Fere Kie merupakan ritual adat masyarakat Ternate di Maluku Utara yang dilakukan dengan mendaki Gunung Gamalama sebagai bentuk doa, penghormatan leluhur, dan permohonan keselamatan bagi masyarakat Ternate. Tradisi tersebut terus dilestarikan oleh Kesultanan Ternate bersama masyarakat karena memiliki nilai spiritual, budaya, dan mitigasi bencana yang diwariskan secara turun-temurun. Ritual Fere Kie juga menjadi bagian penting dalam Festival Legu Gam dan rangkaian tradisi adat Kesultanan Ternate (Kompas.com, 2012).
Tradisi Fere Kie Menjadi Identitas Budaya Ternate
Masyarakat Ternate menjadikan Fere Kie sebagai simbol hubungan harmonis antara manusia dan alam. Ritual tersebut dilakukan dengan mendaki Gunung Gamalama yang dianggap sebagai bagian penting dalam kehidupan masyarakat Maluku Utara. Pemerintah daerah bersama Kesultanan Ternate terus mempertahankan tradisi ini sebagai identitas budaya yang memiliki nilai sejarah dan spiritual.
Sejak zaman dahulu, Fere Kie dilaksanakan untuk memohon perlindungan Tuhan terhadap wilayah Ternate dari berbagai bencana alam. Selain itu, masyarakat juga mempercayai ritual tersebut sebagai bentuk permohonan keselamatan dan keberkahan bagi negeri mereka (Kompas.com, 2012; ANTARA News Ambon, 2025).
Tradisi Fere Kie memiliki beberapa nilai budaya yang masih dipertahankan hingga sekarang, antara lain:
- Hubungan spiritual masyarakat dengan alam tetap dijaga melalui ritual adat.
- Tradisi leluhur dipertahankan sebagai bagian penting identitas daerah.
- Kegiatan adat memperkuat solidaritas masyarakat dalam aktivitas budaya bersama.
- Gunung Gamalama menjadi simbol penghormatan terhadap alam.
- Generasi muda memperoleh pemahaman mengenai sejarah dan adat Ternate.
Ritual Fere Kie di Gunung Gamalama
Prosesi Fere Kie dimulai dengan doa bersama di Kedaton Kesultanan sebelum peserta melakukan pendakian menuju Gunung Gamalama. Setelah itu, peserta berjalan ke kawasan puncak gunung untuk berziarah dan memanjatkan doa di lokasi yang dianggap sakral.
Pelaksanaan ritual berlangsung di kawasan kuburan keramat yang dipercaya sebagai tempat peristirahatan orang-orang suci. Selama pendakian, peserta juga wajib mematuhi sejumlah aturan adat, termasuk larangan mengenakan pakaian berwarna merah karena dianggap tidak sopan terhadap penjaga gunung menurut kepercayaan masyarakat setempat (ANTARA News Ambon, 2025; Kompas.com, 2012).
Pelestarian tata cara ritual terus dilakukan agar nilai adat tetap terjaga. Bagi masyarakat Ternate, Fere Kie bukan sekadar kegiatan budaya, melainkan bentuk penghormatan terhadap leluhur dan alam sekitar.
Nilai Sakral dalam Prosesi Fere Kie
Tradisi Fere Kie memiliki sejumlah unsur sakral yang masih dipercaya masyarakat Ternate hingga sekarang. Nilai tersebut muncul dari keyakinan masyarakat terhadap hubungan manusia dengan alam dan leluhur.
Beberapa unsur penting dalam ritual Fere Kie meliputi:
- Pembacaan doa adat sebelum pendakian dimulai.
- Pendakian bersama sebagai simbol persatuan masyarakat.
- Ziarah ke makam keramat di kawasan Gunung Gamalama.
- Permohonan keselamatan dan perlindungan bagi wilayah Ternate.
- Larangan adat yang wajib dipatuhi seluruh peserta ritual.
Hingga kini, masyarakat Ternate tetap mempertahankan ritual Fere Kie sebagai tradisi adat yang berkaitan erat dengan penghormatan terhadap Gunung Gamalama dan keselamatan masyarakat sekitar (Kompas.com, 2012).
Fere Kie dan Mitigasi Bencana Berbasis Kearifan Lokal
Tradisi Fere Kie juga digunakan masyarakat Ternate sebagai media pembelajaran mengenai hubungan manusia dengan alam. Status Gunung Gamalama sebagai gunung api aktif membuat warga memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi bencana alam. Dari pengalaman tersebut, masyarakat kemudian mengembangkan mitigasi bencana berbasis kearifan lokal.
