Negerikami.id – Bagi sebagian orang, Maulid mungkin identik dengan ceramah, salawat, dan makan bersama. Namun di Aceh, peringatannya berkembang menjadi tradisi sosial yang jauh lebih besar. Maulid Adat Aceh bahkan dapat berlangsung dalam rentang sekitar tiga bulan, dari Rabiul Awal, Rabiul Akhir hingga Jumadil Awal.
Yang menarik, kemeriahan tersebut bukan hanya soal seberapa besar kenduri yang digelar. Di balik hidangan dan kegiatan keagamaan, terdapat cara masyarakat Aceh menjaga hubungan antargampong, membantu kelompok yang membutuhkan, sekaligus mempertahankan identitas budaya yang diwariskan lintas generasi. Majelis Adat Aceh menyebut tradisi Maulid di Aceh memiliki sejarah panjang dan berakar kuat dalam kehidupan masyarakat Aceh. (Majelis Adat Aceh)
1. Perayaannya Bisa Berlangsung Tiga Bulan
Inilah fakta yang paling sering membuat orang luar Aceh terkejut. Maulid di Aceh tidak selalu selesai pada 12 Rabiul Awal.
Majelis Adat Aceh menjelaskan bahwa pelaksanaannya dibagi menjadi tiga periode, yakni maulid awal pada Rabiul Awal, maulid tengah pada Rabiul Akhir, dan maulid akhir pada Jumadil Awal. Karena itu, masyarakat memiliki waktu yang cukup panjang untuk menentukan jadwal kenduri di masing-masing gampong. (Majelis Adat Aceh)
Alasannya pun tidak sesederhana ingin membuat perayaan lebih lama. Penentuan waktu berkaitan dengan kondisi masyarakat, termasuk kesiapan hasil laut, pertanian, dan perkebunan. Dengan jadwal yang berbeda, antarkampung juga dapat saling berkunjung sehingga hubungan sosial tidak berhenti pada satu acara.
Kantor Wilayah Kementerian Agama Aceh juga mencatat bahwa perayaan tersebut berlangsung selama tiga bulan dan umumnya diisi dengan makan bersama, ceramah agama, salawat, serta zikir.
2. Ada Tradisi Patungan yang Disebut Meuripee
Di balik kenduri besar, ada sistem gotong royong yang menunjukkan bahwa perayaan tersebut tidak hanya bergantung pada satu keluarga.
Dalam sejumlah masyarakat Aceh, dikenal istilah meuripee, yakni patungan atau iuran untuk memenuhi kebutuhan kenduri. Praktik ini dapat digunakan untuk membeli bahan makanan, termasuk daging yang kemudian dimasak secara bersama-sama.
Dalam sebuah laporan tentang tradisi Maulid di Banda Aceh, warga Lamglumpang misalnya mengumpulkan dana dengan besaran yang disesuaikan dengan kondisi warga. Anak yatim dan janda bahkan disebut tidak dibebani iuran dalam praktik yang dilaporkan tersebut.
Di sinilah sisi menariknya: Maulid tidak hanya menjadi acara keagamaan, tetapi juga menjadi mekanisme sosial. Warga bekerja bersama sejak persiapan, memasak dalam jumlah besar, hingga membagikan makanan.
Tradisi ini juga memperlihatkan bahwa ukuran keberhasilan kenduri bukan sekadar kemewahan hidangan. Ada nilai berbagi yang menjadi bagian penting dari pelaksanaannya.
3. Kuah Beulangong Bukan Sekadar Hidangan
Kalau berbicara tentang kenduri Maulid Aceh, sulit memisahkan pembahasan dari kuah beulangong.
Masakan berbahan daging dan rempah tersebut dimasak dalam jumlah besar untuk disantap bersama. Dalam beberapa daerah, proses memasaknya menjadi kegiatan gotong royong yang melibatkan masyarakat sejak pagi.
