Rumoh Aceh: Warisan Budaya Panggung Penuh Filosofi Leluhur

Rumoh Aceh: Warisan Budaya Panggung Penuh Filosofi Leluhur

Last Updated: 16 December 2025, 03:00

Bagikan:

rumoh aceh - warisan budaya panggung penuh filosofi leluhur
Foto: Pinterest / Square Up

Rumoh Aceh – Rumah adat khas suku Aceh yang memiliki nilai filosofi tinggi dan menjadi simbol budaya masyarakat Aceh. Rumah ini berbentuk panggung dengan struktur yang unik, mencerminkan kearifan lokal dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan serta menegakkan tradisi.

Rumah adat ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai ruang sosial, simbol status, dan media pewarisan budaya. Menurut Wikipedia, setiap elemen rumah dari tiang hingga warna memiliki makna tersendiri yang diwariskan melalui kitab adat Meukeuta Alam.

Sejarah dan Filosofi Rumoh Aceh

Rumoh Aceh terdiri dari tiga bagian utama, yaitu seuramoë keuë (serambi depan), seuramoë teungoh (serambi tengah), dan seuramoë likôt (serambi belakang), serta satu bagian tambahan, rumoh dapu (dapur). Atap rumah digunakan sebagai tempat penyimpanan pusaka keluarga.

Dalam kitab adat Meukeuta Alam, disebutkan bahwa setiap tiang utama rumah, tamèh raja dan tamèh putroe, dililit kain merah putih saat pembangunan sebagai simbol keberkahan. Rumah ini menunjukkan kepemilikan tradisional, di mana hak rumah dan pekarangan menjadi milik anak perempuan atau istri jika tidak ada anak perempuan.

Material dan Struktur Rumoh Aceh

Rumoh Aceh dibangun dari kayu pilihan. Tiang penyangga rumah berjumlah 16, 24, atau 32, tergantung tipe rumah. Dinding terbuat dari papan keras berukir khas Aceh, lantai dari papan yang disematkan tanpa paku, sedangkan atap menggunakan daun rumbia yang ringan dan sejuk. Konstruksi rumah menggunakan pasak kayu dan tali rotan, tanpa paku, sehingga rumah kuat namun fleksibel terhadap bencana seperti gempa dan banjir.

Fungsi dan Filosofi Rumoh Aceh

Rumoh Aceh berbentuk panggung dengan lantai dasar tinggi untuk mengantisipasi banjir dan gangguan binatang. Pintu utama dibuat tinggi sehingga tamu harus menunduk, sebagai simbol penghormatan. Rumah ini juga menghadap timur dan barat, membentuk garis imajiner ke Ka’bah, serta menyesuaikan arah angin badai. Tingkat hiasan rumah mencerminkan status sosial pemiliknya.

Bagian-bagian Rumoh Aceh

  1. Bagian Bawah (Meuyup Rumoh): Ruang kosong di antara lantai dan tanah, digunakan untuk bermain anak, kandang hewan, penyimpanan padi, atau menenun kain songket.
  2. Bagian Tengah: Terdiri dari serambi depan, serambi tengah (rumoh inong), dan serambi belakang (rumoh likôt). Serambi depan menerima tamu dan kegiatan belajar, serambi tengah sebagai ruang inti dan tempat pribadi, serambi belakang untuk keluarga dan dapur.
  3. Bagian Atas (Bubong): Loteng segitiga untuk menyimpan barang berharga, letaknya di atas serambi tengah.

Kontruksi dan Elemen

Rumoh Aceh memiliki elemen struktural seperti tamèh, tamèh raja, tamèh putroe, keunaleueng tameh, dan balok penyangga (rôk, tôi, bajoe) yang memperkuat rumah. Setiap elemen memiliki filosofi khusus, seperti keteguhan, kelembutan, dan keadilan. Pengukuran rumah menggunakan ukuran tradisional masyarakat Aceh, seperti jari, hasta, dan depa.

Filosofi Warna Rumoh Aceh

Warna rumah Aceh memiliki makna simbolis: kuning (kuat dan hangat), merah (gairah dan semangat), putih (suci dan bersih), hijau (kesuburan dan kesejukan), serta warna alami lainnya untuk kesehatan dan kegembiraan. Setiap warna mencerminkan karakter dan filosofi hidup masyarakat Aceh.

Penutup

Rumoh Aceh adalah warisan budaya yang memadukan filosofi dengan arsitektur yang fungsional dan estetik. Melalui pelestarian rumah adat ini, generasi muda dapat memahami sejarah, nilai moral, dan budaya Aceh yang kaya.

Simak berita budaya menarik lainnya di Negeri Kami dan temukan juga ragam cerita inspiratif seputar warisan budaya Indonesia. Jangan lewatkan kesempatan untuk memperdalam pengetahuan tentang budaya dan tradisi lokal yang kaya makna.

Search

Video

Budaya Detail

Aceh

Rumah Adat

Kabupaten Aceh Besar

Budaya

Budaya Lainnya