Bakar Batu: Tradisi Gotong Royong dan Syukuran Warga Papua

Bakar Batu: Tradisi Gotong Royong dan Syukuran Warga Papua

Last Updated: 2 January 2026, 03:00

Bagikan:

bakar batu
Foto: Wikipedia

Bakar Batu – Tradisi Papua yang melibatkan gotong royong seluruh warga kampung dalam memasak bersama. Kegiatan ini biasanya dilakukan untuk bersyukur, merayakan kelulusan, pernikahan adat, penobatan kepala suku, atau bahkan mengumpulkan prajurit sebelum berperang.

Menurut Wikipedia, tradisi ini umum dilakukan oleh suku pedalaman dan pegunungan seperti di Lembah Baliem, Lanny Jaya, Nduga, Pegunungan Tengah, Pegunungan Bintang, Jayawijaya, Tolikara, dan Yahukimo. Bakar Batu menjadi simbol solidaritas, kebersamaan, dan identitas budaya yang dijaga secara turun-temurun oleh masyarakat Papua.

Nama Bakar Batu di Berbagai Suku

Disebut bakar batu karena batu benar-benar dibakar hingga panas membara, lalu digunakan untuk memasak makanan secara tradisional. Di setiap suku, tradisi ini memiliki nama berbeda, misalnya Barapen (Biak), Lago Lakwi (Lani, Tolikara), Logo Lakwi (Dani, Puncak), Mogo Gapil (Paniai), Kit Oba Isogoa (Wamena, Jayawijaya), Kelayogotago (Damal), Kerep Kan (Nduga), dan Hupon (Pegunungan Bintang).

Tahapan Ritual Bakar Batu

Ritual bakar batu dilakukan dengan beberapa tahapan:

  1. Batu ditumpuk di atas perapian dan dibakar sampai kayu habis terbakar dan batu menjadi panas, kadang sampai merah membara.
  2. Warga menggali lubang yang cukup dalam untuk meletakkan batu panas.
  3. Batu panas diletakkan di dasar lubang yang diberi alas daun pisang dan alang-alang.
  4. Di atas batu panas ditumpuk daun pisang, kemudian daging babi yang sudah diiris-iris.
  5. Di atas daging babi ditutup daun pisang, lalu ditambah batu panas lagi dan lapisan daun.
  6. Ubi jalar, singkong, dan sayuran lain ditutup dengan daun, ditumpuk batu panas lagi, dan ditutup daun pisang serta alang-alang.

Babi yang akan dimasak tidak langsung disembelih, tetapi dipanah terlebih dahulu. Jika babi langsung mati, hal tersebut dianggap sebagai pertanda acara akan sukses. Sebaliknya, jika babi tidak langsung mati, hal tersebut menjadi pertanda acara tidak akan sukses. Setelah makanan matang, biasanya setelah dimasak selama sekitar satu jam, seluruh anggota suku berkumpul untuk membagi makanan dan menikmatinya bersama di lapangan tengah kampung. Momen tersebut menjadi bagian penting dalam menguatkan solidaritas dan kebersamaan masyarakat Papua.

Keberlanjutan dan Adaptasi

Hingga kini, tradisi bakar batu masih terus dilakukan dan berkembang untuk menyambut tamu penting, termasuk pejabat daerah maupun nasional. Untuk masyarakat pedalaman yang beragama Islam atau saat menyambut tamu muslim, daging babi dapat diganti dengan ayam, bebek, domba, atau kambing, atau dimasak terpisah dari babi. Contohnya dilakukan oleh masyarakat adat Walesi di Kabupaten Jayawijaya untuk menyambut Bulan Ramadhan.

Penutup

Tradisi bakar batu merupakan warisan budaya Papua yang mengajarkan gotong royong, syukuran, dan solidaritas antarkampung. Lebih dari sekadar kuliner, tradisi ini menjadi simbol kebersamaan yang dijaga dari generasi ke generasi.

Jangan lewatkan berita menarik lainnya tentang tradisi dan budaya Papua di Negeri Kami. Mari lestarikan kebersamaan, gotong royong, dan nilai-nilai adat melalui pengetahuan dan pengalaman nyata dari budaya Indonesia.

Search

Video

Budaya Detail

PapuaPapua PegununganPapua Tengah

Acara Sakral

Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Lanny Jaya, Kabupaten Nduga, Kabupaten Pegunungan Tengah, Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Yahukimo

Budaya

Budaya Lainnya