Sasadu: Rumah Adat Sahu sebagai Pusat Budaya dan Ritual

Sasadu: Rumah Adat Sahu sebagai Pusat Budaya dan Ritual

Last Updated: 28 January 2026, 06:00

Bagikan:

sasadu
Foto: Parawisata Indonesia

Sasadu – Rumah adat suku bangsa Sahu di Halmahera Barat, Maluku Utara, yang juga dikenal sebagai suku bangsa asli dan tertua di wilayah tersebut. Di rumah ini, masyarakat adat Sahu biasa berkumpul dalam berbagai pertemuan. Di Halmahera Barat, sasadu lazim ditemui di setiap desa dan menjadi bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat.

Berdasarkan catatan dari Wikipedia, rumah adat ini umumnya digunakan sebagai lokasi pertemuan masyarakat dalam berbagai acara, seperti ritual atau upacara adat perayaan panen, pemilihan ketua adat, serta penyambutan tamu. Selain itu, sasadu juga kerap dimanfaatkan untuk bersantai tanpa adanya acara khusus. Secara etimologis, sasadu berasal dari kata sadu dalam bahasa Sahu yang tidak memiliki arti, sedangkan dalam bahasa Ternate berarti menimba, dan sado yang bermakna lengkap atau genap. Untuk memudahkan akses seluruh warga, sasadu biasanya dibangun di bagian tengah kampung atau desa.

Sasadu sebagai Produk Budaya Masyarakat Sahu

Sebagai produk budaya, sasadu tidak terlepas dari perubahan seiring perkembangan zaman. Salah satu perubahan yang paling terlihat terdapat pada bagian atap rumah. Jika dahulu atap menggunakan daun sagu, kini banyak yang beralih ke material seng atau genteng metal. Perubahan ini dipengaruhi oleh masuknya teknologi bahan tahan api yang dinilai lebih aman dari risiko kebakaran.

Meski penggunaan seng dianggap lebih praktis dan aman, perubahan tersebut berdampak pada berkurangnya nilai estetika bangunan asli. Kesadaran akan hal ini tetap tumbuh di kalangan masyarakat Sahu, yang berupaya mempertahankan arsitektur sasadu sebagai penanda jati diri budaya. Bangunan ini merupakan bagian dari alur perkembangan budaya Sahu. Sebelum mengenalnya, masyarakat setempat tinggal di rumah-rumah koseba di hutan dengan konstruksi rumah panggung.

Keberadaan sasadu juga tidak terbatas di Halmahera Barat. Bangunan ini dapat dijumpai di luar daerah asalnya, salah satunya di Jakarta Timur, tepatnya di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Di Anjungan Maluku Utara TMII, rumah adat ini difungsikan sebagai ruang pamer berbagai aspek budaya tradisional Maluku Utara, seperti pakaian adat, alat musik, dan makanan khas.

Konstruksi Sasadu dan Karakteristik Bangunannya

Material alami menjadi bahan utama dalam konstruksi sasadu. Rangka bangunan umumnya dibuat dari kayu, bambu, atau batang pohon kelapa. Bagian langit-langit disusun dari daun sagu yang diikat menggunakan tali bambu atau tali ijuk yang dipasang bersambung tanpa putus. Meski demikian, pada masa kini bangunan ini juga memanfaatkan bahan buatan pabrik, seperti semen yang digunakan pada lantai demi kebersihan dan kemudahan perawatan.

Ukuran sasadu tidak seragam karena setiap desa memiliki kebutuhan yang berbeda. Bangunan terbesar tercatat berukuran sekitar 9 x 6 meter dan umumnya lebih besar dibandingkan rumah hunian penduduk. Denah sasadu berbentuk persegi panjang dengan ruang tengah dan ruang samping. Lantai dasarnya dibuat dari timbunan tanah setinggi 30 – 40 sentimeter yang dipadatkan, lalu diperkuat dengan susunan batu kali berbentuk sudut delapan.

Bagian tengah sasadu, yang berfungsi sebagai tempat musyawarah, dibuat tanpa dinding dan ditopang oleh tiang-tiang dengan alas batu. Setiap tiang memiliki nama dan fungsi tersendiri, seperti Ngasu u lamo di pusat bangunan, Ngusu u d’ud’un di bagian luar, dan Ngasu u taba di bagian tengah. Atapnya terdiri dari tujuh lembaran yang disebut ngatumding dan umumnya tidak memiliki loteng.

