Sejarah Kota Tangerang – Telah ada lebih dari empat abad, bermula dari bagian wilayah Kesultanan Banten, masa kolonial yang dikenal sebagai “Ommelanden,” hingga berkembang menjadi kota otonom modern. Kota ini memainkan peran penting sebagai wilayah penyangga Batavia (sekarang Jakarta) sekaligus pusat kegiatan ekonomi dan sosial.
Nama Tangerang berasal dari bahasa Sunda, yaitu “Tanggeran/Nanggeran” yang berarti tugu penanda. Kota ini menjadi batas wilayah antara Kesultanan Banten dan pemerintah kolonial Belanda pada abad ke-17. Tangerang kemudian berkembang menjadi kota multietnis, termasuk penduduk asli Sunda, Betawi, Jawa, dan Tionghoa.
Sejarah Kota Tangerang
Awal Penempatan Penduduk dan Masa Kesultanan Banten
Pada 1526, penduduk baru dari pesisir Kesultanan Demak dan Cirebon datang ke Tangerang, membawa budaya dan etnis Jawa sekaligus memperluas wilayah Kesultanan Banten. Penduduk asli Tangerang adalah suku Sunda, dan kemudian terjadi interaksi dengan etnis lainnya, terutama Tionghoa dan Betawi, seiring perkembangan wilayah urban sekitar Batavia.
Tangerang di Masa Kolonial: Ommelanden dan Benteng VOC
Pada 1569, wilayah sebelah timur Sungai Cisadane jatuh ke tangan Belanda. Selanjutnya, pada 1684 terjadi pelebaran wilayah Batavia sepanjang Sungai Cisadane hingga muara dan Laut Kidul.
Tangerang dikenal dengan sebutan “Benteng” karena adanya pembangunan pos pertahanan VOC sejak abad ke-17 untuk menghadapi serangan dari Banten. Raden Aria Soetadilaga diangkat sebagai Bupati Tangerang I, mengatur wilayah antara Sungai Angke dan Sungai Cisadane. Tangerang menjadi daerah kekuasaan VOC dan terlepas dari campur tangan Banten.
Transformasi Tangerang Menjadi Kota Otonom
Kota Tangerang mulai menjadi Kota Administratif pada 1981 dan meningkat menjadi Kotamadya Tangerang sesuai UU No. 2 Tahun 1993. Pelantikan Djakaria Mahmud sebagai Pejabat Wali Kotamadya menandai era otonomi penuh Kota Tangerang.
Tangerang sebagai Gateway of Indonesia
Dengan pembangunan infrastruktur modern dan Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Kecamatan Benda, Tangerang kini menjadi gerbang internasional, sehingga dikenal sebagai “Gateway of Indonesia”. Kota ini tetap mempertahankan keberagaman etnis dan budaya, termasuk Sunda, Betawi, Jawa, Lampung, Minangkabau, Batak, dan Tionghoa (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tangerang, 2024; Wikipedia).
Geografi dan Demografi Kota Tangerang
Kota Tangerang terletak di Provinsi Banten, ±20,7 km barat Jakarta, dengan luas wilayah ±153,9 km² dan ketinggian 10 – 30 mdpl. Sungai Cisadane melintasi kota dari hulu di lereng Gunung Salak dan Pangrango.
Kota ini berbatasan dengan Kabupaten Tangerang di utara dan barat, Kota Tangerang Selatan serta Kabupaten Tangerang di selatan, serta Jakarta Barat dan Jakarta Selatan di timur.
Penduduk Tangerang berjumlah 1.957.349 jiwa pada akhir 2024, dengan kepadatan 12.000 jiwa/km². Tingkat kemiringan tanah 0 – 3% sebagian besar, iklim tropis muson (Am), curah hujan tahunan 1.000 – 2.000 mm, dan suhu rata-rata 23° – 34 °C (Wikipedia).
Penutup
Sejarah Kota Tangerang menampilkan perjalanan panjang dari wilayah Kesultanan Banten hingga masa kolonial Ommelanden. Kota ini kemudian berkembang menjadi kota modern yang strategis dan multietnis.
Kunjungi Negeri Kami untuk membaca lebih banyak cerita inspiratif tentang warisan budaya, kreativitas lokal, dan sejarah Indonesia yang tak lekang oleh waktu.
Referensi:
- Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tangerang. (2024). Sejarah Kota Tangerang: Dari Ommelanden sampai Gateaway of Indonesia. Diakses dari https://www.tangerangkota.go.id/berita/detail/41175/sejarah-kota-tangerang-dari-ommelanden-sampai-gateaway-of-indonesia
- Wikipedia. Kota Tangerang. Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Tangerang