Melalui pelaksanaan ritual adat, hubungan spiritual antara masyarakat Ternate dan alam tetap terjaga. Tradisi leluhur pun terus dipertahankan sebagai bagian penting identitas daerah. Selain itu, kegiatan budaya tersebut memperkuat solidaritas masyarakat dalam menghadapi berbagai situasi, termasuk bencana alam.
Nilai mitigasi bencana dalam ritual Fere Kie terlihat melalui beberapa hal berikut:
- Masyarakat belajar memahami kondisi alam Gunung Gamalama.
- Tradisi adat mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan.
- Ritual bersama memperkuat solidaritas masyarakat saat menghadapi bencana.
- Pengetahuan leluhur diwariskan kepada generasi muda secara berkelanjutan.
- Kesadaran terhadap risiko alam menjadi bagian budaya masyarakat Ternate.
Karena itu, ritual Fere Kie terus digelar sebagai bentuk pelestarian adat dan penghormatan terhadap warisan leluhur yang diwariskan secara turun-temurun (ANTARA News Ambon, 2025).
Festival Legu Gam Menghidupkan Tradisi Fere Kie
Festival Legu Gam menjadi momentum penting bagi masyarakat Ternate untuk melaksanakan ritual adat Fere Kie. Perayaan budaya Kesultanan Ternate tersebut melibatkan masyarakat lokal, tokoh adat, hingga wisatawan.
Berbagai ritual adat seperti Fere Kie dan Kololi Kie masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Ternate serta dipercaya memiliki hubungan spiritual dengan Gunung Gamalama (Liputan6.com, 2025). Keberadaan ritual tersebut menunjukkan bahwa tradisi adat tetap memiliki peran besar dalam kehidupan masyarakat modern.
Festival budaya tersebut memberikan beberapa dampak positif bagi masyarakat Ternate, antara lain:
- Tradisi lokal memperoleh perhatian lebih luas dari wisatawan.
- Generasi muda mengenal budaya daerah secara langsung.
- Kesultanan Ternate mempertahankan eksistensi budaya leluhur.
- Kegiatan budaya membantu meningkatkan sektor pariwisata daerah.
- Masyarakat memperoleh ruang untuk memperkuat identitas budaya.
Dengan demikian, ritual adat di Ternate masih memiliki peran penting dalam memperkuat hubungan sosial masyarakat sekaligus menjaga nilai budaya daerah (Liputan6.com, 2025).
Peran Kesultanan Ternate dalam Pelestarian Fere Kie
Kesultanan Ternate memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi Fere Kie. Perangkat adat Kesultanan mengatur jalannya ritual sekaligus memastikan masyarakat tetap mematuhi aturan adat yang berlaku.
Bersama masyarakat, Kesultanan Ternate terus melaksanakan ritual Fere Kie sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi warisan leluhur (ANTARA News Ambon, 2025). Kehadiran Kesultanan membuat tradisi tersebut tetap memiliki legitimasi budaya di tengah perkembangan zaman.
Pelestarian tradisi Fere Kie memberikan berbagai manfaat penting bagi masyarakat Ternate, seperti:
- Budaya lokal tetap terjaga di tengah modernisasi.
- Nilai spiritual diwariskan kepada generasi muda.
- Identitas budaya Ternate semakin dikenal masyarakat luas.
- Kegiatan adat memperkuat hubungan sosial masyarakat.
- Tradisi lokal mendukung pengembangan wisata budaya.
Masyarakat Ternate berharap ritual Fere Kie dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya agar nilai budaya dan sejarah daerah tidak hilang akibat perubahan zaman.
Fere Kie Menjadi Simbol Hubungan Manusia dan Alam
Tradisi Fere Kie menunjukkan bahwa masyarakat Ternate memiliki hubungan yang kuat dengan alam dan budaya leluhur. Ritual tersebut tidak hanya dipahami sebagai kegiatan adat, tetapi juga menjadi simbol penghormatan terhadap Gunung Gamalama yang memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Maluku Utara.
Pelestarian tradisi Fere Kie membuktikan bahwa budaya lokal masih memiliki tempat penting di tengah arus modernisasi. Kesultanan Ternate bersama masyarakat setempat terus menjaga ritual tersebut agar generasi muda tetap mengenal sejarah, nilai spiritual, dan kearifan lokal daerahnya.
Negeri Kami menghadirkan berbagai artikel budaya, sejarah, dan tradisi Nusantara yang dapat membantu pembaca memahami kekayaan budaya Indonesia dari berbagai daerah. Pembaca dapat menemukan informasi menarik lainnya mengenai tradisi adat, wisata budaya, hingga perkembangan budaya lokal melalui artikel terbaru di Negeri Kami.
Referensi

