Negerikami.id – Sekilas, Pakaian Adat Sumba mungkin terlihat seperti kain tradisional dengan warna merah, biru, hitam, dan cokelat yang mencolok. Namun, di balik tampilannya, tersimpan pengetahuan tentang alam, sejarah, hubungan sosial, hingga kepercayaan yang diwariskan lintas generasi. Tenun ikat Sumba bahkan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2013 melalui SK Nomor 238/M/2013. (Kemdikbud Data Reference)
Yang lebih mengejutkan, tidak semua motif yang terlihat “tradisional” ternyata berasal dari masa lampau yang sama. Dokumentasi resmi kebudayaan mencatat adanya motif yang dipengaruhi hubungan Sumba dengan dunia luar, termasuk motif naga yang berkaitan dengan keramik Tiongkok dan motif singa yang terinspirasi gambar pada uang Belanda. (Kemdikbud Data Reference)
Artinya, kain Sumba bukan budaya yang sepenuhnya terisolasi. Justru sejarahnya memperlihatkan bagaimana masyarakat lokal menyerap pengaruh luar lalu mengolahnya menjadi identitas sendiri.
1. Tenun Ikat Sumba Sudah Diakui sebagai Warisan Budaya
Tenun Ikat Sumba tercatat sebagai karya budaya dari Provinsi Nusa Tenggara Timur dalam domain kemahiran dan kerajinan tradisional. Penetapannya sebagai Warisan Budaya Takbenda dilakukan pada 2013. (Kemdikbud Data Reference)
Pengakuan tersebut penting karena yang diwariskan bukan hanya kain jadi. Di dalamnya terdapat keterampilan membuat pola, mengikat benang, memberi warna, menenun, serta pengetahuan mengenai bahan-bahan yang digunakan.
Dengan kata lain, ketika sebuah kain Sumba selesai dibuat, ada rangkaian pengetahuan panjang yang sebenarnya ikut tersimpan di dalamnya.
2. Proses Membuatnya Bisa Berbulan-bulan
Jangan bayangkan kain Sumba sebagai produk yang bisa selesai dalam beberapa hari. Direktorat Jenderal Kebudayaan mencatat bahwa proses pembuatan tenun di Sumba dapat berlangsung berbulan-bulan, bahkan mencapai satu tahun untuk kain berukuran besar. (Kebudayaan)
Tahapannya panjang. Benang harus dipersiapkan, pola dibuat dan diikat, kemudian benang dicelup berulang kali sebelum akhirnya ditenun.
Karena itu, harga dan nilai sebuah kain tidak semata-mata berasal dari ukuran atau tampilannya. Waktu, keterampilan, bahan, dan kerumitan motif turut menentukan nilai sebuah tenun.
3. Warnanya Bisa Berasal dari Tumbuhan
Salah satu sisi paling menarik dari tenun Sumba adalah penggunaan pewarna alami. Di Sumba Timur, misalnya, pengrajin menggunakan tanaman lokal seperti wuira atau nila, akar mengkudu, serta daun dan kulit loba. (Kebudayaan)
Nila digunakan untuk menghasilkan warna biru hingga biru kehitaman, sedangkan mengkudu dapat menghasilkan warna merah atau cokelat. Proses pencelupan dilakukan beberapa kali sesuai tingkat warna yang diinginkan. (Kebudayaan)
Penelitian mengenai tenun ikat di Sumba Timur juga mendokumentasikan penggunaan berbagai tumbuhan sebagai sumber warna alami. Hal tersebut menunjukkan bahwa keahlian menenun memiliki hubungan erat dengan pengetahuan masyarakat terhadap lingkungan sekitar. (Garuda)
4. Motifnya Tidak Selalu Berasal dari Indonesia
Inilah salah satu fakta yang paling menarik.
Dokumentasi Warisan Budaya Kemendikbud mencatat bahwa motif ular naga pada kain Sumba merupakan serapan dari budaya Tiongkok, yang berkaitan dengan benda keramik China yang masuk melalui jalur perdagangan pada abad ke-16. (Kemdikbud Data Reference)
Ada pula motif singa atau Mahang. Menurut sumber yang sama, motif tersebut tidak ditemukan dalam bahasa sastra Sumba dan ditiru dari gambar singa pada uang Belanda. Motif gajah juga dikaitkan dengan interaksi perdagangan masa lalu yang membawa gading dan kain sutera bermotif gajah ke Sumba. (Kemdikbud Data Reference)
Jadi, menyebut tenun Sumba sebagai budaya yang “murni tanpa pengaruh luar” justru terlalu menyederhanakan sejarahnya.
5. Ada Motif yang Berkaitan dengan Kehidupan Adat
Motif pada kain Sumba bukan sekadar dekorasi. Beberapa corak mempunyai hubungan dengan nilai, kehidupan sosial, dan kepercayaan masyarakat.
