Lamang Tapai – Makanan ringan khas Minangkabau, Sumatera Barat. Rasanya manis, enak, dan memiliki sedikit rasa fermentasi yang khas. Menurut Wikipedia, kuliner ini biasanya dijumpai pada momen penting seperti Idul Fitri, pernikahan, pesta adat, atau acara khitanan, dan juga populer sebagai hidangan berbuka puasa di bulan Ramadan.
Selain kelezatannya, lamang menjadi simbol tradisi Minangkabau. Cara penyajiannya sering melibatkan gotong royong, mencerminkan nilai kebersamaan, dan menjadi sarana melestarikan budaya sambil menghadirkan kehangatan sosial.
Sejarah Lamang Tapai
Dulunya, hidangan ini dijadikan buah tangan dari menantu perempuan kepada mertuanya sebagai cara untuk mengkomunikasikan kehidupan rumah tangga dan menilai keharmonisan keluarga. Selain itu, hidangan ini juga dibawa saat upacara manjapuik marapulai. Saat ini, makanan khas ini mudah ditemui pada bulan Ramadan, Idul Fitri, Idul Adha, peringatan Maulid Nabi, pesta pernikahan, atau acara bertamu. Pembuatan biasanya dilakukan sebelum hari spesial dan dikenal dengan tradisi malamang, yaitu proses gotong royong antarwarga. Tidak ada makna simbolis khusus dalam penyajiannya, tetapi masyarakat Minang percaya bahwa lamang dan tapai tidak bisa dipisahkan, ibarat laki-laki dan perempuan yang saling melengkapi.
Pembuatan Lamang Tapai
Bahan
- 500 g beras ketan hitam
- 2 keping ragi tape
- 2 sdm gula halus
- 2 gelas air
- 4 kg beras ketan
- Santan dari 6 buah kelapa
- 4 siung bawang putih yang ditumbuk halus
- Garam secukupnya
Cara Memasak
Pembuatannya mirip dengan lemang, menggunakan ruas bambu muda. Beras ketan dicuci bersih, dimasukkan ke dalam bambu, ditutup dengan daun pisang, lalu disiram santan dan dibakar perlahan selama sekitar lima jam. Sedangkan tapai pulut dibuat dengan cara memfermentasi beras ketan hitam dengan ragi minimal dua hari hingga matang.
Popularitas Lamang Tapai
Makanan ini mudah ditemukan di pasar tradisional Dataran Tinggi Minangkabau dengan harga Rp20.000 – 30.000. Cara menikmatinya ada dua: dicampur seperti kolak atau lemang diiris tipis dan dicelupkan ke dalam tapai. Hidangan ini juga pernah diabadikan dalam lagu berjudul Lamang Tapai oleh almarhumah Elly Kasim.
Penutup
Lamang tapai bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang pelestarian budaya Minangkabau. Setiap proses pembuatannya mencerminkan nilai sosial, gotong royong, dan kebersamaan yang masih dijaga hingga kini.
Simak berita menarik lainnya tentang kuliner, budaya, dan kreativitas generasi muda di Negeri Kami. Temukan juga inspirasi baru dan kisah seru yang memperkaya wawasan serta semangat kreatifmu.



