5 Fakta Tari Merak, Tarian Sunda yang Terinspirasi Burung Asli

5 Fakta Tari Merak, Tarian Sunda yang Terinspirasi Burung Asli

Last Updated: 22 September 2026, 15:12

Bagikan:

5 Fakta Tari Merak, Tarian Sunda yang Terinspirasi Burung Asli

Negerikami.id – Gerakannya anggun, kostumnya penuh warna, sementara bagian kepala dan ekornya dibuat menyerupai burung merak. Sekilas, Tari Merak terlihat seperti tarian tradisional yang telah hidup selama ratusan tahun. Namun ada fakta yang mungkin mengejutkan: Tari Merak merupakan tari kreasi baru yang lahir pada era 1950-an, bukan peninggalan kerajaan atau tarian kuno Sunda. Kajian yang tersimpan dalam repositori Kemdikbud mencatat bahwa koreografi Tari Merak diciptakan Raden Tjetje Somantri pada 1955.

Justru perjalanan itulah yang membuat Tari Merak menarik. Tarian yang terinspirasi dari perilaku burung merak tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu ikon seni pertunjukan Jawa Barat. Bahkan, Tari Merak Sunda ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2018. Pemerintah Jawa Barat juga pernah menggelar pertunjukan massal Tari Merak dengan sekitar 1.000 peserta pada 2022 sebagai bagian dari upaya memperkenalkan dan melestarikan kesenian tersebut.

1. Tari Merak Lahir dari Imajinasi terhadap Burung

Fakta pertama terletak pada sumber inspirasinya. Koreografi Tari Merak mengambil gambaran dari perilaku burung merak, terutama ketika burung jantan membuka dan memamerkan keindahan ekornya untuk menarik perhatian. Penelitian mengenai etnokoreologi Tari Merak menjelaskan bahwa karakter tersebut diterjemahkan ke dalam gerakan tubuh penari.

Karena itu, sejumlah gerakan Tari Merak dibuat untuk memberikan kesan seperti burung yang sedang berjalan, menoleh, membuka keindahan ekor dan menunjukkan pesonanya. Gerakan tersebut kemudian dikembangkan menjadi koreografi yang tetap memiliki karakter tari Sunda. Hasilnya adalah tarian yang mudah dikenali bahkan oleh orang yang baru pertama kali melihatnya.

2. Penciptanya adalah Raden Tjetje Somantri

Fakta kedua berkaitan dengan sosok di balik tarian ini. Raden Tjetje Somantri dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan tari kreasi Sunda pada abad ke-20. Tari Merak menjadi salah satu karya yang memperlihatkan bagaimana seniman Sunda dapat mengambil inspirasi dari alam lalu mengubahnya menjadi bahasa gerak.

Namun perjalanan Tari Merak tidak berhenti setelah diciptakan. Sejumlah sumber akademik mencatat bahwa koreografinya kemudian mengalami revisi, termasuk oleh Irawati Durban Arjon pada 1965 dan 1985. Proses tersebut menunjukkan bahwa sebuah karya budaya dapat mengalami perkembangan tanpa kehilangan identitas utamanya.

3. Kostumnya Sengaja Dibuat Menyerupai Merak

Fakta ketiga mungkin menjadi alasan utama Tari Merak begitu mudah dikenali. Kostum penari dirancang dengan visual yang mengambil unsur burung merak, termasuk bagian ekor dan ornamen kepala. Ketika penari bergerak dan membuka bagian kostum tertentu, muncul ilusi visual yang menyerupai burung merak sedang memamerkan bulunya.

Kostum tersebut bukan sekadar hiasan panggung. Ia menjadi bagian dari bahasa visual tarian sehingga penonton dapat langsung memahami karakter yang ingin ditampilkan. Penelitian tentang Tari Merak juga mencatat bahwa daya tarik tarian ini salah satunya terletak pada kostumnya yang menyerupai burung merak.

4. Tari Merak Bukan Tarian Sakral

Ini bagian yang penting untuk diluruskan. Berbeda dengan sejumlah tarian yang memiliki fungsi ritual tertentu, Tari Merak dikenal sebagai tari kreasi baru dan banyak digunakan dalam pertunjukan, penyambutan tamu kehormatan, acara pernikahan adat Sunda, kegiatan formal hingga pentas seni.

Karena sering tampil dalam acara budaya dan seremoni, masyarakat terkadang menganggapnya sebagai tarian upacara sakral. Padahal konteksnya berbeda. Tari Merak lebih tepat dipahami sebagai karya seni pertunjukan yang merepresentasikan keindahan dan karakter budaya Sunda.

5. Tari Merak Sudah Menjadi Warisan Budaya Indonesia

Fakta terakhir menunjukkan bagaimana karya yang relatif modern dapat memperoleh tempat penting dalam kebudayaan Indonesia. Pemerintah Jawa Barat mencatat Tari Merak sebagai salah satu karya budaya yang telah memperoleh status Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Penetapan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga karya budaya agar tetap dikenal dan diwariskan.

Pada September 2022, sekitar 1.000 orang ikut memeriahkan kegiatan Tari Merak Sadunya di halaman Gedung Sate, Bandung. Angka tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah karya tari dapat berkembang dari panggung seni menjadi kegiatan kebudayaan berskala besar. Tari Merak bahkan pernah ditampilkan secara kolosal dalam berbagai kegiatan resmi Jawa Barat.

Penutup

Tari Merak membuktikan bahwa budaya tidak selalu harus berusia ratusan tahun untuk menjadi bagian penting dari identitas daerah. Lahir pada era 1950-an dari kreativitas Raden Tjetje Somantri, tarian ini justru berkembang menjadi salah satu simbol seni Sunda yang dikenal luas.

Di balik kostum yang mencolok dan gerakan menyerupai burung merak, terdapat perjalanan panjang sebuah karya seni: diciptakan, dikembangkan, diwariskan, kemudian mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Itulah yang membuat Tari Merak bukan sekadar tarian indah, tetapi juga bukti bahwa kreativitas seniman dapat menjadi warisan bagi generasi berikutnya.

Search

Video

Budaya Detail

Jawa Barat

Tarian

Jawa Barat

Budaya

Budaya Lainnya