Pawai Tatung: Atraksi Kesaktian Dayak-Tionghoa di Singkawang

Pawai Tatung: Atraksi Kesaktian Dayak-Tionghoa di Singkawang

Last Updated: 15 January 2026, 06:00

Bagikan:

pawai tatung
Foto: Indonesia Kaya

Pawai Tatung – Parade atraksi kesaktian warga Dayak-Tionghoa yang digelar dalam rangkaian perayaan Cap Go Meh di Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Tradisi ini menampilkan para tatung, yakni orang-orang yang menusukkan benda tajam ke tubuhnya dalam kondisi dirasuki kekuatan supranatural sebagai bagian dari ritual tolak bala dan pembersihan diri.

Berdasarkan catatan dari Indonesia Kaya, meskipun perayaan Cap Go Meh dirayakan oleh masyarakat Tionghoa di berbagai belahan dunia, pawai tatung hanya dapat disaksikan di Indonesia, tepatnya di Singkawang. Keunikan inilah yang menjadikan kota ini dikenal luas sebagai ruang pertemuan budaya Dayak dan Tionghoa dengan tradisi yang khas, hidup, dan berbeda dari daerah lain.

Asal-usul Pawai Tatung di Singkawang

Tradisi tatung bermula dari kedatangan etnis Tionghoa, khususnya suku Khek atau Hakka, ke Pulau Borneo sekitar empat abad silam. Pada masa itu, Sultan Sambas mempekerjakan masyarakat pendatang tersebut di pertambangan emas Monterado. Mereka kemudian menetap dan hidup berdampingan dengan masyarakat Dayak dan Melayu.

Ketika wabah penyakit melanda dan belum dikenal pengobatan modern, masyarakat meyakini bahwa wabah tersebut disebabkan oleh gangguan roh jahat. Sebagai upaya tolak bala, masyarakat Tionghoa menggelar ritual yang dalam bahasa Hakka disebut Ta Ciau. Ritual inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya tradisi tatung di Singkawang.

Rangkaian Ritual Menjelang Pawai Tatung

Menjelang perayaan Cap Go Meh, masyarakat Tionghoa Singkawang melaksanakan ritual sembahyang selama 13 – 15 hari setelah Tahun Baru Imlek. Masa ini dikenal sebagai hari harimau putih, di mana warga berdoa di vihara agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Menjelang sore hari, para pendeta atau suhu melakukan sembahyang khusus untuk meminta izin kepada para dewa agar ritual tatung berjalan lancar. Upacara pemanggilan tatung dipimpin oleh pendeta dengan menghadirkan roh-roh orang yang telah meninggal untuk merasuki para tatung. Roh-roh tersebut dipercaya sebagai roh baik yang mampu menangkal unsur jahat dan menjaga keharmonisan masyarakat.

Aturan Ketat dan Proses Penetapan Tatung

Tidak semua orang dapat menjadi tatung. Biasanya, tatung berasal dari garis keturunan tertentu, di mana ayah atau kakeknya pernah menjadi tatung. Selain itu, calon tatung diwajibkan menjalani puasa selama tiga hari sebelum perayaan dan dilarang mengonsumsi daging.

Bagi tatung yang telah berkeluarga, terdapat larangan untuk berhubungan badan selama tujuh hari sebelum pawai berlangsung. Aturan ini bertujuan agar tatung berada dalam kondisi suci. Secara administratif, tatung juga harus memiliki surat pernyataan dari lurah dan terdaftar di sekretariat Tao sebagai syarat mengikuti Festival Cap Go Meh. Tanpa legalitas tersebut, seseorang tidak diperkenankan ikut serta dalam pawai.

Prosesi Pawai Tatung dan Atraksi Kesaktiannya

Pawai tatung dilaksanakan pada puncak perayaan Cap Go Meh, setelah pawai lampion, barongsai, dan naga. Prosesi dimulai dari altar vihara, diawali dengan persembahan kepada Dewa To Pe Kong dan pemanggilan roh agar tubuh tatung menjadi kebal.

Para tatung kemudian diarak berkeliling kota Singkawang dengan mengenakan kostum kebesaran suku Dayak dan Tionghoa masa silam. Atraksi yang ditampilkan sangat menegangkan, seperti berdiri di atas mata pedang, berjalan di atas pecahan beling, hingga menusukkan kawat baja runcing ke pipi. Menariknya, para tatung tidak menunjukkan rasa sakit atau luka selama atraksi berlangsung.

Rute pawai melintasi sejumlah jalan utama kota, mulai dari Lapangan Krisadana hingga berakhir di Muka Altar Elang. Di akhir prosesi, para tatung berkumpul untuk melakukan sembahyang bersama kepada Thian di altar pusat perayaan Cap Go Meh.

Makna Pawai Tatung bagi Masyarakat Singkawang

Pawai tatung bukan sekadar tontonan atraksi kesaktian, tetapi memiliki makna spiritual dan sosial yang kuat. Tradisi ini mencerminkan pembauran kepercayaan Taoisme kuno dengan animisme lokal yang berkembang di tengah masyarakat Dayak dan Melayu.

Keberadaan pawai tatung juga menjadi simbol harmoni antar etnis di Singkawang, kota yang dihuni oleh masyarakat Melayu, Tionghoa, dan Dayak. Tradisi ini menegaskan bahwa perbedaan budaya dan kepercayaan dapat hidup berdampingan secara damai dan saling menguatkan.

Penutup

Pawai tatung merupakan warisan budaya yang penuh nilai sejarah, ritual, dan asimilasi budaya Dayak-Tionghoa yang terus dijaga lintas generasi. Keunikan tradisi ini menjadikan Singkawang sebagai salah satu pusat wisata budaya berbasis tradisi sakral yang tidak tergantikan di Indonesia.

Jangan lewatkan berbagai artikel menarik lainnya seputar tradisi, ritual sakral, dan keberagaman budaya Indonesia di Negeri Kami. Mari bersama-sama mengenal, memahami, dan menjaga warisan budaya Nusantara melalui kisah-kisah yang tumbuh dari nilai dan praktik kehidupan masyarakat.

Search

Video

Budaya Detail

Kalimantan Barat

Acara Sakral

Kota Singkawang

Budaya

Budaya Lainnya