belitung

Pelaksanaan Nujuh Jerami juga menjadi daya tarik wisata budaya yang memperkenalkan kehidupan masyarakat adat Suku Lom kepada masyarakat luas. Tradisi tersebut menghadirkan berbagai unsur budaya yang mencerminkan kekayaan adat Bangka Belitung (Koran Jakarta, 2025).

Pemerintah daerah dan masyarakat adat terus mendorong pelestarian tradisi tersebut melalui berbagai kegiatan budaya yang melibatkan generasi muda. Upaya tersebut bertujuan menjaga keberadaan Nujuh Jerami agar tetap dikenal dan dipahami oleh masyarakat modern (Koran Jakarta, 2025).

Tradisi tersebut memberikan dampak positif bagi daerah karena:

Keberadaan Nujuh Jerami menunjukkan bahwa budaya lokal masih memiliki ruang penting dalam kehidupan masyarakat modern yang terus berkembang (Koran Jakarta, 2025).

Nujuh Jerami Membuktikan Tradisi Leluhur Masih Hidup Hingga Sekarang

Nujuh Jerami menjadi bukti bahwa masyarakat adat masih mampu menjaga warisan budaya di tengah perubahan zaman. Masyarakat Suku Lom mempertahankan tradisi ini sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Tradisi tersebut juga menjadi simbol identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi (Koran Jakarta, 2025).

Pencatatan sebagai Kekayaan Intelektual Komunal semakin memperkuat posisi Nujuh Jerami sebagai warisan budaya penting di Bangka Belitung. Tradisi ini tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Suku Lom. Selain itu, Nujuh Jerami juga menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang perlu dilestarikan (ANTARA Babel, 2025).

Bagi Anda yang ingin mengenal lebih banyak budaya unik dari berbagai daerah di Indonesia, jangan lewatkan artikel budaya lainnya di Negeri Kami. Beragam informasi tentang tradisi adat, warisan budaya, dan kearifan lokal Nusantara dapat menambah wawasan budaya Anda.

Temukan juga berbagai ulasan budaya daerah lainnya di Negeri Kami. Artikel-artikel tersebut membahas tradisi langka, sejarah masyarakat adat, serta kekayaan budaya Indonesia yang masih bertahan hingga kini.

Referensi