Filosofi Sasadu dalam Kehidupan Adat

Struktur sasadu tidak hanya bersifat fungsional, tetapi juga penuh makna filosofis. Penggunaan kayu kelapa dan bambu melambangkan kedekatan masyarakat Sahu dengan alam. Pada bagian atap, terdapat bola-bola yang digantung sebagai simbol kaki, yang bermakna kestabilan. Arah atap yang merunduk berlawanan dengan ujung atap yang mencuat ke atas melambangkan kerendahan hati, meskipun seseorang berada di posisi tertinggi.

Bentuk bangunan yang relatif pendek membuat setiap orang yang masuk harus menunduk. Hal ini dimaknai sebagai pengingat agar setiap individu selalu menghormati dan patuh terhadap adat. Bagi masyarakat Sahu, sasadu juga diibaratkan sebagai kapal perang kerajaan Ternate bernama Kagunga, khususnya Kagunga Tego-tego, yaitu kapal perang yang merapat ke pantai. Filosofi inilah yang menjadi alasan sasadu dibangun memanjang ke arah daratan dan gunung serta ditempatkan di tengah kampung.

Nilai toleransi antarumat beragama tercermin melalui pemasangan dua kain berwarna merah dan putih pada sambungan rangka rumah, yang melambangkan pemeluk agama Kristen dan Islam. Selain itu, sasadu memiliki beberapa pintu masuk yang masing-masing mencerminkan struktur hierarki masyarakat. Pintu di pojok bangunan digunakan oleh masyarakat umum, sedangkan pintu di bagian tengah diperuntukkan bagi para petinggi adat.

Ritual dan Upacara Adat

Sasadu berfungsi sebagai pusat pelaksanaan berbagai ritual dan upacara adat. Salah satu ritual utama adalah Sibere Wanat, yaitu ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Ritual ini diawali dengan pembacaan doa adat, dilanjutkan dengan prosesi penaikan atap rumah, kemudian diakhiri dengan tarian Legu Salai yang diiringi alat musik tifa dan gong.

Makan bersama di dalam sasadu menjadi penutup ritual Sibere Wanat. Prosesi makan memiliki aturan khusus, seperti kewajiban mengenakan penutup kepala dan adanya kursi bambu tertentu yang hanya boleh diduduki oleh orang tertentu. Hidangan yang disajikan antara lain Nasi Kembar, makanan khas Sahu yang dimasak dengan daun lebar dan bambu.

Ritual lainnya adalah Orom Sasadu, yaitu makan bersama untuk menghormati leluhur dan mengucap syukur atas kehidupan. Ritual ini dihadiri oleh pemimpin adat, tokoh masyarakat, dan dipercaya turut melibatkan kehadiran leluhur secara simbolis. Selain itu, terdapat pula Sa’ai mago, pesta syukuran setelah penaburan benih padi yang digelar selama tiga hari tiga malam.

Saat ini, ritual-ritual di sasadu juga menjadi bagian dari promosi wisata budaya. Beberapa di antaranya dapat disaksikan oleh wisatawan, seperti Orom Sasadu yang menjadi bagian dari rangkaian Festival Teluk Jailolo dan masuk dalam daftar 100 Acara Nasional Pariwisata.

Penutup

Sasadu merupakan rumah adat yang merepresentasikan budaya, filosofi, dan sistem sosial masyarakat Sahu di Halmahera Barat. Fungsinya sebagai pusat budaya dan ritual menjadikan sasadu tidak sekadar bangunan tradisional, melainkan ruang hidup tempat nilai adat diwariskan dan dipraktikkan.

Simak berita menarik seputar budaya dan arsitektur Indonesia di Negeri Kami, serta temukan beragam cerita inspiratif tentang warisan budaya Nusantara. Jangan lewatkan kesempatan untuk memperdalam pengetahuan tentang tradisi lokal yang kaya makna dan penuh nilai sejarah.

Search

Video

Budaya Detail

Maluku Utara

Rumah Adat

Kabupaten Halmahera Barat

Budaya

Budaya Lainnya