Sidang Isbat 1447 H Resmi Tetapkan Awal Ramadan 19 Februari 2026, Ini Penjelasan Lengkapnya

Sidang Isbat 1447 H Resmi Tetapkan Awal Ramadan 19 Februari 2026, Ini Penjelasan Lengkapnya

Raka Saputra

Last Updated: 17 February 2026, 16:36

Bagikan:

Sidang Isbat 1447 H
Pemerintah resmi menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada 19 Februari 2026 melalui sidang isbat yang digelar Kementerian Agama. Sumber gambar: YouTube/Kemenag
Table of Contents

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama (Kemenag) resmi menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Keputusan tersebut diumumkan setelah pelaksanaan sidang isbat yang digelar di Jakarta dan dihadiri berbagai unsur terkait.

Penetapan ini didasarkan pada paparan posisi hilal secara hisab serta laporan rukyatul hilal dari berbagai daerah di Indonesia. Hasil sidang memastikan bahwa awal puasa Ramadan dimulai serentak pada tanggal tersebut (DetikNews, 2026; DetikJateng, 2026).

Hasil Resmi Sidang Isbat 1447 H

Dalam pelaksanaan sidang isbat, Kemenag terlebih dahulu menggelar seminar posisi hilal yang memaparkan data astronomi terkini. Setelah itu, sidang tertutup dilakukan bersama perwakilan ormas Islam, ahli falak, dan instansi terkait.

Pemerintah menyatakan bahwa berdasarkan hasil hisab dan laporan rukyat, hilal belum memenuhi kriteria visibilitas MABIMS sehingga bulan Syakban digenapkan menjadi 30 hari. Dengan demikian, 1 Ramadan 1447 H ditetapkan jatuh pada 19 Februari 2026 (DetikNews, 2026).

Keputusan tersebut diumumkan langsung oleh Menteri Agama setelah seluruh rangkaian sidang selesai dan data dari berbagai titik rukyat diverifikasi secara menyeluruh (Antara News, 2026).

Data Hilal Jadi Penentu Sidang Isbat

Dalam setiap sidang isbat, metode hisab dan rukyat menjadi dua pendekatan utama. Hisab digunakan untuk menghitung posisi bulan secara astronomis, sedangkan rukyat dilakukan melalui pengamatan langsung di berbagai titik pemantauan.

Pemerintah menjelaskan bahwa posisi hilal pada saat magrib belum memenuhi kriteria minimal ketinggian dan elongasi sesuai standar MABIMS sehingga tidak dapat dinyatakan terlihat. Karena itu, bulan Syakban disempurnakan menjadi 30 hari sebelum memasuki Ramadan (DetikHikmah, 2026).

Pendekatan berbasis data astronomi dan verifikasi lapangan ini telah lama digunakan pemerintah untuk menjaga konsistensi dalam penetapan awal bulan Hijriah di Indonesia (Antara News, 2026).

Keterlibatan Ormas dan Transparansi Pemerintah

Sidang isbat melibatkan berbagai unsur, termasuk perwakilan organisasi kemasyarakatan Islam dan para ahli astronomi. Forum ini menjadi wadah musyawarah sebelum keputusan diumumkan kepada publik.

Pemerintah menegaskan bahwa keputusan diambil berdasarkan data ilmiah serta kesepakatan bersama guna menjaga persatuan umat dalam menyambut bulan suci Ramadan (Antara News, 2026).

Keterbukaan proses sidang ini diharapkan mampu meminimalkan potensi perbedaan dan memastikan umat Islam di Indonesia dapat memulai ibadah puasa secara serentak.

Dampak Penetapan Awal Ramadan

Penetapan awal puasa melalui sidang isbat tidak hanya berdampak pada aspek ibadah, tetapi juga aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Dunia pendidikan, perkantoran, serta sektor perdagangan mulai menyesuaikan jadwal operasional selama bulan Ramadan.

Dengan adanya kepastian tanggal, masyarakat dapat mempersiapkan diri secara spiritual dan administratif untuk menyambut bulan suci. Pemerintah juga mengimbau agar umat Islam menerima keputusan ini dengan sikap dewasa dan menjaga persatuan (DetikNews, 2026).

Keputusan resmi sidang isbat 1447 H menjadi pedoman bersama bagi umat Islam di Indonesia untuk memulai Ramadan secara serentak pada 19 Februari 2026. Penetapan ini didasarkan pada data ilmiah serta mekanisme yang telah disepakati.

Untuk mendapatkan informasi terkini seputar kebijakan nasional, isu keagamaan, dan perkembangan terbaru lainnya, pembaca dapat terus mengikuti berita terbaru di Negeri Kami. Simak juga berbagai laporan mendalam dan analisis aktual yang kami sajikan setiap hari.

Referensi

/ Search /

/ Artikel Lainnya /