Kuliner kidu-kidu adalah makanan tradisional khas Suku Karo di Sumatera Utara yang menggunakan ulat sagu dari pohon aren sebagai bahan utama dan dikenal sebagai sajian unik bercita rasa gurih. Masyarakat Karo mengolah kuliner kidu-kidu dengan bumbu khas daerah sehingga hidangan tersebut memiliki karakter rasa yang kuat dan berbeda dari masakan Nusantara lainnya. Media nasional seperti Kompas.com dan detikSumut melaporkan bahwa kidu-kidu merupakan bagian dari kekayaan kuliner Tanah Karo yang masih dikonsumsi hingga kini (Kompas.com, 2021; detikSumut, 2024).
Asal Usul Kuliner Kidu-Kidu dalam Budaya Tanah Karo Sumatera Utara
Kuliner kidu-kidu berasal dari tradisi masyarakat Karo yang memanfaatkan larva kumbang dari batang pohon aren atau enau sebagai sumber pangan lokal bergizi. Masyarakat Tanah Karo mengenal ulat sagu tersebut dengan sebutan “kidu” sehingga nama kuliner kidu-kidu merujuk langsung pada bahan utamanya. Ulat pohon enau telah lama dikonsumsi masyarakat Karo sebagai bagian dari kebiasaan kuliner tradisional (Kompas.com, 2021).
Masyarakat pedesaan di wilayah Karo masih mempertahankan praktik pengolahan kidu-kidu sebagai bagian dari identitas makanan khas daerah (detikSumut, 2026). Tradisi konsumsi tersebut menunjukkan bahwa kuliner kidu-kidu bukan sekadar makanan ekstrem, melainkan bagian dari sistem pangan lokal yang diwariskan turun-temurun.
Bahan dan Ciri Khas Kuliner Kidu-Kidu Ulat Sagu
Kuliner kidu-kidu menggunakan ulat sagu berwarna putih kekuningan yang hidup di batang pohon aren yang telah lapuk. Masyarakat Karo membersihkan ulat sagu sebelum proses memasak untuk memastikan kebersihan dan kualitas bahan. Tekstur ulat sagu yang gemuk dan lembut menjadi daya tarik tersendiri bagi penikmatnya (Liputan6.com, 2023).
Ciri khas kuliner kidu-kidu meliputi:
- Ulat sagu segar sebagai bahan utama.
- Bumbu khas Batak Karo seperti bawang, cabai, andaliman, dan rempah lokal.
- Proses memasak dengan cara ditumis, digoreng, atau dimasak bersama kuah berbumbu.
- Tekstur lembut di bagian dalam dan gurih setelah dimasak.
Kombinasi rempah khas daerah membuat rasa kidu-kidu semakin kuat dan khas sehingga berbeda dari olahan serangga di daerah lain (Merdeka.com, 2023).
Cara Pengolahan Kuliner Kidu-Kidu Menurut Liputan Media
Masyarakat Karo mengolah kuliner kidu-kidu melalui beberapa tahapan yang sistematis. Warga desa membersihkan ulat sagu dari kotoran sebelum proses memasak dimulai. Ulat sagu dapat digoreng terlebih dahulu untuk menghasilkan tekstur lebih kering di bagian luar (Kompas.com, 2021).
Tahapan pengolahan kuliner kidu-kidu meliputi:
- Pembersihan ulat sagu hingga higienis.
- Penyiapan bumbu tradisional khas Karo.
- Proses penumisan atau penggorengan awal.
- Pencampuran dengan bumbu hingga meresap sempurna.
Sebagian masyarakat juga memasak kidu-kidu dengan kuah berbumbu agar rasa semakin kaya dan tidak terlalu berminyak (detikSumut, 2026).
Fungsi Sosial Kuliner Kidu-Kidu dalam Acara Masyarakat Karo
Kuliner kidu-kidu memiliki fungsi sosial dalam kehidupan masyarakat Tanah Karo. Masyarakat Karo menyajikan kidu-kidu dalam acara keluarga dan momen kebersamaan sebagai bentuk penghormatan terhadap tamu. Sajian ini sering hadir dalam konteks pertemuan adat maupun kegiatan sosial (Kompas.com, 2021).
Fungsi sosial kuliner kidu-kidu antara lain:
- Masyarakat mempererat hubungan kekeluargaan melalui makan bersama.
- Tuan rumah menunjukkan identitas budaya melalui hidangan khas daerah.
- Generasi muda mengenal warisan kuliner lokal secara langsung.
Citra ekstrem tidak mengurangi nilai sosial kidu-kidu dalam komunitas asalnya (Liputan6.com, 2023).
Nilai Gizi Ulat Sagu dalam Kuliner Kidu-Kidu
Ulat sagu yang menjadi bahan kuliner kidu-kidu mengandung protein yang tinggi sehingga dapat menjadi sumber energi alternatif. Masyarakat lokal meyakini kandungan gizi ulat sagu cukup baik untuk tubuh (detikSumut, 2026). Ulat sagu mengandung zat gizi penting yang menjadikannya sumber pangan bernilai (Merdeka.com, 2023).
Kandungan gizi yang sering disebut dalam pemberitaan meliputi:
- Protein sebagai sumber pembentukan jaringan tubuh.
- Lemak alami sebagai sumber energi.
- Kandungan nutrisi mikro yang mendukung metabolisme.
Informasi tersebut memperlihatkan bahwa kuliner kidu-kidu tidak hanya unik secara visual, tetapi juga memiliki nilai nutrisi.
Persepsi Publik terhadap Kuliner Kidu-Kidu sebagai Makanan Ekstrem
Kuliner kidu-kidu sebagai makanan ekstrem karena bahan dasarnya berupa ulat. Persepsi ekstrem muncul dari sudut pandang masyarakat luar daerah yang belum terbiasa dengan konsumsi serangga (Liputan6.com, 2023).
Namun masyarakat Karo memandang kuliner kidu-kidu sebagai makanan biasa yang memiliki nilai budaya dan sejarah. Perspektif lokal berbeda dari persepsi wisatawan atau pembaca media (Kompas.com, 2021).
Kuliner kidu-kidu menunjukkan bahwa masyarakat Karo memiliki sistem pangan lokal yang memanfaatkan sumber daya alam secara optimal dan bernilai budaya tinggi. Kuliner kidu-kidu menghadirkan perpaduan antara tradisi, cita rasa khas, dan nilai gizi dalam satu hidangan yang unik.
Pembaca dapat menemukan berbagai artikel menarik lainnya tentang kuliner dan budaya Nusantara di Negeri Kami. Redaksi Negeri Kami menyajikan informasi mendalam dan faktual tentang kekayaan tradisi Indonesia dari berbagai daerah.
Referensi

