Tinutuan – Bubur khas Manado, Sulawesi Utara, yang terkenal sebagai kuliner sehat dan lezat. Hidangan ini kaya akan sayuran dan biasanya disajikan sebagai sarapan pagi. Bubur ini juga kerap menjadi pilihan favorit warga lokal maupun wisatawan yang ingin merasakan cita rasa autentik Manado.
Selain rasanya yang lezat, hidangan ini mencerminkan budaya dan sejarah masyarakat Minahasa. Dari akar lokalnya hingga menjadi ikon kuliner Manado, bubur ini terus digemari oleh berbagai kalangan dan menjadi bagian dari identitas kuliner Sulawesi Utara.
Sejarah Tinutuan
Berdasarkan Kompas.com dan Wikipedia, kata “tinutuan” sendiri berarti “campur aduk” dalam bahasa Manado, merujuk pada cara memasak bubur dengan berbagai bahan dicampur menjadi satu. Asal-usul pastinya tidak diketahui secara pasti, namun tinutuan mulai dikenal luas di Manado sejak tahun 1970-an hingga awal 1980-an.
Tinutuan menjadi simbol kuliner kota Manado dan sempat dipakai sebagai moto kota. Pemerintah Kota Manado menetapkan kawasan Wakeke, Kecamatan Wenang, sebagai lokasi wisata kuliner tinutuan sejak 2004 – 2005.
Bahan dan Keunikan Tinutuan
Menurut Kompas.com dan Wikipedia, tinutuan terbuat dari campuran berbagai sayuran dan bahan lokal, antara lain:
- Labu kuning (sambiki)
- Bayam, kangkung, daun gedi
- Jagung, singkong, dan kemangi
- Beras
Keunikannya terletak pada perpaduan sayuran lokal yang kaya rasa dan teksturnya yang lembut. Proses memasaknya bertahap, dimulai dari beras setengah matang, lalu sayuran dan bumbu seperti garam, sereh, daun kunyit, dan daun bawang dimasukkan secara berurutan, sehingga menghasilkan citarasa khas.
Penyajian Tinutuan
Kompas.com dan Wikipedia juga menjelaskan bahwa di Manado, tinutuan biasanya disajikan dengan pelengkap:
- Ikan asin atau ikan cakalang fufu
- Tahu atau tempe goreng
- Perkedel jagung atau perkedel nike
- Sambal roa (rica roa) atau sambal dabu-dabu
- Mi atau sup kacang merah (brenebon)
Versi tinutuan yang dicampur mi disebut midal, sementara yang dicampur brenebon kadang ditambahkan tetelan sapi atau kaki babi pada acara khusus. Hidangan ini fleksibel dan dapat dinikmati oleh siapa saja, baik vegetarian maupun non-vegetarian.
Rasa dan Ciri Khas
Kompas.com juga menyebutkan rasanya berbeda dengan bubur pada umumnya karena aroma kemangi dan campuran jagung manisnya yang khas. Teksturnya lembut, gurih, dan segar, membuat bubur ini sangat cocok untuk sarapan maupun santapan sehari-hari.
Awalnya, hidangan ini merupakan masakan vegetarian yang lahir dari kondisi masyarakat Manado pada masa penjajahan Belanda, ketika bahan pangan terbatas. Para ibu memanfaatkan sayur-mayur dan umbi-umbian untuk dicampur dengan beras, hingga terbentuk bubur yang kaya gizi dan menyehatkan.
Penutup
Tinutuan adalah contoh kuliner tradisional yang kaya rasa dan sejarah, mencerminkan kreativitas masyarakat Manado. Setiap mangkuk hidangan membawa pengalaman budaya sekaligus kelezatan yang sehat. Hidangan ini juga menjadi simbol kebanggaan lokal yang terus dilestarikan dari generasi ke generasi.
Simak berita menarik lainnya tentang kuliner, budaya, dan kreativitas generasi muda di Negeri Kami. Temukan juga inspirasi baru dan kisah seru yang memperkaya wawasan serta semangat kreatifmu.


