Tari Presean – Tradisi adu ketangkasan khas masyarakat Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang biasanya digelar di lapangan terbuka. Pertunjukan dimulai dengan bunyi gamelan tradisional, menandai berkumpulnya para lelaki untuk menguji keberanian dan ketangkasan mereka.
Berdasarkan catatan dari Indonesia Kaya, tradisi ini telah berlangsung ratusan tahun dan menjadi simbol kejantanan pria Suku Sasak. Presean bukan sekadar hiburan, tetapi bagian dari warisan budaya yang penuh makna, memuat sejarah, ritual, dan nilai sosial masyarakat Lombok yang tetap dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Asal-usul Tari Presean
Presean bermula dari kebiasaan para prajurit yang meluapkan kegembiraan setelah kembali dari medan perang. Selain itu, tradisi ini juga dilakukan oleh masyarakat Sasak sebagai bagian dari upacara adat untuk memohon hujan pada bulan ketujuh kalender Sasak. Seiring waktu, presean berkembang menjadi pertunjukan seni yang hadir dalam perayaan budaya dan kesenian di Lombok.
Nama Lain Pelaku dan Perlengkapan
Para pelaku presean disebut pepadu. Mereka bertarung menggunakan tongkat rotan yang disebut pejalin dan ende, tameng dari kulit kerbau. Pepadu mengenakan kain khas Lombok yang diikat di kepala dan pinggang, yang menjadi identitas budaya selama pertarungan.
Aturan Pertarungan, Peran Pakembar, dan Persiapan Pepadu
Pertarungan presean berlangsung dalam lima ronde, masing-masing sekitar tiga menit. Sepanjang ronde, pepadu saling melancarkan pukulan dan tangkisan. Jika salah satu pepadu mengalami luka serius, pertarungan dihentikan dan digantikan oleh pepadu lain.
Pertarungan diawasi oleh dua wasit adat: pakembar sedi di pinggir arena dan pakembar tengaq di tengah. Pakembar sedi juga memiliki peran memilih pepadu, termasuk menantang penonton di sekitar arena. Sebelum bertarung, pepadu menerima arahan dan doa dari pakembar. Tanda dimulainya pertarungan adalah pukulan pakembar pada ende.
Iringan Musik di Tari Presean
Pertunjukan presean diiringi musik tradisional Lombok, terdiri dari dua gendang, petuk, rencek, gong, dan suling. Iringan musik ini menambah ketegangan sekaligus ritme dalam gerakan pepadu, membuat tontonan semakin menarik dan penuh energi.
Makna Tari Presean
Meski mengandung unsur kekerasan, presean menyimpan pesan damai dan sportivitas. Pepadu dituntut memiliki keberanian, kerendahan hati, dan tidak menyimpan dendam. Setelah pertarungan selesai, kedua pepadu saling berpelukan sebagai simbol persaudaraan dan kehormatan. Tradisi ini menegaskan bahwa keberanian dan kehormatan dapat berjalan seiring persatuan dan nilai budaya.
Penutup
Tari presean mencerminkan keberanian, kehormatan, dan sportivitas pria Lombok tanpa menghilangkan nilai kebersamaan. Tradisi ini menunjukkan bahwa adu ketangkasan dapat berjalan berdampingan dengan persaudaraan dan nilai budaya yang luhur.
Simak berita budaya dan tarian tradisional menarik lainnya di Negeri Kami. Temukan juga ragam cerita inspiratif seputar warisan budaya Nusa Tenggara Barat dan Indonesia.



