Petik Pari – Tarian khas Pacitan yang dipentaskan untuk merayakan hasil panen padi. Satu per satu penari naik ke panggung, lima orang bergerak melingkar, memutar, dan berbaris lurus dengan gerakan dasar tumit, tangan, dan pinggul. Setelah itu, mereka berpencar membentuk setengah lingkaran dan melakukan gerakan berjongkok menirukan aktivitas memetik padi.
Tarian ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana edukasi budaya bagi generasi muda. Berdasarkan Indonesia Kaya, figur Dewi Sri menjadi simbol yang dihormati dalam prosesi petik padi, mencerminkan rasa syukur dan penghargaan terhadap alam serta nilai-nilai agraris masyarakat Jawa.
Sejarah dan Filosofi Petik Pari
Tari Petik Pari dikembangkan oleh Anang dari Sanggar Blarak Pacitan. Bersama istrinya, Anang mengeksplorasi budaya lokal untuk diangkat menjadi tarian kontemporer. Tarian ini lahir untuk mewacanakan kembali pentingnya prosesi panen padi dalam khasanah budaya Jawa dan Nusantara.
Di beberapa daerah, tradisi penghormatan terhadap Dewi Sri masih dijaga melalui ritual adat petik pari berupa syukuran. Dewi Sri menjadi kerangka acuan berpikir bagi petani Jawa dalam siklus hidup, termasuk perkawinan, merawat rumah, dan tanah pertanian.
Gerakan Tarian Petik Pari
Gerakan Utama
Setelah memulai tarian, penari melakukan gerakan melingkar, memutar, dan berbaris lurus, kemudian berpencar membentuk setengah lingkaran. Gerakan berjongkok menirukan memetik padi menjadi inti ekspresi tarian, menampilkan keceriaan masyarakat saat panen tiba.
Gerakan Penutup
Setelah gerakan utama, para penari saling berangkulan, memainkan kaki, memutar putaran kecil, dan berlanjut ke putaran besar. Empat penari mengelilingi satu penari dan berhenti seolah menyambut penonton, menutup pertunjukan dengan indah sebelum kembali ke belakang panggung.
Peran Sanggar Blarak dalam Pelestarian Tari Petik Pari
Di Sanggar Blarak Pacitan, anak-anak sanggar bereksplorasi dengan gerakan dasar tari. Anak remaja yang telah mahir dilatih untuk menularkan ilmu ke adik-adik mereka. Sanggar juga mengirim penari muda ke sekolah-sekolah SD, SMP, dan SMA untuk memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda.
Anang menekankan pentingnya menciptakan tontonan yang menarik sekaligus mendidik. Gerak tari selalu diiringi tradisi dan budaya sehingga nilai-nilai positif masyarakat agraris di Jawa terejawantahkan melalui Petik Pari. Tarian ini mengajarkan rasa syukur, kerja keras, dan kecintaan terhadap budaya lokal.
Makna dan Dampak Budaya
Tari Petik Pari menjadi media pelestarian budaya yang hidup. Penonton tidak hanya menikmati gerak dan musik, tetapi juga memahami filosofi di baliknya. Tarian ini memperkenalkan generasi muda pada pentingnya menghormati alam, menghargai hasil panen, dan melestarikan tradisi leluhur.
Petik Pari juga berperan dalam pengembangan kreativitas anak-anak sanggar dan memperkuat identitas budaya Pacitan. Setiap gerakan menekankan harmoni antara manusia dan alam serta menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan budaya Nusantara.
Penutup
Petik Pari membuktikan bahwa tradisi agraris dan budaya tetap hidup melalui seni kontemporer yang penuh makna. Tarian ini menghadirkan edukasi, hiburan, dan pelestarian budaya dalam satu pertunjukan yang memukau bagi semua penonton.
Simak berita budaya dan tarian tradisional menarik lainnya di Negeri Kami. Temukan juga ragam cerita inspiratif seputar warisan budaya Jawa Timur dan Indonesia.