Salah satu contohnya adalah Patuala Ratu, yang memiliki corak geometris berulang. Dokumentasi pemerintah mencatat bahwa kain tersebut secara khusus digunakan oleh imam dalam upacara kematian kaum bangsawan dan raja. (Kemdikbud Data Reference)
Ada pula motif Liakat atau Panongu Hei Panongu Puru yang dikaitkan dengan kisah sejarah lokal dan kemudian dimaknai sebagai simbol “tangga naik” dan “tangga turun” dalam pemahaman Marapu. (Kemdikbud Data Reference)
Hal ini memperlihatkan bahwa satu motif dapat membawa cerita yang jauh lebih panjang daripada bentuk visualnya.
6. Penenun Perempuan Memegang Peran Penting
Di balik kain yang menjadi ikon budaya Sumba, terdapat peran besar perempuan sebagai penenun. Dokumentasi Direktorat Jenderal Kebudayaan menyebut kegiatan menenun secara umum dilakukan oleh perempuan, sementara keseluruhan prosesnya membutuhkan ketekunan dan waktu panjang. (Kebudayaan)
Penelitian mengenai Sumba Timur juga mencatat bahwa kegiatan menenun secara tradisional menjadi bagian dari aktivitas perempuan di masyarakat. Bahkan, proses pewarnaan alami membutuhkan pencelupan dan pengeringan berulang untuk mendapatkan warna yang diinginkan. (Garuda)
Karena itu, ketika membicarakan pakaian adat Sumba, sebenarnya kita juga sedang membicarakan pengetahuan dan keterampilan perempuan yang diwariskan antargenerasi.
7. Kain Sumba Kini Masuk Pasar Lebih Luas
Dahulu, kain tenun terutama digunakan dalam lingkungan adat dan kehidupan masyarakat. Kini, perkembangannya sudah jauh lebih luas.
Penelitian di Sumba Timur mencatat bahwa kegiatan tenun telah berkembang dari penggunaan sendiri menjadi usaha kerajinan komersial yang dipasarkan secara lokal, nasional, bahkan internasional. Penelitian tersebut juga mencatat 628 unit usaha pada 2011 dan peningkatan jumlah unit usaha menjadi 2.741 berdasarkan data 2012 yang digunakan dalam penelitian. (Garuda)
Perkembangan pasar memang membuka peluang ekonomi. Namun, popularitas juga membawa tantangan: ketika kain tradisional semakin diminati, pengetahuan mengenai asal-usul motif dan proses pembuatannya perlu tetap dijaga agar nilai budayanya tidak hilang di balik tren fesyen.
Mengapa Pakaian Adat Sumba Begitu Menarik?
Jawabannya justru bukan karena kain tersebut terlihat “eksotis”.
Daya tariknya muncul dari cerita yang tersimpan di balik setiap benang. Ada tumbuhan yang digunakan sebagai pewarna, teknik ikat yang rumit, motif yang terhubung dengan sejarah perdagangan, hingga simbol yang berkaitan dengan kehidupan adat.
Itulah yang membuat tenun Sumba berbeda dari sekadar kain bermotif. Ia menjadi semacam catatan sejarah yang dibuat menggunakan benang dan warna.
Penutup
Pakaian Adat Sumba menunjukkan bahwa budaya tidak selalu lahir dari sesuatu yang sepenuhnya tertutup dari dunia luar. Motif Tiongkok, pengaruh Eropa, bahan pewarna lokal, dan tradisi masyarakat Sumba justru bertemu dalam satu karya tekstil.
Tujuh fakta tersebut memperlihatkan bahwa di balik warna-warni tenun Sumba terdapat proses panjang, pengetahuan ekologis, keterampilan perempuan, sejarah perdagangan, serta nilai adat.
Maka, saat melihat selembar kain Sumba, jangan hanya melihat warnanya. Lihat pula cerita yang berhasil dipertahankan di antara benang-benangnya.
Sumber Referensi
- Warisan Budaya Kemendikbud – Tenun Ikat Sumba
https://referensi.data.kemdikbud.go.id/budayakita/wbtb/objek/AA000647 - Direktorat Jenderal Kebudayaan – Pewarnaan Alami Tenun Sumba
https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/artikel/page/20/ - Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya – Tenun Ikat Sumba
https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/tenun-ikat-sumba/ - Jurnal Penelitian Hutan Tanaman – Pemanfaatan Tumbuhan Pewarna di Sumba Timur
https://download.garuda.kemdikbud.go.id/article.php?article=572890&title=TINGKAT+PEMANFAATAN+TUMBUHAN+PENGHASIL+WARNA+PADA+USAHA+TENUN+IKAT+DI+KABUPATEN+SUMBA+TIMUR&val=6163 - Penelitian Tanaman Pewarna Tenun Ikat Kaliuda, Sumba Timur
https://download.garuda.kemdikbud.go.id/article.php?article=851637&title=Identifikasi+Jenis+Tanaman+Pewarna+Tenun+Ikat+di+Desa+Kaliuda+Kecamatan+Pahunga+Lodu+Kabupaten+Sumba+Timur&val=10287 - Kajian tentang Perempuan Penenun di Sumba
https://download.garuda.kemdikbud.go.id/article.php?article=1683472&title=Perempuan+Penenun+Menelusuri+Pengalaman+Perempuan+Penenun+di+Sumba+dari+Sudut+Pandang+Teologi+Keindahan+menurut+John+Navone&val=18288