Penjor Galungan: Simbol Syukur dan Kehidupan Umat Hindu Bali

Penjor Galungan: Simbol Syukur dan Kehidupan Umat Hindu Bali

Last Updated: 3 July 2026, 03:00

Bagikan:

penjor galungan
Foto: Indonesia Kaya

Dalam setiap kemeriahan perayaan Galungan, penjor menjadi pernak-pernik wajib yang akan melengkapinya. Sejak beberapa hari menjelang Hari Raya Galungan, penjor akan sangat mudah ditemui menghiasi sisi depan bangunan rumah, kantor, maupun pusat-pusat pertokoan di Bali. Jalinan batang bambu yang melengkung dengan segala pernak-perniknya ini memang memiliki makna tersendiri dalam ritual menyambut hari raya yang jatuh kurang lebih dua pekan setelah Nyepi ini. Penjor menjadi wujud rasa syukur umat Hindu kepada Sang Hyang Widi Wasa atas kemakmuran yang dicurahkan kepada mereka.

Berdasarkan catatan dari Indonesia Kaya, penjor berwujud sebatang bambu dengan ujung yang melengkung dengan beberapa aksesori pelengkap sesuai jenisnya. Secara umum, penjor terbagi menjadi penjor sakral dan penjor hiasan. Masing-masing penjor tersebut memiliki kelengkapan aksesori dan penggunaan yang berbeda.

Jenis Penjor Galungan

Penjor sakral hanya dipasang pada waktu, tempat, serta kondisi yang khusus. Penjor jenis ini memiliki beberapa atribut pelengkap yang berhubungan dengan fungsinya dalam suatu upacara. Sementara, penjor hiasan dipasang secara bebas tanpa ketentuan yang khusus, tetapi ada beberapa aksesori pelengkap dari penjor sakral yang tidak boleh ada dalam penjor hiasan.

Unsur Penjor Galungan

Selain batang bambu, biasanya penjor sakral dilengkapi janur atau daun enau serta beberapa jenis daun yang lain. Penjor ini pun dilengkapi tiga jenis hasil bumi, yaitu pala bungkah (ketela dan jenis umbi-umbian), pala gantung (kelapa, mentimun, nanas, dan jenis buah-buahan lainnya), dan pala wija (biji-bijian seperti padi dan jagung).

Selain unsur-unsur tadi, penjor sakral juga dilengkapi dengan jajan, uang kepeng, dan sanggah ardha chandra beserta sesajiannya. Yang dimaksud dengan sanggah ardha chandra adalah sebuah kotak bambu yang sisi atasnya berbentuk melengkung dan digunakan sebagai tempat meletakkan sesajian.

Makna Penjor Galungan

Keseluruhan bentuk penjor yang menjulang dengan ujung melengkung merepresentasikan Gunung Agung dan pertiwi yang merupakan simbol dari kehidupan, kesejahteraan, serta keselamatan. Selain itu, masing-masing komponen dalam penjor sakral merupakan simbol dari kekuatan para dewa.

Bambu menjadi simbol kekuatan Dewa Brahma, sedangkan janur melambangkan kekuatan Hyang Mahadewa. Kelapa menjadi simbol kekuatan Hyang Rudra, sementara tiga jenis hasil bumi melambangkan kekuatan Dewa Wisnu. Adapun sanggah melambangkan Dewa Syiwa. Selain itu, tiga jenis hasil bumi dan jajan juga merepresentasikan berbagai jenis tumbuhan yang dianugerahkan oleh Sang Hyang Widi Wasa.

Penutup

Penjor Galungan menjadi bagian penting dalam perayaan Hari Raya Galungan karena mengandung makna rasa syukur atas kemakmuran yang dicurahkan Sang Hyang Widi Wasa kepada umat Hindu. Kehadirannya tidak hanya melengkapi suasana hari raya, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai spiritual yang diwariskan dalam tradisi Hindu Bali.

Jangan lewatkan artikel menarik lainnya tentang budaya Bali, Hari Raya Galungan, dan tradisi Nusantara di Negeri Kami. Mari bersama mengenal dan melestarikan warisan budaya Indonesia agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Search

Video

Budaya Detail

Bali

Acara Sakral

-

Budaya

Budaya Lainnya