Selain kuah beulangong, hidangan Maulid dapat mencakup bu kulah, bulukat, gulai ayam, gulai kambing, gulai ikan, telur bebek, sayuran, dan buah-buahan. Majelis Adat Aceh mencatat bahwa makanan tersebut biasanya dikumpulkan di meunasah sebelum disantap setelah rangkaian zikir, doa, salawat, dan ceramah.
Wadah makanan yang dibawa warga juga memiliki ciri tersendiri. Salah satunya adalah dalong, wadah berbentuk silinder yang digunakan untuk membawa hidangan kenduri. Tradisi ini membuat makanan bukan hanya menjadi konsumsi, tetapi bagian dari identitas visual dan sosial perayaan.
Menariknya, perhatian dalam kenduri juga diarahkan kepada anak yatim, fakir miskin, dan kaum duafa. Majelis Adat Aceh menyebut aspek tersebut sebagai salah satu nilai penting dalam tradisi Maulid masyarakat Aceh.
Mengapa Tradisi Ini Tetap Bertahan?
Ada alasan mengapa tradisi tersebut tidak mudah hilang meskipun zaman berubah.
Maulid Adat Aceh bekerja di dua ruang sekaligus: ruang keagamaan dan ruang sosial. Masyarakat berkumpul untuk bersalawat, mendengarkan ceramah, dan mengingat keteladanan Nabi Muhammad SAW, tetapi pada saat yang sama mereka membangun kembali hubungan dengan tetangga dan masyarakat dari gampong lain.
Majelis Adat Aceh bahkan mengaitkan tradisi tersebut dengan sejarah panjang Kesultanan Aceh. Pemerintah Aceh juga mencatat adanya tradisi Maulid yang dikaitkan dengan wasiat Sultan Aceh mengenai penyelenggaraan kenduri untuk menyambung silaturahmi antarkampung. Namun, sumber pemerintah sendiri mengingatkan bahwa bentuk pelaksanaan pada masa tersebut belum tentu sama persis dengan kenduri Maulid yang dikenal masyarakat sekarang.
Ini penting karena sejarah budaya tidak seharusnya disederhanakan menjadi cerita bahwa sebuah tradisi “tidak pernah berubah”. Justru kekuatan budaya sering terlihat dari kemampuannya beradaptasi tanpa kehilangan nilai utama.
Penutup
Maulid Adat Aceh menunjukkan bahwa sebuah perayaan keagamaan dapat berkembang menjadi ruang kebersamaan masyarakat. Tiga fakta, perayaan yang berlangsung hingga tiga bulan, tradisi meuripee, serta jamuan seperti kuah beulangong, memperlihatkan bahwa Maulid bukan sekadar acara seremonial.
Di dalamnya terdapat gotong royong, berbagi makanan, penghormatan kepada kelompok yang membutuhkan, dan usaha mempertahankan hubungan antarmasyarakat. Karena itu, memahami Maulid di Aceh tidak cukup hanya dengan melihat kemeriahan kendurinya. Yang lebih penting adalah melihat nilai sosial yang membuat tradisi tersebut terus hidup dari generasi ke generasi.
Sumber Referensi
- Majelis Adat Aceh – Tradisi dan Nilai Maulid Nabi Muhammad SAW bagi Orang Aceh
https://maa.acehprov.go.id/berita/kategori/adat-istiadat/tradisi-dan-nilai-maulid-nabi-muhammad-saw-bagi-orang-aceh - BPMP Aceh – Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW LPMP Provinsi Aceh
https://bpmpaceh.kemendikdasmen.go.id/perayaan-maulid-nabi-muhammad-saw-lpmp-provinsi-aceh/ - DetikNews – Meuripee, Tradisi Patungan Warga Banda Aceh Rayakan Maulid Nabi
https://news.detik.com/berita/d-3137136/i-meuripee-i-tradisi-patungan-warga-banda-aceh-rayakan-maulid-nabi

