Yadnya Kasada: Ritual Sakral Suku Tengger di Kawah Bromo

Yadnya Kasada: Ritual Sakral Suku Tengger di Kawah Bromo

Last Updated: 11 January 2026, 06:00

Bagikan:

yadnya kasada
Foto: Perpustakaan Digital Budaya Indonesia

Yadnya Kasada – Ritual adat sakral masyarakat Suku Tengger yang digelar setiap tahun di Kawah Gunung Bromo, Jawa Timur. Upacara ini menjadi peristiwa penting yang mempertemukan keyakinan religius, penghormatan kepada leluhur, serta hubungan harmonis manusia dengan alam.

Berdasarkan catatan Indonesia Kaya dan Wikipedia, ritual ini diikuti oleh masyarakat Tengger dari empat kabupaten di Jawa Timur, yakni Pasuruan, Malang, Lumajang, dan Probolinggo. Hingga kini, Yadnya Kasada tetap bertahan sebagai tradisi yang hidup dan terbuka untuk disaksikan masyarakat luas.

Asal-usul Yadnya Kasada

Ritual ini berakar dari legenda Rara Anteng dan Joko Seger, leluhur masyarakat Tengger. Keduanya berdoa kepada Sang Hyang Widhi Wasa agar dikaruniai keturunan dan berjanji akan mengorbankan salah satu anaknya. Doa tersebut dikabulkan dengan lahirnya 25 orang putra-putri.

Ketika janji itu tidak ditepati, terjadi prahara besar di Gunung Bromo. Raden Kusuma, anak bungsu mereka, lenyap masuk ke kawah Bromo. Dari kawah terdengar pesan agar keturunan mereka secara berkala memberikan persembahan pada bulan Kasada demi kehidupan yang aman dan sejahtera. Pesan inilah yang kemudian melahirkan ritual Yadnya Kasada dan diwariskan secara turun-temurun.

Waktu dan Lokasi Pelaksanaan

Yadnya Kasada dilaksanakan setiap tahun pada hari ke-15 bulan Kasada atau bulan ke-12 dalam penanggalan Tengger. Pusat kegiatan berlangsung di hamparan pasir segara wedhi di kaki Gunung Bromo dan berlanjut hingga ke kawah.

Gunung Bromo dianggap suci oleh masyarakat Tengger. Letaknya yang berkawah dan menjadi gunung terendah di kawasan Tengger menjadikannya simbol penting dalam sistem kepercayaan mereka sebagai pusat penghormatan terhadap alam.

Rangkaian Prosesi Yadnya Kasada

Prosesinya diawali dengan barisan masyarakat Tengger yang berjalan di lautan pasir sambil membawa sesaji. Pemimpin upacara berpakaian serba putih berada di barisan terdepan, diikuti pembawa pajeng dan rombongan lainnya. Mereka berhenti di Pura Luhur Poten yang berada di kaki Gunung Bromo.

Dari Poten, rombongan berjalan menuju kawah dengan membawa sesaji berupa buah-buahan, sayuran, hewan ternak, serta hasil bumi lainnya. Sesaji tersebut kemudian dilemparkan ke dalam kawah sebagai simbol pengabdian kepada Sang Hyang Widhi, pengorbanan, penyucian diri, dan rasa syukur.

Tahapan Besar Ritual

Menurut inventarisasi komunitas adat Tengger, Yadnya Kasada memiliki tiga tahapan utama. Tahap pertama adalah mendhak tirta atau pengambilan air suci, dilanjutkan dengan tradisi makemit dan penyucian sarana upacara atau melasti.

Kemudian tahap kedua adalah pembukaan Kasada yang umumnya diisi dengan pertunjukan sendratari. Tahap ketiga menjadi puncak ritual, yakni prosesi membuang sesaji ke kawah Gunung Bromo secara beriringan dan tertib.

Makna dan Nilai Budaya

Bagi masyarakat Tengger, kawah Gunung Bromo disebut sebagai pelabuhan, tempat melabuhkan persembahan sesuai pesan leluhur Kyai Kusuma atau Raden Kusuma. Ritual ini menjadi simbol keseimbangan antara manusia, alam, dan leluhur.

Yadnya Kasada juga mencerminkan sistem kepercayaan masyarakat Tengger yang tetap bertahan meskipun berada di bawah pengaruh budaya Majapahit dan Hindu Dharma. Ajaran Hindu diadaptasi ke dalam sistem ibadah lokal melalui doa dan praktik khas Wong Tengger.

Perkembangan Tradisi Yadnya Kasada

Secara makna, Yadnya Kasada tidak mengalami perubahan berarti sejak abad ke-19 hingga kini. Perubahan hanya terjadi pada bentuk sesaji dan penambahan rangkaian acara seperti tari-tarian dan musik tradisional sejak tahun 1980-an.

Pada perayaan ini pula berkembang tradisi pengukuhan warga kehormatan Tengger yang dilakukan oleh dukun pandhita sebagai pemimpin upacara adat dan keagamaan. Sejumlah pejabat negara dan daerah pernah dikukuhkan dalam momen Yadnya Kasada sebagai bentuk penghormatan adat masyarakat Tengger.

Penutup

Yadnya Kasada menunjukkan keteguhan masyarakat Tengger dalam menjaga warisan leluhur dan keyakinan mereka terhadap alam serta Sang Hyang Widhi. Ritual ini menjadi bukti bahwa tradisi lokal dapat terus hidup tanpa kehilangan makna dasarnya.

Jangan lewatkan berita menarik lainnya seputar budaya Nusantara dan ritual adat seperti Yadnya Kasada di Negeri Kami. Mari bersama-sama melestarikan tradisi dan filosofi hidup bangsa melalui pengetahuan yang berakar pada nilai budaya.

Search

Video

Budaya Detail

Jawa Timur

Acara Sakral

Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Probolinggo

Budaya

Budaya Lainnya