Gudeg: Kuliner Khas Yogyakarta yang Manis dan Legendaris

Gudeg: Kuliner Khas Yogyakarta yang Manis dan Legendaris

Last Updated: 7 January 2026, 06:00

Bagikan:

gudeg
Foto: Indonesia Kaya

Gudeg – Hidangan khas Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah yang terkenal dengan rasa manisnya. Terbuat dari nangka muda yang dimasak dengan santan, gudeg menjadi salah satu simbol kuliner tradisional Jawa yang digemari oleh berbagai kalangan.

Menurut Wikipedia, proses pembuatan gudeg memerlukan waktu berjam-jam agar tekstur nangka menjadi lembut dan rasa manisnya meresap sempurna. Biasanya, gudeg disajikan dengan nasi putih, ayam kampung, telur, tempe, tahu, serta sambal goreng krecek, sehingga menciptakan kombinasi rasa yang kaya dan khas.

Asal-usul Gudeg Yogyakarta

Gudeg berasal dari buah nangka yang tumbuh luas di Indonesia, khususnya di Jawa. Legenda mengaitkan gudeg dengan berdirinya Kesultanan Mataram pada akhir abad ke-16. Pejuang yang membuka hutan di wilayah Yogyakarta saat itu hanya memiliki nangka muda dan kelapa sebagai bahan makanan. Nangka yang keras direbus dalam santan berjam-jam, diaduk dengan papan kayu, hingga lembut. Proses mengaduk ini dalam bahasa Jawa disebut hangudêk, yang kemudian melahirkan nama “Gudeg”.

Proses Pembuatan Gudeg Yogyakarta

Gudeg dibuat dari daging buah nangka muda yang dipotong kecil-kecil dan direbus dalam santan dengan bumbu rempah tertentu. Warna cokelat khas gudeg biasanya dihasilkan dari daun jati yang dimasak bersamaan. Rempah seperti ketumbar, lengkuas, jahe, bawang merah, dan bawang putih menambah aroma dan cita rasa. Beberapa variasi menambahkan teh celup atau daun kelor untuk warna dan rasa yang berbeda.

Penyajian gudeg biasanya dilengkapi lauk seperti ayam, telur, tempe, tahu, dan sambal goreng krecek. Gudeg juga bisa dikemas dalam besek, kendil, atau kaleng, membuatnya tahan lama meski rasanya paling nikmat ketika baru dimasak.

Varian Gudeg

Gudeg memiliki beberapa varian, antara lain:

  • Gudeg Kering: Sedikit santan, tekstur padat.
  • Gudeg Basah: Lebih banyak santan, tekstur lembut.
  • Gudeg Yogyakarta (Merah): Manis, kering, berwarna kemerahan karena daun jati.
  • Gudeg Solo (Putih): Berair, lebih banyak santan, warna keputihan.
  • Gudeg Jawa Timur: Rasa lebih pedas dibandingkan Yogyakarta.

Penjualan dan Popularitas

Gudeg dijajakan di rumah makan, restoran, pedagang kaki lima, hingga kalengan untuk ekspor. Pusat gudeg Yogyakarta berada di Jalan Wijilan dekat Keraton, dengan puluhan restoran yang beroperasi 24 jam. Gudeg kaleng bahkan dipasarkan ke luar negeri, termasuk Singapura dan Malaysia, menjadikannya kuliner legendaris yang dikenal luas.

Penutup

Menikmati gudeg bukan sekadar menyantap makanan, tetapi juga merasakan perjalanan kuliner yang sarat budaya Yogyakarta. Setiap suapan menghadirkan rasa manis yang memanjakan lidah, sekaligus membawa Anda meresapi tradisi dan kearifan lokal yang kaya dari kota gudeg ini.

Simak berita menarik lainnya tentang kuliner, budaya, dan kreativitas generasi muda di Negeri Kami. Temukan juga inspirasi baru dan kisah seru yang memperkaya wawasan serta semangat kreatifmu.

Search

Video

Budaya Detail

DI Yogyakarta

Kuliner

Kota Yogyakarta / Kecamatan Kraton / Kawasan Wijilan

Budaya

Budaya Lainnya