Siger: Mahkota Keemasan Penanda Status dan Identitas Lampung

Siger: Mahkota Keemasan Penanda Status dan Identitas Lampung

Last Updated: 13 January 2026, 06:00

Bagikan:

siger
Foto: Indonesia Kaya

Siger – Benda atau atau perangkat adat penting dalam ritual tradisional masyarakat Lampung. Mahkota logam berwarna keemasan ini memiliki bentuk khas dan berfungsi sebagai simbol kehormatan serta penanda status sosial seseorang dalam struktur adat Lampung.

Berdasarkan keterangan dari Indonesia Kaya, keunikan bentuk dan makna yang dikandung siger menjadikannya tidak sekadar pelengkap busana adat, melainkan simbol kedaerahan yang melekat kuat pada Provinsi Lampung. Keberadaan siger merepresentasikan nilai adat, sejarah, dan identitas budaya masyarakat Lampung yang diwariskan secara turun-temurun.

Bentuk Siger Lampung dan Ciri Khas Visualnya

Secara visual, siger memiliki bentuk simetris bilateral yang memanjang ke arah kiri dan kanan dari kepala pemakainya. Dalam dialek Saibatin, siger dikenal dengan sebutan sigokh. Ciri paling menonjol dari mahkota adat ini terletak pada bagian atasnya yang memiliki lekukan dengan jumlah tertentu.

Jumlah lekukan tersebut bukan sekadar elemen hias, melainkan penanda asal wilayah dan latar adat siger. Selain lekukan, ciri khas lain yang membedakan siger dari satu daerah ke daerah lain adalah keberadaan rumbai-rumbai serta batang sekala. Detail-detail ini berfungsi sebagai identitas visual yang menunjukkan tradisi adat tempat siger tersebut berkembang.

Perbedaan Siger Saibatin dan Pepadun

Perkembangan tradisi dalam masyarakat adat Lampung melahirkan variasi bentuk siger, terutama antara masyarakat adat Saibatin dan Pepadun. Perbedaan ini terlihat jelas pada jumlah lekukan di bagian atas mahkota.

Siger dalam masyarakat adat Saibatin yang mendiami wilayah pesisir memiliki tujuh lekukan. Tujuh lekukan tersebut melambangkan tujuh adoq atau gelar adat, yaitu suttan atau dalom atau pangeran sebagai pemimpin kepaksian atau marga, raja jukuan atau depati, batin, radin, minak, kimas, serta mas atau itton.

Sementara itu, siger dalam masyarakat adat Pepadun memiliki sembilan lekukan. Jumlah ini melambangkan sembilan marga yang dikenal sebagai Abung Siwo Megou. Perbedaan jumlah lekukan ini mencerminkan perbedaan struktur sosial dan sistem adat yang dianut oleh masing-masing kelompok masyarakat.

Pengaruh Sejarah dan Kebudayaan terhadap Bentuk Siger Lampung

Bentuk siger juga dipengaruhi oleh perjalanan sejarah dan masuknya kebudayaan besar ke wilayah Lampung. Menurut riwayat sejarah, bentuk siger yang pertama kali berkembang adalah sigokh tuha yang memiliki lima lekukan. Siger ini telah ada sejak masa Kerajaan Sekala Brak yang bercorak Hindu-Buddha.

Pengaruh kebudayaan Islam yang diduga berasal dari Kesultanan Banten dan Cirebon turut memperkaya variasi siger, terutama dalam adat Melinting. Bentuk siger Melinting menyerupai siger Saibatin, namun dilengkapi dengan aksen rumbai-rumbai yang menyerupai cadar. Hal ini menunjukkan adanya proses akulturasi budaya yang memengaruhi perkembangan bentuk siger.

Penutup

Siger adalah mahkota logam berwarna keemasan yang menandai status dan identitas masyarakat Lampung. Sebagai simbol penting, siger merekam sejarah, struktur sosial, dan nilai-nilai budaya daerah ini. Setiap bentuk dan lekukannya penuh makna, lahir dari tradisi adat sekaligus perjalanan sejarah Lampung.

Simak berita budaya menarik lainnya di Negeri Kami dan temukan juga inspirasi seputar warisan budaya Indonesia. Pelestarian siger menjadi salah satu cara untuk menjaga identitas budaya Lampung serta mengenalkan kekayaan tradisi kepada generasi muda.

Search

Video

Budaya Detail

Lampung

Pakaian Adat

-

Budaya

Budaya Lainnya