Helaran Dongdang – Ritual puncak dalam tradisi Seren Taun yang digelar oleh masyarakat Kampung Budaya Sindang Barang. Tradisi ini menampilkan arak arakan dongdang berisi hasil bumi dan kerajinan yang diperebutkan bersama-sama sebagai ungkapan syukur atas panen.
Berdasarkan catatan dari Indonesia Kaya, helaran dongdang bukan sekadar ritual, tetapi juga menjadi media pelestarian budaya Sunda dan mempererat solidaritas warga. Setiap dongdang dihias dengan sayur, buah, makanan, dan kue hasil sumbangan sukarela masyarakat, mencerminkan semangat gotong royong serta rasa syukur komunitas terhadap alam dan panen yang melimpah.
Ritual Awal dan Penyucian Dongdang
Acara dimulai dengan bakaran kemenyan dan lantunan doa. Seorang kokolot mencipratkan air suci ke dongdang dan masyarakat, yang berasal dari gabungan tujuh mata air melalui ritual Ngala Cai Kukulu. Cipratan air suci dipercaya membawa berkah bagi semua yang terkena.
Arak-arakan Dongdang dalam Helaran Dongdang
Setelah penyucian, arak arakan dimulai. Para kokolot berada di barisan depan, diikuti pembawa rengkong yaitu pikul padi dari bambu yang menghasilkan suara khas saat digoyangkan. Angklung gubrag dimainkan oleh para ibu mengenakan baju kampret, menambah kemeriahan perjalanan sejauh 2 km dari Imah Bali ke Alun Alun Kampung Budaya Sindang Barang.
Perebutan Dongdang dan Ritual Majieken
Di Alun Alun, dongdang dikumpulkan dan ritual Majieken Pare Ayah dan Pare Ambu dilaksanakan, yaitu mengawinkan hasil panen dan memasukkannya ke lumbung padi sebagai persediaan pangan setahun. Kokolot memimpin doa di hadapan sajian kue, kembang tujuh rupa, sirih, kelapa, pisang, dan bakaran kemenyan. Setelah itu, masyarakat bebas mengambil isi dongdang. Suasana riuh dan penuh tawa menyelimuti, dari anak-anak hingga orang tua. Mereka percaya bahwa setiap secuil hasil dongdang membawa berkah.
Nilai Budaya Helaran Dongdang
Helaran dongdang menegaskan rasa syukur masyarakat Sindang Barang atas hasil panen dan kesejahteraan dari Tuhan. Tradisi ini menanamkan nilai gotong royong, kearifan lokal, dan pelestarian budaya Sunda, sekaligus menjadi media edukasi bagi generasi muda.
Penutup
Helaran dongdang menunjukkan bagaimana tradisi adat dapat menjadi perekat sosial sekaligus media ekspresi budaya. Masyarakat Kampung Budaya Sindang Barang terus melestarikan ritual ini sebagai bentuk syukur dan kebanggaan atas warisan leluhur.
Jangan lewatkan berita menarik lainnya seputar tradisi, ritual, dan budaya Sunda di Negeri Kami. Mari bersama-sama melestarikan warisan leluhur, memahami makna setiap adat, dan merasakan langsung kekayaan budaya Nusantara melalui pengetahuan dan pengalaman nyata.



