Randai: Seni Minangkabau yang Memadukan Silat, Tari, & Drama

Randai: Seni Minangkabau yang Memadukan Silat, Tari, & Drama

Last Updated: 23 December 2025, 03:00

Bagikan:

randai
Foto: Kompas.com

Randai – Seni tradisional Minangkabau yang menggabungkan gerakan silat, tarian, nyanyian, dan drama dalam satu pertunjukan. Menurut Wikipedia, seni ini dimainkan secara berkelompok dengan membentuk lingkaran, sambil menyampaikan cerita rakyat secara bergantian melalui nyanyian dan dialog.

Selain menghibur, randai berfungsi sebagai media pendidikan dan penyampaian pesan moral. Pertunjukan ini mengajarkan nilai kebersamaan, keberanian, dan kecerdikan, sehingga tetap relevan sebagai sarana pelestarian budaya Minangkabau hingga kini.

Sejarah Randai

Randai memiliki akar sejarah yang panjang di Minangkabau. Awalnya, pertunjukan ini dimainkan oleh pemuda di halaman surau pada malam hari sebagai media untuk menyampaikan kaba atau cerita rakyat melalui gurindam dan galombang, tarian yang bersumber dari gerakan silat.

Beberapa cerita populer yang dibawakan antara lain Cindua Mato, Malin Deman, dan Anggun Nan Tongga. Nama “randai” diperkirakan berasal dari kata handai, yang berarti santai atau pembicaraan hangat. Ada pula dugaan asal dari bahasa Arab, yaitu Rayan-Li-dai, terkait pendakwah Traikat Na’sabandiyah.

Randai pernah mengalami pasang surut. Pada masa pendudukan Jepang (1942 – 1945), pertunjukan ini menurun, namun kembali berkembang pasca-kemerdekaan. Meskipun hampir tenggelam pada era Orde Baru, kini terdapat sekitar 300 kelompok randai aktif di Sumatera Barat.

Teknik dan Struktur Pertunjukan

Randai dipimpin oleh seorang panggoreh, yang bertugas mengatur tempo gerakan dengan teriakan khas seperti “hep tah tih”. Panggoreh memastikan seluruh pemain bergerak seirama, sedangkan anggota lain membentuk lingkaran untuk mendukung pertunjukan.

Satu cerita dapat berlangsung antara satu hingga lima jam, tergantung panjang cerita dan jumlah pemeran. Pemeran utama menyampaikan cerita, sedangkan anggota lain menyemarakkan pertunjukan melalui gerakan, nyanyian, dan musik tradisional seperti talempong, pupuik batang padi, rebab, bansi, dan saluang.

Jenis Randai dan Cerita

Randai memiliki variasi sesuai cerita dan asalnya. Contohnya, Maalah Kapa Tujuah dari Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, yang mengangkat kisah pahlawan Anggun Nan Tungga. Pertunjukan ini dimainkan oleh laki-laki dan perempuan kurang dari 15 orang, berlangsung 4 – 5 jam pada malam hari, diiringi musik dan nyanyian tradisional.

Selain hiburan, pertunjukan ini menjadi media edukasi untuk menanamkan nilai sosial dan moral pada generasi muda. Cerita yang dibawakan biasanya mencerminkan kehidupan masyarakat Minangkabau, sehingga penonton dapat memahami pesan moral sambil menikmati pertunjukan.

Randai dalam Konteks Modern

Kini randai tidak hanya dimainkan di halaman surau, tetapi juga dipentaskan dalam berbagai acara seperti pernikahan, pesta rakyat, pengangkatan penghulu, dan perayaan hari raya, sekaligus menjadi simbol budaya Minangkabau yang kaya dan dinamis serta bagian penting dari pelestarian identitas budaya, menginspirasi generasi muda untuk menciptakan karya kreatif yang menghormati tradisi.

Penutup

Randai adalah seni tradisional Minangkabau yang memadukan tari, silat, drama, dan nyanyian. Pertunjukan ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik, menguatkan karakter, dan melestarikan nilai-nilai budaya.

Simak berita budaya dan tarian tradisional menarik lainnya di Negeri Kami. Temukan juga ragam cerita inspiratif seputar warisan budaya Sumatera Barat dan Indonesia.

Search

Video

Budaya Detail

Sumatera Barat

Tarian

Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Lima Puluh Kota / Kecamatan Harau

Budaya

Budaya Lainnya