Joko Kaha merupakan tradisi penyambutan tamu khas Ternate, Maluku Utara, yang masih dipertahankan masyarakat hingga sekarang. Tradisi tersebut menampilkan ritual penghormatan kepada tamu yang baru pertama kali menginjakkan kaki di wilayah Ternate. Masyarakat Ternate menggunakan Joko Kaha sebagai simbol penghormatan, doa keselamatan, dan penerimaan sosial terhadap tamu agung maupun pejabat negara. Tradisi itu juga menunjukkan bahwa budaya lokal masih memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Maluku Utara.
Joko Kaha Menjadi Tradisi Penyambutan Tamu Ternate
Joko Kaha berasal dari bahasa Ternate yang berarti “injak tanah.” Masyarakat Ternate menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan prosesi penyambutan tamu yang baru pertama kali datang ke daerah mereka. Tradisi itu berkembang sejak masa Kesultanan Ternate dan terus dipraktikkan dalam acara pemerintahan maupun kegiatan adat (RRI, 2025).
Masyarakat Ternate menempatkan tamu sebagai sosok yang harus dihormati. Prosesi Joko Kaha menghadirkan unsur adat, doa, serta simbol penghormatan yang dilakukan secara sakral. Pemerintah daerah juga sering menggunakan ritual tersebut untuk menyambut pejabat negara, tokoh masyarakat, dan tamu kehormatan lainnya.
Beberapa unsur penting dalam tradisi Joko Kaha meliputi:
- Penggunaan pakaian adat khas Ternate.
- Penyambutan oleh jojaro dan ngongare.
- Penggunaan tanaman simbolik dalam ritual.
- Pembacaan doa keselamatan.
- Prosesi injak tanah sebagai simbol penerimaan.
Tradisi tersebut tidak hanya memiliki fungsi seremonial, tetapi juga memiliki makna sosial dan spiritual bagi masyarakat setempat. Prosesi adat tersebut menjadi simbol penghormatan kepada tamu sekaligus bentuk penerimaan masyarakat Ternate terhadap pendatang yang datang pertama kali ke daerah mereka (ANTARA, 2019).
Makna Filosofis Joko Kaha dalam Budaya Ternate
Joko Kaha memiliki filosofi yang berkaitan dengan penghormatan dan keselamatan. Masyarakat Ternate memandang tamu sebagai pembawa hubungan baik antardaerah maupun antarbangsa. Ritual penyambutan tersebut mencerminkan nilai kesopanan, keramahan, dan penghargaan terhadap orang lain.
Prosesi injak tanah dalam Joko Kaha melambangkan penerimaan seseorang ke lingkungan sosial masyarakat Ternate. Masyarakat adat percaya bahwa ritual tersebut dapat memberikan perlindungan dan keselamatan bagi tamu yang datang pertama kali ke wilayah mereka.
Selain itu, masyarakat Ternate menghubungkan Joko Kaha dengan nilai religiusitas dan penghormatan kepada tamu kehormatan. Tradisi tersebut sering digunakan dalam penyambutan pejabat negara, tokoh nasional, dan wisatawan mancanegara yang datang ke Ternate. Ritual adat itu juga menjadi bagian penting dalam pelestarian budaya Kesultanan Ternate (Times Malut, 2025).
Pemerintah Ternate Melestarikan Joko Kaha
Pemerintah Kota Ternate terus mempromosikan Joko Kaha sebagai identitas budaya daerah. Tradisi tersebut sering ditampilkan dalam acara pemerintahan, penyambutan pejabat, dan kegiatan budaya resmi.
Pada 2025, tradisi Joko Kaha resmi tercatat sebagai Kekayaan Intelektual Komunal kategori Ekspresi Budaya Tradisional yang dilindungi negara. Pemerintah daerah mengajukan pencatatan tersebut untuk menjaga tradisi lokal dari klaim pihak lain sekaligus memperkuat pelestarian budaya (RRI, 2025).
