Kala Domba Garut Adu Kepala di Sumedang: Tradisi, Hiburan, atau Pertaruhan Gengsi Peternak?

Kala Domba Garut Adu Kepala di Sumedang: Tradisi, Hiburan, atau Pertaruhan Gengsi Peternak?

Aprillia Pradana

Last Updated: 21 December 2025, 17:17

Bagikan:

tradisi adu domba di sumedang
Table of Contents

Kalau kamu mengira hiburan desa itu selalu sederhana dan sunyi, berarti kamu belum pernah menyaksikan adu ketangkasan Domba Garut di Sumedang. Di Pamidangan Pasirlangit, Desa Cibungur, Kecamatan Rancakalong, dentuman musik Sunda berpadu dengan suara benturan kepala domba. Riuh, berdebar, dan jujur saja cukup bikin orang bertanya: ini budaya, hiburan, atau ajang adu gengsi yang diwariskan turun-temurun?

Sejak pagi, arena sudah dipenuhi penonton. Lantunan kendang dan terompet khas Sunda mengiringi dua domba Garut yang saling berhadapan. Saat aba-aba diberikan, kepala bertemu kepala. Duk! Sorak sorai penonton langsung pecah. Beberapa pemilik ikut menari kecil mengikuti irama musik, seolah setiap benturan adalah bagian dari pertunjukan seni.

Di sisi arena, pemandangan lain tak kalah menarik. Para pemilik domba sibuk mengurut hewan mereka, memastikan otot siap dan napas stabil sebelum turun ke arena. Di sini, domba bukan sekadar ternak. Mereka adalah “atlet”, kebanggaan, bahkan identitas pemiliknya.

Lebih dari 200 Domba, Satu Arena Kebanggaan

Tak main-main, lebih dari 200 ekor Domba Garut diikutsertakan dalam kegiatan Milangkala ke-6 Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) DPC Kabupaten Sumedang. Acara ini digelar selama dua hari, dari Sabtu hingga Minggu, dengan puncak keramaian di hari terakhir.

Ketua HPDKI Sumedang, Jajang Surjana, menegaskan bahwa adu ketangkasan ini bukan semata soal adu kuat.

“Yang pertama tentu silaturahmi, karena kita orang Sunda. Yang kedua, meningkatkan hasil budidaya. Kalau domba sering ikut kontestasi, nilai dan kualitasnya ikut naik,” ujarnya.

Hari pertama, arena hanya dibuka untuk peternak lokal Sumedang. Hari kedua, acara dibuka untuk umum. Pameran domba dan kambing unggulan pun digelar, menarik perhatian pengunjung yang ingin melihat langsung ternak bernilai puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Tradisi yang Menggerakkan Ekonomi Desa

Di balik riuhnya arena, ada roda ekonomi yang ikut bergerak. Jajang menyebut, kegiatan ini sengaja dikembangkan agar harga domba dan kambing peternak meningkat.

“Kalau sering dipamerkan dan dilombakan, harganya bisa naik. Ini membantu ekonomi kerakyatan, khususnya di bidang peternakan,” katanya.

Hal ini diamini Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Sumedang, Asep Aan Dahlan. Menurutnya, seni ketangkasan Domba Garut bukan sekadar pelestarian budaya, tetapi juga sarana edukasi dan peningkatan nilai ekonomi.

“Ketangkasan ini mengandung nilai sosial, ekonomi, dan edukasi. Mulai dari silaturahmi, kesehatan ternak, sampai tata kelola peternakan yang baik,” ujarnya.

Antara Budaya dan Kontroversi

Meski meriah, seni ketangkasan domba tak lepas dari perdebatan. Sebagian orang melihatnya sebagai warisan budaya Sunda yang harus dijaga. Namun, ada pula yang mempertanyakan aspek kesejahteraan hewan.

Di sinilah dilema itu muncul. Bagi peternak, domba yang diturunkan ke arena justru dirawat ekstra ketat. Pola makan, kesehatan, hingga perawatan rutin menjadi perhatian utama. Domba yang sakit atau tidak fit tidak akan diikutsertakan.

Bagi penonton, pertunjukan ini adalah hiburan rakyat yang jarang ditemui. Anak-anak berlarian, orang dewasa sibuk merekam, para sesepuh duduk mengamati sambil sesekali berkomentar pelan.

Menariknya, panitia juga membagikan susu kambing gratis kepada penonton. Tujuannya sederhana: mengenalkan manfaat dan rasa susu kambing, sekaligus edukasi gizi bagi masyarakat.

Penutup

Adu ketangkasan Domba Garut di Sumedang mungkin terdengar ekstrem bagi sebagian orang. Tapi di balik dentuman kepala dan sorak penonton, ada cerita tentang budaya, ekonomi, dan kebanggaan lokal yang terus dijaga.

Tradisi ini hidup karena dirawat diperdebatkan, dikritik, tapi tetap dicintai. Ia bukan sekadar tontonan, melainkan cermin bagaimana masyarakat desa merayakan identitas, kerja keras, dan kebersamaan.

Dan di tengah dunia yang semakin seragam, mungkin justru tradisi seperti inilah yang membuat kita sadar: budaya tak selalu rapi dan sunyi. Kadang ia bising, penuh emosi, dan sangat manusiawi.

Tags:

/ Search /

/ Artikel Lainnya /