Kain Sasirangan: Dari Kain Sakral hingga Warisan Budaya

Kain Sasirangan: Dari Kain Sakral hingga Warisan Budaya

Last Updated: 4 July 2026, 03:00

Bagikan:

kain sasirangan
Foto: Indonesia Kaya

Jika beberapa kota besar di Jawa memiliki Kampung Batik, Banjarmasin punya Kampung Sasirangan. Letaknya di Jalan Seberang Masjid, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Kampung ini dibentuk pemerintah setempat sebagai destinasi wisata sekaligus sentra produksi kain khas Kalimantan Selatan yang disebut kain sasirangan. Di sini pengunjung dapat berbelanja atau melihat langsung proses pembuatan kain dengan beragam motif dan warna.

Berdasarkan catatan dari Indonesia Kaya, kain sasirangan merupakan kain adat suku Banjar di Kalimantan Selatan yang diwariskan secara turun-temurun. Merujuk Hikayat Banjar, kain ini sudah dibuat sejak sekitar abad ke-7 dengan nama kain langgundi.

Kain Sasirangan Berawal dari Kain Langgundi

Kisahnya, sesuai pesan ayahnya lewat mimpi, Patih Lambung Mangkurat dari Kerajaan Dipa bertapa untuk mencari raja selama 40 hari 40 malam di atas rakit mengikuti arus sungai. Tiba di daerah Rantau Kota Bagantung, ia mendengar suara perempuan dari segumpal buih, yakni Putri Junjung Buih. Sang Putri hanya akan menampakkan wujud jika permintaannya dipenuhi, yaitu sebuah istana megah yang dikerjakan 40 jejaka dan selembar kain panjang oleh 40 gadis.

Sesuai permintaan, istana dan kain selesai dibuat dalam waktu satu hari. Putri Junjung Buih kemudian muncul mengenakan kain langgundi berwarna kuning dan menjadi raja Dipa. Kain langgundi inilah yang kini dikenal sebagai kain sasirangan.

Kain Sasirangan sebagai Kain Sakral

Sasirangan dipercaya memiliki kekuatan magis yang bermanfaat untuk pengobatan (batatamba) serta mengusir dan melindungi diri dari gangguan roh jahat. Agar dapat digunakan sebagai alat pengusir roh jahat atau pelindung badan, kain sasirangan dibuat berdasarkan pesanan (pamintaan), sehingga dikenal pula sebagai kain pamintaan.

Pembuatan kain ini tidak boleh dilakukan sembarangan karena harus melewati persyaratan khusus berupa upacara selamatan. Pemberian warna juga disesuaikan dengan peruntukannya. Warna kuning dipercaya digunakan untuk penyakit kuning, merah untuk sakit kepala atau insomnia, hijau untuk lumpuh atau stroke, hitam untuk demam dan penyakit kulit, ungu untuk sakit perut, serta cokelat untuk penyakit kejiwaan atau stres.

Bentuk dan cara pemakaiannya pun berbeda-beda. Sarung (tapih bumin) digunakan untuk mengobati demam atau gatal-gatal, kemben (udat) untuk penyakit perut, kerudung (kakamban) untuk migraine, dan ikat kepala (laung) untuk penyakit kepala seperti pusing atau kepala berdenyut.

Perkembangan Kain Sasirangan

Seiring perkembangannya, kain sasirangan digunakan sebagai pakaian adat oleh masyarakat umum maupun keturunan bangsawan. Arus globalisasi mode kemudian mengubah fungsi kain ini sehingga nilai-nilai sakralnya memudar. Kain sasirangan kini digunakan sebagai pakaian sehari-hari, gorden, taplak meja, seprai, hingga sapu tangan.

Nama sasirangan berasal dari proses pembuatannya, yaitu “sa” yang berarti satu dan “sirang” yang berarti jelujur. Kain dibuat menggunakan teknik tusuk jelujur, kemudian diikat dengan benang atau tali sebelum dicelup ke pewarna. Karena itu, proses pembuatannya berbeda dengan batik yang menggunakan malam atau lilin.

Motif dan Bahan Sasirangan

Pada mulanya kain sasirangan dibuat dari benang kapas atau serat kulit kayu. Seiring perkembangan teknologi, bahan yang digunakan semakin beragam, seperti sutera, satin, santung, balacu, katun, poliester, hingga rayon.

Pewarna kain awalnya berasal dari bahan alami, seperti kunyit atau temulawak untuk warna kuning, buah mengkudu, gambir, dan kesumba untuk warna merah, kabuau atau uar untuk warna hijau, biji buah gandaria untuk warna ungu, serta kulit buah rambutan untuk warna cokelat. Kini, sebagian besar pengrajin menggunakan pewarna sintetis.

Sasirangan memiliki beragam motif, antara lain sarigading, ombak sinapur karang, hiris pudak, bayam raja, kambang kacang, naga balimbur, daun jeruju, bintang bahambur, kulat karikit, gigi haruan, turun dayang, kangkung kaombakan, jajumputan, kambang tampuk manggis, dara manginang, putri manangis, kambang cengkeh, awan beriring, benawati, dan sisik tanggiling. Selain motif-motif tersebut, para pengrajin juga terus menghadirkan motif baru.

Kain sasirangan semakin populer setelah digunakan sebagai seragam wajib pegawai negeri dan siswa sekolah di Kalimantan Selatan. Hal ini turut mendorong berkembangnya industri rumahan yang memproduksi kain sasirangan.

Penutup

Kain sasirangan kini tersedia di berbagai toko oleh-oleh di Kalimantan Selatan. Harganya ditentukan berdasarkan jenis kain dan tingkat kerumitan motif yang dibuat. Semakin rumit motifnya, semakin tinggi pula nilai jual kain tersebut.

Jangan lewatkan artikel budaya menarik lainnya di Negeri Kami untuk menambah wawasan tentang kekayaan tradisi Nusantara. Pelestarian kain sasirangan sebagai warisan budaya khas Kalimantan Selatan menjadi bagian penting dalam menjaga identitas budaya Banjar sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda.

Search

Video

Budaya Detail

Kalimantan Selatan

Pakaian Adat

Kota Banjarmasin

Budaya

Budaya Lainnya