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum Maluku Utara menjelaskan bahwa pencatatan budaya tradisional dapat memberikan manfaat bagi sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat. Pemerintah juga mendorong masyarakat untuk menjaga keberlangsungan tradisi melalui kegiatan budaya dan pendidikan lokal.
Beberapa manfaat pelestarian Joko Kaha meliputi:
- Menjaga identitas budaya Ternate.
- Mendukung promosi wisata budaya Maluku Utara.
- Mengenalkan adat lokal kepada generasi muda.
- Memperkuat hubungan sosial masyarakat.
- Menjadi simbol penghormatan terhadap tamu.
Pemerintah Ternate juga melibatkan generasi muda dalam pelaksanaan ritual adat. Kehadiran jojaro dan ngongare dalam prosesi Joko Kaha menunjukkan bahwa tradisi tersebut masih diwariskan secara turun-temurun.
Joko Kaha Menjadi Daya Tarik Wisata Budaya
Joko Kaha memiliki potensi besar dalam sektor wisata budaya. Wisatawan yang datang ke Ternate tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga dapat mengenal tradisi lokal yang masih aktif dipraktikkan masyarakat.
Ritual penyambutan tersebut menghadirkan pengalaman budaya yang unik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Prosesi adat yang sakral, pakaian tradisional, serta unsur musik dan tarian lokal membuat Joko Kaha memiliki daya tarik tersendiri.
Pelaku wisata budaya menilai bahwa tradisi lokal dapat meningkatkan citra daerah sekaligus memperluas promosi pariwisata berbasis budaya. Pemerintah daerah juga memanfaatkan acara budaya untuk memperkenalkan sejarah Kesultanan Ternate kepada publik.
Joko Kaha Menunjukkan Identitas Masyarakat Maluku Utara
Masyarakat Ternate mempertahankan Joko Kaha karena tradisi tersebut menjadi bagian dari identitas sosial mereka. Ritual itu menunjukkan bahwa masyarakat lokal masih menghargai adat sebagai pedoman hidup dan hubungan sosial.
Tradisi Joko Kaha juga memperlihatkan hubungan erat antara budaya, agama, dan kehidupan masyarakat pesisir Maluku Utara. Nilai penghormatan terhadap tamu masih menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat Ternate hingga sekarang.
Beberapa nilai budaya yang tercermin dalam Joko Kaha meliputi:
- Nilai penghormatan kepada tamu.
- Nilai religius dalam doa adat.
- Nilai gotong royong masyarakat.
- Nilai pelestarian budaya turun-temurun.
- Nilai identitas lokal masyarakat Ternate.
Masyarakat adat percaya bahwa pelestarian budaya dapat menjaga hubungan antargenerasi sekaligus memperkuat karakter masyarakat lokal. Karena itu, ritual Joko Kaha tetap dipertahankan dalam berbagai kegiatan resmi maupun adat.
Joko Kaha menunjukkan bahwa masyarakat Ternate masih menjaga tradisi lokal sebagai bagian penting dari identitas budaya mereka. Ritual penyambutan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai acara seremonial, tetapi juga menjadi simbol penghormatan, keselamatan, dan hubungan sosial antarmasyarakat. Pelestarian budaya itu juga memperlihatkan komitmen masyarakat Maluku Utara dalam menjaga warisan adat secara turun-temurun.
Pembaca dapat menemukan berbagai artikel budaya Nusantara lainnya di Negeri Kami. Artikel lain tentang tradisi daerah, ritual adat, dan kekayaan budaya Indonesia juga tersedia untuk menambah wawasan mengenai keberagaman budaya nasional.
Pembaca juga dapat mengikuti informasi terbaru mengenai budaya lokal, wisata tradisional, dan sejarah daerah melalui artikel lainnya di Negeri Kami. Kehadiran artikel budaya diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga tradisi Indonesia.
Referensi

