Negerikami.id – Gerak Tari Pakarena terlihat lembut, lambat, bahkan seolah tidak terburu-buru. Namun, di balik gerakan perempuan yang membawa kipas itu terdapat sejumlah aturan gerak, simbol, cerita mitologis, dan hubungan dengan kehidupan masyarakat Makassar yang membuat tarian ini jauh lebih kompleks daripada sekadar pertunjukan budaya.
Ada hal yang cukup mengejutkan: versi mengenai asal-usul Pakarena sendiri tidak hanya satu. Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya mencatat setidaknya dua versi cerita, termasuk kisah penghuni boting langi atau negeri kahyangan yang mengajarkan tata kehidupan kepada penghuni bumi, serta kisah Tomanurung yang dikaitkan dengan Kerajaan Gowa. Jadi, menyebut satu cerita sebagai satu-satunya asal-usul tarian ini justru mengabaikan kekayaan tradisi lisannya. (Kebudayaan)
1. Gerakannya Lambat, tetapi Bukan Tanpa Aturan
Kesan pertama ketika melihat Pakarena adalah kelembutan. Penari bergerak perlahan dengan pola yang teratur, sementara tangan kanan memegang kipas.
Menurut Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, gerakan kaki penari hanya bergeser ke kanan, kiri, depan, dan belakang tanpa mengangkat kaki dari permukaan lantai. Gerakan tangan juga tidak diangkat sampai kepala, melainkan maksimal sekitar setinggi bahu. (Kebudayaan)
Keteraturan tersebut membuat tarian tampak tenang. Justru di situlah tantangannya: penari harus mengendalikan gerakan agar tetap konsisten mengikuti irama musik.
2. Pandangan Mata Tidak Boleh Sembarangan
Salah satu detail paling unik berada pada arah pandangan penari. Dalam dokumentasi pemerintah, penari Pakarena digambarkan mengarahkan pandangan ke lantai dengan jarak sekitar dua hingga tiga meter dari ujung kaki. (Kebudayaan)
Bagi penonton modern, detail ini mungkin terlihat kecil. Padahal, aturan tersebut ikut membentuk karakter Pakarena yang tenang dan penuh pengendalian.
Dengan pandangan yang tidak diarahkan terus kepada penonton, fokus tarian terasa berbeda dari pertunjukan modern yang sering mengandalkan kontak mata dan ekspresi wajah.
3. Ada 12 Ragam Gerakan yang Tercatat
Pakarena bukan hanya rangkaian gerakan yang dilakukan secara spontan. Dokumentasi Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya mencatat 12 macam gerakan, di antaranya Sambori’na, Ma’bring Kassi’, Anging Kamalino, Digandang, Jangan Lea-lea, Iyolle’, So’naya, Lambassari, Anni-anni, Leko’ Bo’dong, Sanro Beja, dan Dendang. (Kebudayaan)
Nama-nama tersebut menarik karena sebagian berkaitan dengan aktivitas, suasana, maupun gambaran tertentu. Artinya, setiap bagian tidak sekadar dibuat untuk mempercantik pertunjukan.
Keberagaman ragam gerak tersebut juga menunjukkan bahwa Pakarena memiliki struktur yang cukup kompleks meskipun dari luar tampak sederhana.
4. Kipas Ternyata Bukan Sekadar Properti
Kipas merupakan salah satu benda yang paling melekat dengan citra Pakarena. Hampir setiap kali orang membayangkan tari ini, kipas menjadi bagian pertama yang muncul.
Namun, kipas tidak digunakan secara sembarangan. Gerak tangan yang membawa kipas mengikuti pola tertentu dan menjadi bagian dari karakter tari.
Pakaian penari juga memiliki perlengkapan yang cukup lengkap. Dokumentasi pemerintah mencatat penggunaan baju bodo, sarung atau tope, selendang, kipas, kutu-kutu, pinang goyang, bunga nigubah, bangkara, rante, dan berbagai aksesori lainnya. (Kebudayaan)
Kombinasi pakaian dan gerak inilah yang membuat Pakarena memiliki tampilan visual yang sangat kuat sebagai kesenian tradisional Makassar.
5. Musiknya Justru Terdengar Berlawanan dengan Gerakan
Di sinilah salah satu kontras paling menarik. Penari bergerak lembut, tetapi musik pengiringnya dapat terdengar kuat dan enerjik.
Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya menyebut gandrang dan puik-puik sebagai instrumen yang mengiringi Pakarena. Sementara dokumentasi Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan menjelaskan bahwa gandrang Pakarena umumnya berjumlah 2–4 buah dan menjadi sumber bunyi utama dalam pertunjukan. (Kebudayaan)
Kontras tersebut bukan kebetulan. Sumber kebudayaan pemerintah bahkan menjelaskan perpaduan bunyi gandrang yang kuat dengan gerakan perempuan yang lembut sebagai simbolisasi karakter laki-laki yang kuat dan energik. (Kebudayaan)
6. Asal-Usulnya Memiliki Unsur Mitos
Bagian yang paling “misterius” dari Pakarena justru berada pada cerita asal-usulnya.
Salah satu versi menyebut penghuni boting langi mengajarkan berbagai tata kehidupan kepada penghuni lino, termasuk cara bercocok tanam, beternak, dan berburu. Gerakan yang diajarkan kemudian dipercaya berkembang menjadi bagian dari tarian.
Versi lainnya berkaitan dengan Tomanurung, sosok putri dari langit yang dalam cerita tradisional dikaitkan dengan penyelesaian konflik di Gowa. Ia dipercaya mengajarkan adat dan tata krama melalui gerakan yang kemudian berkembang menjadi tarian. (Kebudayaan)
Kedua cerita tersebut sebaiknya dipahami sebagai versi tradisi atau mitos budaya, bukan fakta sejarah yang dapat dibuktikan secara ilmiah.
7. Pakarena Sudah Diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda
Pakarena bukan sekadar tarian yang populer dalam acara kebudayaan. Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan mencatat bahwa Tari Pakarena ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2013 bersama sejumlah karya budaya lain dari Sulawesi Selatan. (Kebudayaan)
Pengakuan tersebut penting karena warisan budaya takbenda tidak hanya berbicara tentang gerakan tari. Yang dilestarikan juga mencakup pengetahuan, nilai, keterampilan, musik, pakaian, dan konteks sosial yang membuat sebuah kesenian tetap hidup.
Bahkan, peneliti dan pelestari seni tradisional Sulawesi Selatan seperti Hj. Munasiah Daeng Jinne menjadikan Pakarena sebagai salah satu bagian penting dalam penelitian dan pengajaran tari tradisional. (Kebudayaan)
Mengapa Gerak Lembut Ini Justru Terasa Kuat?
Pakarena menunjukkan bahwa kekuatan dalam seni tidak selalu harus ditampilkan melalui gerakan cepat. Justru gerakan yang terkendali, pandangan yang rendah, serta pola kaki yang sederhana menciptakan karakter yang sangat khas.
Di tengah pertunjukan modern yang serba cepat, Pakarena menawarkan ritme berbeda. Ia meminta penari untuk sabar, teratur, dan mampu menjaga gerakan agar tidak keluar dari pola.
Itulah yang membuat tarian ini menarik untuk dipelajari. Di balik kelembutannya terdapat disiplin yang tidak terlihat secara langsung.
Penutup
Tari Pakarena menyimpan jauh lebih banyak cerita daripada yang terlihat di atas panggung. Ada 12 ragam gerakan, aturan arah pandangan, penggunaan kipas, iringan gandrang yang kuat, hingga dua versi cerita mengenai asal-usulnya. (Kebudayaan)
Yang paling menarik bukan mencari mana bagian yang paling “misterius”, melainkan memahami bahwa sebuah tarian dapat menyimpan cara pandang masyarakat terhadap kehidupan, tata krama, hubungan sosial, dan sejarah.
Pakarena akhirnya menjadi bukti bahwa kelembutan tidak selalu berarti lemah. Dalam setiap gerakan yang perlahan, terdapat aturan, disiplin, dan warisan budaya Makassar yang terus diwariskan.
Sumber Referensi
- Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya – Pakarena https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/pakarena
- Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan – Tari Pakarena https://disbudpar.sulselprov.go.id/page/budaya/29/tari-pakarena
- Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan – Gandrang, Alat Musik Tradisional Makassar https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbsulsel/gandrang-alat-musik-tradisional-makassar
- Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan – Pengusulan WBTB Indonesia 2015 https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbsulsel/pengusulan-wbtb-indonesia-2015

