Suasana Car Free Day (CFD) di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, pada Minggu pagi, 8 Maret 2026, berubah menjadi lebih meriah dari biasanya. Warga yang sedang berolahraga di sepanjang Jalan MH Thamrin hingga Sudirman tiba‑tiba disambut arak‑arakan pawai ogoh-ogoh.
Parade budaya tersebut digelar sebagai bagian dari rangkaian perayaan menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948. Patung ogoh-ogoh berukuran besar dengan bentuk makhluk raksasa menjadi pusat perhatian warga yang memadati area CFD.
Pawai Ogoh-Ogoh Dimulai dari Kawasan Monas
Berdasarkan laporan media, pawai ogoh-ogoh mulai digelar pada Minggu pagi sekitar pukul 07.00 WIB saat kegiatan CFD berlangsung. Arak-arakan dimulai dari kawasan Monumen Nasional (Monas) kemudian bergerak menyusuri Jalan MH Thamrin hingga menuju Bundaran HI (Kumparan, 2026).
Puluhan peserta dari komunitas Hindu dan masyarakat Bali di Jakarta ikut mengarak ogoh-ogoh sambil mengenakan pakaian adat Bali. Beberapa patung yang diarak memiliki tinggi beberapa meter dan menampilkan karakter raksasa atau makhluk mitologi.
Arak-arakan ini menjadi salah satu kegiatan budaya yang menarik perhatian warga karena jarang digelar di pusat kota Jakarta. Banyak masyarakat yang menghentikan aktivitas olahraga mereka untuk melihat langsung parade tersebut.
Warga CFD Berhenti Menonton Parade Budaya
Ketika rombongan ogoh-ogoh memasuki kawasan Bundaran HI, kerumunan warga CFD terlihat berkumpul di pinggir jalan untuk menyaksikan arak‑arakan tersebut. Banyak pengunjung yang mengabadikan momen itu dengan ponsel mereka.
Parade ogoh-ogoh ini memang sengaja digelar untuk memeriahkan rangkaian perayaan Nyepi sekaligus memperkenalkan budaya Bali kepada masyarakat Jakarta (detikTravel, 2026).
Selain patung ogoh-ogoh, iringan musik tradisional Bali juga terdengar sepanjang arak‑arakan sehingga menciptakan suasana seperti festival budaya di tengah kegiatan CFD.
Makna Pawai Ogoh-Ogoh Menjelang Nyepi
Dalam tradisi Hindu Bali, pawai ogoh-ogoh biasanya dilakukan pada malam atau hari menjelang Nyepi yang disebut Hari Pengerupukan. Patung ogoh-ogoh melambangkan sifat negatif atau energi jahat yang harus disucikan sebelum memasuki hari suci.
Ogoh-ogoh diarak sebagai simbol pembersihan alam semesta dari unsur negatif sebelum umat Hindu menjalani Nyepi yang identik dengan suasana hening dan refleksi diri (Liputan6, 2026).
Setelah prosesi arak-arakan selesai, dalam tradisi Bali ogoh-ogoh biasanya dimusnahkan sebagai simbol pemurnian. Tradisi ini dipercaya dapat membersihkan energi negatif sebelum memasuki hari hening Nyepi.
Pawai ogoh-ogoh di Bundaran HI menjadi bukti bahwa tradisi budaya tetap dapat ditampilkan di tengah kota metropolitan seperti Jakarta. Parade ini tidak hanya menjadi tontonan menarik bagi warga CFD, tetapi juga memperkenalkan kekayaan budaya Bali kepada masyarakat luas.
Bagi Anda yang ingin mengetahui berbagai peristiwa menarik, budaya, hingga berita viral lainnya, jangan lewatkan artikel terbaru di Negeri Kami. Temukan informasi terkini dari berbagai daerah di Indonesia hanya di Negeri Kami.