Jalan Panjang Rahmi Hidayati Menjaga Eksistensi Kebaya hingga UNESCO

Jalan Panjang Rahmi Hidayati Menjaga Eksistensi Kebaya hingga UNESCO

Aprillia Pradana

Last Updated: 12 May 2026, 01:04

Bagikan:

Jalan Panjang Rahmi Hidayati Menjaga Eksistensi Kebaya hingga UNESCO
Table of Contents

negerikami.id – Kebaya bukan sekadar pakaian tradisional. Bagi masyarakat Indonesia, kebaya adalah identitas budaya, simbol perempuan Nusantara, sekaligus warisan sejarah yang terus hidup dari generasi ke generasi. Di tengah perkembangan tren fesyen modern yang semakin cepat, keberadaan kebaya sempat dianggap mulai tersisih. Namun, di balik perjuangan menjaga eksistensi kebaya, ada sosok Rahmi Hidayati yang konsisten memperjuangkan budaya Indonesia hingga mendapat pengakuan dunia melalui UNESCO.

Perjuangan Melestarikan Kebaya

Rahmi Hidayati dikenal sebagai pendiri komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia. Selama bertahun-tahun, ia aktif mengajak masyarakat, terutama generasi muda, untuk kembali mencintai kebaya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Baginya, kebaya tidak hanya cocok digunakan pada acara resmi atau peringatan hari besar nasional, tetapi juga bisa dipakai dalam aktivitas sehari-hari dengan nyaman dan modern. (detikTravel)

Perjalanan Rahmi dalam melestarikan kebaya tidak selalu mudah. Salah satu tantangan terbesar adalah stigma masyarakat yang menganggap kebaya sebagai pakaian kuno, ribet, dan tidak praktis. Dalam berbagai wawancara, Rahmi menyebut masih banyak orang yang merasa kebaya membatasi ruang gerak dan kurang cocok digunakan oleh generasi muda masa kini. (KOMPAS.com)

Kebaya Bisa Dipakai untuk Aktivitas Modern

Padahal menurut Rahmi, kebaya bisa tetap terlihat modis jika dipadukan dengan gaya yang tepat. Ia bahkan sering mengenakan kebaya untuk aktivitas yang tidak biasa, mulai dari traveling ke luar negeri, bersepeda jarak jauh, hingga mendaki gunung. Lewat aksi tersebut, Rahmi ingin menunjukkan bahwa kebaya bukan pakaian yang membatasi aktivitas perempuan. (detikTravel)

Konsistensi Rahmi dalam memperkenalkan kebaya akhirnya menjadi inspirasi bagi banyak perempuan Indonesia. Melalui komunitas yang ia bangun, Rahmi aktif mengadakan diskusi budaya, lokakarya memakai kebaya, hingga edukasi mengenai sejarah dan filosofi kebaya Nusantara. Tujuannya sederhana, yakni membuat generasi muda merasa dekat dengan budaya sendiri. (detikTravel)

Kebaya Resmi Diakui UNESCO

Perjuangan panjang itu semakin mendapat perhatian setelah kebaya resmi diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada Desember 2024. Pengakuan tersebut diumumkan dalam sidang ke-19 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage di Asunción, Paraguay. (detiknews)

Menariknya, pengajuan kebaya ke UNESCO dilakukan secara multinasional bersama lima negara Asia Tenggara, yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand. UNESCO menjelaskan bahwa kebaya merupakan busana tradisional yang memiliki nilai budaya, keterampilan, serta tradisi yang diwariskan secara turun-temurun di kawasan Asia Tenggara. (Intangible Cultural Heritage)

Meski telah mendapat pengakuan internasional, Rahmi menilai perjuangan melestarikan kebaya belum selesai. Ia bersama pegiat budaya lainnya masih terus mendorong pengakuan yang lebih spesifik terhadap ragam kebaya khas Indonesia agar identitas budaya Nusantara tidak kabur di mata dunia. (detikTravel)

Ragam Kebaya Indonesia yang Kaya Makna

Indonesia sendiri memiliki banyak jenis kebaya dengan karakteristik berbeda di setiap daerah. Ada Kebaya Kartini dari Jawa, Kebaya Kutu Baru, Kebaya Sunda, Kebaya Bali, hingga Kebaya Basiba dari Sumatera Barat. Setiap jenis kebaya memiliki bentuk, filosofi, dan pengaruh budaya lokal yang berbeda-beda. Keberagaman inilah yang membuat kebaya menjadi salah satu warisan budaya paling kaya di Indonesia. (detikTravel)

Dalam catatan sejarah, kebaya juga memiliki perjalanan panjang dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Kebaya pernah menjadi simbol nasionalisme perempuan Indonesia sejak era perjuangan kemerdekaan. Bahkan, Presiden Soekarno pernah menetapkan kebaya sebagai busana nasional perempuan Indonesia pada Kongres Wanita Indonesia tahun 1964. (detikcom)

Masa Depan Kebaya di Tangan Generasi Muda

Saat ini, kebaya mulai mengalami transformasi modern. Banyak desainer muda menghadirkan model kebaya yang lebih sederhana, fleksibel, dan cocok digunakan oleh generasi muda. Perubahan ini menjadi salah satu cara agar kebaya tetap relevan di tengah perkembangan zaman dan budaya populer global.

Apa yang dilakukan Rahmi Hidayati menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu harus dilakukan dengan cara besar. Konsistensi memakai kebaya, mengedukasi masyarakat, dan membangun komunitas ternyata mampu memberikan dampak nyata terhadap keberlangsungan budaya Indonesia.

Rahmi juga menjadi bukti bahwa anak muda memiliki peran penting dalam menjaga budaya bangsa. Tanpa keterlibatan generasi muda, kebaya bisa saja hanya menjadi pajangan sejarah tanpa makna hidup di tengah masyarakat modern.

Kini, setelah kebaya diakui UNESCO, tantangan berikutnya adalah menjaga agar budaya tersebut tetap digunakan, dicintai, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Sebab budaya tidak akan bertahan hanya dengan pengakuan dunia, melainkan melalui masyarakat yang terus melestarikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Perjalanan Rahmi Hidayati menjaga eksistensi kebaya hingga ke UNESCO menjadi pengingat bahwa budaya Indonesia memiliki nilai besar di mata dunia. Kebaya bukan sekadar pakaian tradisional, tetapi simbol identitas, sejarah, dan kebanggaan bangsa yang harus terus dijaga bersama.

Sumber Referensi

/ Search /

/ Artikel Lainnya /