Jatinom di Kabupaten Klaten masih mempertahankan tradisi budaya Jawa-Islam bernama Yaqowiyu yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Tradisi ini digelar setiap bulan Sapar dalam kalender Jawa sebagai bentuk penghormatan kepada Ki Ageng Gribig. Ribuan masyarakat dari berbagai daerah datang untuk mengikuti doa bersama dan berebut kue apem yang dipercaya membawa berkah (Kompas.com, 2022).

Yaqowiyu Jadi Identitas Budaya Religius Klaten

Berasal dari Jatinom, Tradisi Yaqowiyu tumbuh sebagai bagian penting dari warisan budaya masyarakat setempat. Nama “Yaqowiyu” diambil dari doa berbahasa Arab “Yaa Qowiyyu Yaa Aziz Qowwina Wal Muslimin” yang sering dibaca oleh Ki Ageng Gribig, seorang tokoh penyebar Islam di wilayah tersebut (Kompas.com, 2022).

Seiring waktu, tradisi ini berkembang menjadi acara besar yang melibatkan ribuan warga. Selain doa bersama, masyarakat juga mengikuti prosesi pembagian apem dari panggung utama di sekitar makam Ki Ageng Gribig.

Beberapa unsur penting dalam Tradisi Yaqowiyu antara lain:

Selain bernilai religius, tradisi ini juga memperkuat solidaritas sosial masyarakat Jatinom yang diwariskan secara turun-temurun (Kompas.com, 2022).

Ki Ageng Gribig dan Asal Usul Tradisi Yaqowiyu

Sejarah Yaqowiyu tidak lepas dari peran Ki Ageng Gribig sebagai ulama penyebar Islam dengan pendekatan budaya. Setelah menunaikan ibadah haji, ia membawa oleh-oleh dari Makkah. Namun karena jumlahnya terbatas, masyarakat kemudian menggantinya dengan apem lokal untuk dibagikan kepada warga (Kompas.com, 2022).

Dari kebiasaan tersebut, lahirlah tradisi yang terus berkembang hingga sekarang. Pemerintah Kabupaten Klaten juga mendukung kegiatan ini karena memiliki nilai budaya sekaligus daya tarik wisata (Kompas.com, 2024).

Nilai penting dari tradisi ini meliputi:

Dengan demikian, Yaqowiyu tidak hanya menjadi ritual, tetapi juga simbol identitas budaya masyarakat Jatinom.

Makna Apem dalam Tradisi Yaqowiyu

Dalam tradisi ini, apem menjadi simbol utama yang sarat makna. Kata “apem” sering dikaitkan dengan kata “afwan” atau “ampunan” dalam bahasa Arab, yang mencerminkan harapan akan pengampunan dan keselamatan hidup (Kompas.com, 2022).

Sebelum pembagian apem dimulai, masyarakat terlebih dahulu mengikuti doa bersama. Setelah itu, ribuan apem dibagikan kepada warga yang hadir di sekitar lokasi acara.

Makna simbolik apem dalam Yaqowiyu:

Karena makna tersebut, Yaqowiyu tetap dipandang sebagai tradisi yang sarat nilai spiritual sekaligus sosial.

Yaqowiyu Sebagai Daya Tarik Wisata Budaya

Seiring waktu, Tradisi Yaqowiyu berkembang menjadi agenda budaya penting di Klaten. Ribuan wisatawan datang untuk menyaksikan langsung prosesi sebar apem yang menjadi ciri khas acara ini.

Selain itu, kegiatan ini juga memberi dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Pedagang lokal, pengrajin, dan pelaku UMKM mendapatkan keuntungan dari meningkatnya jumlah pengunjung selama acara berlangsung (Kompas.com, 2024).

Beberapa alasan Yaqowiyu penting bagi masyarakat modern:

Dengan dukungan pemerintah daerah, tradisi ini terus dipertahankan sebagai bagian dari kalender wisata budaya Klaten.

Warisan Budaya yang Tetap Hidup

Pada akhirnya, Tradisi Yaqowiyu membuktikan bahwa budaya lokal dapat bertahan di tengah modernisasi. Masyarakat Jatinom tetap melestarikannya sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus penguat hubungan sosial.

Lebih dari sekadar ritual, Yaqowiyu menjadi simbol perpaduan antara dakwah Islam, budaya Jawa, dan nilai kebersamaan yang terus hidup hingga saat ini.

Pembaca dapat menemukan berbagai artikel budaya, sejarah, dan tradisi Nusantara lainnya di Negeri Kami. Artikel lain di Negeri Kami juga menghadirkan informasi menarik tentang wisata budaya, sejarah lokal, dan warisan tradisi Indonesia yang masih lestari hingga sekarang.

Referensi