Tari kejei merupakan tarian sakral milik suku Rejang di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, yang berfungsi sebagai bagian dari upacara adat dan simbol identitas budaya masyarakatnya. Masyarakat Rejang mempertahankan tari kejei sebagai ekspresi rasa syukur, penghormatan terhadap leluhur, serta media pengikat solidaritas sosial dalam komunitas adat. Pemerintah Indonesia menetapkan tari kejei sebagai Warisan Budaya Tak Benda untuk melindungi nilai tradisi yang hidup di tengah masyarakat Bengkulu (Kompas.com, 2022; Antara News Bengkulu, 2017).
Sejarah Tari Kejei dalam Tradisi Masyarakat Rejang
Masyarakat Rejang mewariskan tari kejei secara turun-temurun sebagai bagian dari sistem adat yang mengatur kehidupan sosial mereka. Catatan budaya menyebutkan bahwa tari kejei telah dikenal sejak masa lampau dan menjadi bagian penting dalam upacara besar masyarakat Rejang. Penetapan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada tahun 2017 menegaskan posisi tari kejei sebagai aset budaya nasional yang memiliki nilai historis dan sosial tinggi (Kompas.com, 2022; Antara News Bengkulu, 2017).
Struktur Pertunjukan Tari Kejei dan Simbolisme Gerak
Penari tari kejei membentuk pola lingkaran sebagai simbol persatuan dan kebersamaan masyarakat Rejang. Setiap penari melakukan gerakan tangan dan langkah kaki secara serempak untuk menunjukkan harmoni sosial dalam kehidupan adat. Musik tradisional seperti gong dan alat musik pengiring lainnya menciptakan suasana sakral dalam pertunjukan. Setiap rangkaian gerakan memiliki makna tertentu yang berkaitan dengan adat, rasa hormat, dan tata krama masyarakat Rejang (Kompas.com, 2022.).
Ciri utama pertunjukan tari kejei meliputi:
- Penari tampil secara berkelompok dalam formasi melingkar.
- Gerakan dilakukan dengan tempo teratur dan penuh makna simbolik.
- Busana adat Rejang memperlihatkan identitas budaya lokal.
- Iringan musik tradisional memperkuat nuansa ritual.
Makna Filosofis Tari Kejei dalam Kehidupan Sosial Rejang
Tari kejei mengandung nilai spiritual yang merepresentasikan hubungan manusia dengan Tuhan dan leluhur. Masyarakat Rejang memaknai tari kejei sebagai simbol rasa syukur atas keberkahan serta keselamatan komunitas. Tari kejei juga merepresentasikan nilai kebersamaan, tanggung jawab sosial, dan penghormatan terhadap norma adat yang hidup dalam masyarakat Rejang (Pratiwi, 2024).
Musik pengiring dalam tari kejei memiliki peran struktural yang mengatur ritme gerakan sekaligus memperkuat makna ritual dalam pertunjukan. Unsur musikal tersebut memperlihatkan keterpaduan antara seni gerak dan seni bunyi dalam membangun suasana sakral pertunjukan adat (Jurnal Penelitian Musik, 2022).
Nilai filosofis tari kejei mencakup:
- Nilai spiritual sebagai bentuk rasa syukur.
- Nilai sosial sebagai sarana mempererat solidaritas.
- Nilai pendidikan sebagai media pewarisan budaya.
- Nilai estetika sebagai ekspresi seni tradisional.
Fungsi Tari Kejei dalam Upacara Adat Rejang
Masyarakat Rejang menampilkan tari kejei dalam upacara adat besar seperti pernikahan dan perayaan penting komunitas. Pertunjukan tari kejei menjadi bagian dari rangkaian prosesi adat yang melibatkan keluarga besar dan tokoh masyarakat. Tari kejei juga berfungsi sebagai ruang interaksi sosial antara generasi muda dalam konteks budaya yang terstruktur (BengkuluNetwork.com, 2023).
Fungsi sosial tari kejei antara lain:
- Menguatkan hubungan antar keluarga dalam upacara adat.
- Menjadi simbol penghormatan kepada tamu dan leluhur.
- Menjadi sarana pendidikan budaya bagi generasi muda.
- Menjadi identitas budaya masyarakat Rejang di tingkat regional dan nasional.
Pelestarian Tari Kejei oleh Pemerintah dan Komunitas Lokal
Pemerintah daerah dan komunitas adat Rejang melakukan berbagai upaya untuk menjaga keberlanjutan tari kejei melalui festival budaya, pelatihan di sanggar seni, serta promosi sebagai atraksi unggulan daerah. Pencantuman tari kejei dalam platform promosi pariwisata nasional menunjukkan adanya dukungan kebijakan terhadap pelestarian tradisi lokal.
Upaya pelestarian tersebut meliputi:
- Pelatihan tari di sekolah dan sanggar seni.
- Dokumentasi pertunjukan dalam bentuk audiovisual.
- Promosi melalui agenda pariwisata daerah.
- Penguatan peran lembaga adat dalam menjaga keaslian pertunjukan.
Modernisasi menghadirkan tantangan terhadap eksistensi seni tradisional, namun masyarakat Rejang tetap mempertahankan nilai inti tari kejei melalui adaptasi yang tidak menghilangkan unsur sakralnya (Kompas.com, 2022).
Tari kejei memperkuat identitas budaya Bengkulu melalui representasi adat Rejang yang autentik dan terjaga. Pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia memperlihatkan komitmen negara dalam melindungi tradisi daerah sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional (Antara News Bengkulu, 2017).
Pembaca dapat menemukan artikel budaya lainnya di Negeri Kami yang menyajikan ulasan mendalam tentang tradisi Nusantara. Redaksi Negeri Kami mengajak pembaca untuk terus mengeksplorasi dan menghargai kekayaan budaya Indonesia melalui referensi budaya terpercaya yang telah kami sajikan.
Referensi

