Menteri Kebudayaan Fadli Zon meresmikan Museum Rumah Pengasingan Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir di Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi, Jawa Barat. Museum tersebut telah direvitalisasi untuk menghidupkan kembali ruang ingatan bangsa pada peristiwa bersejarah di masa lalu, seperti diberitakan Antara News.
“Museum harus menjadi ruang pembelajaran yang hidup, tempat masyarakat, terutama generasi muda, dapat berdialog dengan sejarah,” kata Fadli dalam siaran pers Kementerian Kebudayaan.
Pada Februari 1942, Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir dipindahkan dari Banda Neira ke kompleks Sekolah Polisi Sukabumi sebagai tahanan politik. Meskipun berada dalam pengawasan kolonial yang ketat, dari rumah tersebut usaha, pemikiran, dan rintisan perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia terus dinyalakan.
Fadli menilai revitalisasi museum itu merupakan langkah nyata untuk menghidupkan kembali jejak perjuangan, keteguhan hati, pemikiran, dan pengorbanan kedua tokoh tersebut sebagai warisan budaya bagi generasi mendatang.
“Semoga semakin banyak masyarakat yang mengunjungi museum ini untuk belajar dan meneladani perjuangan para pahlawan kita,” kata Fadli.
Sejalan dengan itu, Kementerian Kebudayaan terus mendorong transformasi museum agar tidak berhenti sebagai tempat penyimpanan dan perlindungan koleksi sejarah. Museum diarahkan menjadi ruang edukasi, literasi, penelitian, arsip, serta ruang kreatif yang relevan dan interaktif bagi masyarakat.
Revitalisasi Memperkuat Penyajian Sejarah
Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan regulasi dan kebijakan pengembangan museum serta peningkatan infrastruktur. Langkah tersebut juga mencakup digitalisasi koleksi untuk memperluas akses masyarakat, serta penguatan kemitraan dan kolaborasi.
Pada 2026, Kementerian Kebudayaan melalui program “revitalisasi museum, keraton, dan taman budaya” telah menyelesaikan arsitektur fisik serta penataan interior dan kuratorial Museum Rumah Pengasingan Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir. Upaya tersebut dilakukan guna memperkuat penyajian sejarah kedua tokoh melalui konten yang lebih informatif dan kontekstual.
Pada bangunan utama sisi kanan, museum menyajikan lini masa perjuangan Mohammad Hatta. Museum juga menampilkan ruang kerja yang memuat karya tulis dan kliping koran era Jepang hingga kemerdekaan, serta peta perjalanan pengasingan Bung Hatta. Pada sisi kiri, pengunjung dapat melihat lini masa Sutan Sjahrir. Museum juga menampilkan gramofon lagu kesukaan Sjahrir, pajangan radio pemberitaan luar negeri, serta kearsipan surat kabar Daulat Ra’yat.
Komitmen Menjaga Rumah Pengasingan
Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, menyambut baik peresmian Museum Rumah Pengasingan Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir. Ia menyatakan siap memperkuat kolaborasi Pemerintah Kota Sukabumi dengan Kementerian Kebudayaan untuk merawat museum agar terus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kepala Setukpa Lemdiklat Polri, Brigjen Pol. Dirin, menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan revitalisasi hingga peresmian museum tersebut pada Sabtu (12/9). Dirin mengatakan rumah pengasingan itu memiliki nilai penting sebagai bagian dari sejarah perjuangan dan kemerdekaan Indonesia. Rumah tersebut juga menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat masa kini dan generasi mendatang. Oleh karena itu, Dirin menyatakan siap menjaga dan merawat rumah pengasingan tersebut agar tetap menjadi bagian penting dari sejarah bangsa.
Museum Rumah Pengasingan Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir menempati bangunan bersejarah di dalam kompleks Sekolah Pembentukan Perwira (Setukpa) Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Lemdiklat) Polri di wilayah Pemerintah Kota Sukabumi.
Penutup
Revitalisasi Museum Rumah Pengasingan Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir di Sukabumi menjadi langkah untuk menghidupkan kembali ruang ingatan bangsa terhadap sejarah perjuangan kedua tokoh tersebut. Melalui penataan arsitektur, interior, dan kuratorial, museum memperkuat penyajian sejarah sekaligus menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat dan generasi mendatang.
Jangan lewatkan berita lainnya seputar budaya, cerita & identitas, kolaborasi & ruang budaya, kreativitas lokal, seni & ekspresi, serta warisan & tradisi dari berbagai daerah di Indonesia hanya di Negeri Kami.