Tambak Karang: Alas Ritual dari Beras Berwarna

Tambak Karang: Alas Ritual dari Beras Berwarna

Last Updated: 9 July 2026, 03:00

Bagikan:

tambak karang
Foto: Indonesia Kaya

Salah satu pernak-pernik tradisi unik yang dapat ditemukan di dalam perhelatan tahunan Erau adalah penggunaan “tambak karang.” Tambak karang sendiri merupakan lukisan atau gambar berwarna-warni yang berfungsi sebagai alas dari area pelaksanaan ritual-ritual sakral Festival Erau.

Berdasarkan catatan dari Indonesia Kaya, gambar atau lukisan ini terbuat dari beras yang diberi berbagai macam warna. Beras-beras ini disusun sedemikian rupa sehingga membentuk motif khusus yang masing-masing memiliki makna dan fungsi spesifik.

Tambak Karang dalam Ritual Festival Erau

Tambak karang dapat ditemukan di sejumlah ritual sakral yang berlangsung di dalam Festival Erau. Salah satunya adalah ritual mendirikan Tiang Ayu yang menjadi penanda dimulainya festival. Di dalam ritual ini, alas ritual tersebut digunakan sebagai alas dari kasur kuning yang menjadi tempat bersemayamnya Sangkoh Piatu, memiliki motif empat naga dan seluang emas berwarna-warni. Pada bagian moncong dari setiap naga, diletakkan dua buah pisang yang menyimbolkan taring. Di antara kedua pisang, diletakkan sebutir telur ayam kampung putih yang melambangkan kemala (batu pusaka).

Pada ritual Beluluh, alas ritual ini digunakan sebagai alas dari balai yang terbuat dari bambu dengan jumlah tiang yang beragam, tergantung status orang yang didudukkan di atasnya. Setelah upacara Beluluh selesai, beras warna-warni dari tambak karang ini dikumpulkan dan dibawa ke kerumunan masyarakat yang memadati pelataran depan keraton. Beras ini akan diperebutkan oleh warga karena dianggap membawa berkah atau peruntungan bagi mereka.

Pada malam ketujuh Festival Erau, saat dilangsungkannya ritual Menyisik Lembu Suana, digunakan tambak karang bermotif lembu suana. Alas ritual ini dibuat menggunakan beras dengan 37 jenis warna. Saat ritual berlangsung, kerabat kesultanan dan para tamu akan melemparkan uang ke arah gambar lembu suana sambil menghaturkan keinginan atau niat tertentu. Uang yang terserak di atas lukisan ini akan diserahkan kepada para dewa (wanita pengabdi ritual) dan belian (pria pengabdi ritual). Keduanya mengabdikan diri untuk menjalankan ritual-ritual Keraton Kutai.

Motif dan Pembuatan Tambak Karang

Secara garis besar, ada beberapa jenis motif yang digunakan, yaitu lembu suana, karang genta, karang dungkul, karang indra geni, karang terate, karang daulan, dan karang paoh. Menurut Awang Imaluddin, salah satu penanggungjawab ritual sakral di lingkungan Keraton Kutai, karena memerlukan keterampilan tinggi dalam proses pembuatannya, dahulu, motif tersebut mesti dibuat oleh seorang petugas khusus di kalangan abdi keraton. Keterampilan dan tugas ini diwariskan secara turun-temurun kepada anak-cucunya. Namun, kini pembuatan tambak karang kerap dilakukan dengan bantuan pola atau cetakan. Hal ini karena kualitas keterampilan para pembuat tambak karang telah berubah seiring zaman.

Penutup

Tradisi seperti tambak karang menjadi pengingat bahwa setiap warisan budaya memiliki nilai yang layak untuk terus dijaga. Upaya mengenalkan tradisi kepada masyarakat luas dapat menumbuhkan kepedulian terhadap kekayaan budaya Nusantara. Dengan begitu, warisan budaya dapat terus dikenal dan diapresiasi oleh generasi sekarang maupun yang akan datang.

Jangan lewatkan artikel budaya lainnya seputar acara sakral, adat istiadat, kuliner, pakaian adat, rumah adat, dan tarian dari berbagai daerah di Indonesia hanya di Negeri Kami.

Search

Video

Budaya Detail

Kalimantan Timur

Acara Sakral

-

Budaya

Budaya Lainnya